animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Jumat, 25 September 2020

Sketsa Hati dalam Sketchbook

 

“…Aku dan kamu bukanlah sepasang tanya dan jawaban

Jangankan jawaban, menjadi pilihan saja tidak .”

 

Menulis kisah ini sejujurnya tak sekedar menulis. Bukan hanya ingatanku yang dibawa kembali pada pesan-pesan sakral yang membuat dadaku terguncang hebat menahan isak. Perasaanku yang pernah sedemikian dalam dan berakhir ironi. Seperti berada dalam titik nol. Aku dibawa kembali. Kembali seolah baru kemarin aku membaca kalimat yang dibuka dengan kata “maaf” itu.

Memperjuangkan cinta seorang laki-laki barangkali bukan pertama kali terjadi pada kehidupanku. Mereka yang pernah mendengar ceritaku yang paham betul bagaimana jungkir balik kisah cintaku yang tak sampai-sampai. Melalui tulisan ini, izinkanku mendokumentasikan petah hati sebenar-benar patah harapku pada kisah cinta yang tak pernah berujung manis.

Sebelum-sebelum ini aku pernah menuliskan secuil kisah tatkala aku sedang dimabuk anggur asmara berwarna merah jambu. Dengan hati yang berbunga-bunga bermekaran di taman. Saat dimana pada akhir menjelang  berakhirnya masa study S1 ku, aku memutuskan bahwa aku jatuh hati padanya. Pada dia yang sejak lama mengisi hari-hariku sekalipun intensitas kehadirannya tak menentu. Datang dan pergi bagai musim pancaroba. Hingga akhirnya aku mantap berkomitmen pada hatiku yang saat itu tengah butuh suntikan semangat untuk menyelesaikan skripsiku, “iya, aku jatuh cinta pada dia dan akan memperjuangkan cintaku kali ini. Setelah aku selesai sidang skripsi aku akan jujur padanya.”

Aku menepati komitmen itu. Beberapa hari setelah sidang skripsi aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya. Dengan cara yang tak biasa. Dengan cara yang bagiku itu kejutan. Aku menuliskan segala isi hati yang selama ini kupendam padanya. Bagaimana awal mula kita saling mengenal. Pada tempat-tempat dimana kita pernah tak sengaja bertemu atau sengaja mengobrol bersama. Kutulis segala merah kuning hatiku setiap kali bertemu dengannya. Aku masih mengingat betul waktu saat aku berkesempatan membuat cerita bersejarah bersamanya. Sesederhana dan setidakpenting apapun aku tuliskan.

September 2018, beberapa hari setelah ulang tahunku ke 23 tahun kukirim buku harian itu. Sebuah buku sketsa yang telah penuh dengan tulisan tanganku dan beberapa kutempelkan foto kita berdua saat dia wisuda. Kukirim melalui kurir J&T ke alamat rumahnya. Aku bermaksud tidak menanyakan perihal bagaimana tanggapannya atau lebih tepatnya jawabannya. Ahhh, sekedar sudah dibaca atau belum saja.

Tak menunggu lama, sudah ada pemberitahuan dari kurir ekspedisi bahwa paket itu telah sukses dikirim. Aku bersikap biasa pada setiap obrolan yang kita lakukan di WA. Dia juga tak menyinggung apa-apa. Hanya berceletuk –entah sengaja atau tidak-. Begini, “paketnya dibuka ibuku. Tiba-tiba ibuku menanyakan tentang pernikahan sejak menyerahkan paket itu.” Hanya sebatas itu. Berikutnya, dia tidak pernah lagi membahas. Padahal di balik sana, degup jantungku sedang tak berirama normal. Lebih kencang dari biasanya. Sementara itu ada secercah harapan yang mulai kubangun. GR, hujat orang-orang padaku. Mereka seperti tak pernah berada di posisiku saja.

Hari demi hari berganti. Entah sudah berapa kali kupandang bentuk bulan yang terus berubah. Dari sabit ketemu purnama hingga sabit lagi. Tak sedikitpun dia mengajakku berbicara serius atau sekedar menyinggung isi buku iku. Sampai kemudian sahabatku terus saja mencercaku dengan pertanyaan perihal buku aku. Mengapa justru sahabatku yang penasaran. Padahal niat awalku adalah sekedar ingin memberitahu dia. Tanpa harapan lebih.

“Bagaimana apa sudah dibaca?” Pertanyaan yang juga mengundang tanyaku.

Sampai tahun berganti dan kebetulan dia berulang tahun di Januari. Aku meminta izinnya untuk bertanya suatu hal. Dengan sangat hati-hati kutanyakan, apakah kirimanku sudah dibaca atau belum. Hanya satu kata yang dia tuliskan, “belum”. Aku tak bertanya apa alasannya tulisan semenarik itu, hasil karya tangan dan hati secara bersamaan tidak dibaca setelah beberapa bulan diterima. Kudapatkan kepastian bahwa buku catatan itu belum dibaca oleh si tertuju. Ok, baik.

Sahabatku merasa ada yang ganjil. Pun aku. Aku masih memiliki Tuhan sebagai alasan mengapa aku berprasangka baik.

Selang beberapa bulan jawaban ‘belum’ itu, aku kembali melontarkan tanya yang sama. Jawabannya masih sama. Entah itu berulang sampai berapa kali dan dengan interval berapa bulan. Sejujurnya aku mulai bisa menebak jawaban akhir atas tanya-tanya yang kuulang itu. Tebakan yang membuat prasangkaku menuju benar. Tapi, aku tak ingin menyimpulkan lebih dini. Jujur, aku belum siap mendapatkan jawaban yang jauh dari ekspektasiku. Terlebih, setelah aku menunggu sekian purnama ini.

Oh ya, di hari ulang tahunnya aku mengirim buku karangan penulis idolanya “Neil Gaiman”. Aku lupa judulnya apa karena, ini bukan pertama kalinya aku mengiriminya buku. Sebelumnya buku karangan penulis yang sama sudah pernah kuhadiahkan padanya. Beberapa hari setelah itu kami berencana akan mengurus file skripsi yang belum sempat kami cetak. Aku dan dia membuat janji akan bertemu di sebuah toko buku, Togamas.

Dengan degup jantung yang terus saja liar, aku meninggalkan perasaanku sejenak di kamar itu. Kuberanikan melangkah tanpa grogi. Biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Kita duduk saling berhadapan. (Bersambung)


2 komentar:

  1. Sabar ya Kak, penulisnya masih tarik nafas panjang sekali supaya bisa mengikhlaskan

    BalasHapus