animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 25 April 2021

Mengungkap Rahasia Sketchbook: Jawabannya Maaf!

 


Oleh: Debby Pratiwi



Malam itu kukenakan gamis merah mudaku. Sengaja kukenakan jilbab segiempat warna senada agak sedikit lebar. Aku memilih duduk di bangku foodcourt dekat tiang yang ada stop kontaknya. Karena kupikir sebagaimana tujuan pertemuan kita, aku dan dia sepakat akan menyelesaikan skripsi supaya lekas bisa mengambil ijazah yang telah beberapa purnama tertahan di kampus.

Berapa menit setalah aku menunggu, ia menghampiriku. Tentu saja aku berusaha bersikap sebiasa mungkin. Lazimnya bertemu dengan teman lama. Aku telah berkomitmen untuk meninggalkan semua perasaan tak biasaku di lemari asramaku. Aku tak mau menodai pertemuan langkaku denganya hanya karena perasaan yang belum tentu membuat dia nyaman.

Ia datang dengan kemeja putih bermotif monokrom tentu saja kancing atas dikancingkan seperti biasa sehingga nampak rapi. Rambutnya berantakan sedikit gondrong, tidak serapi bajunya. Saat itu aku ingin bilang, “Mas, kau jelek. Lebih ganteng jika rambutmu kau potong dan kau rapikan.” Sayangnya kalimat itu hanya sampai pada batinku, tidak sampai kulisankan.

Apa yang kita bicarakan malam itu, sungguh aku benar-benar tak dapat mengingatnya dengan detail. Aku hanya ingat kita berbicara tentang skripsi, dosen, serta masalah-masalah yang seolah menjadi sejarah yang terus berulang saban tahun. Panjang. Lumayan. Hingga akhirnya laptop yang kubawa tak berguna sama sekali. Sekadar menjadi saksi bisu obrolan kita. Sepertinya pada saat yang bersamaan kita mulai kehilangan topik pembicaraan. Kita mulai saling menatap layar monitor ponsel masing-masing. Puncaknya dia berbicara dengan teman perempuannya melalui video call. Aku bingung malam itu. Apa yang mesti kulakukan. Kuputuskan masuk dan naik ke lantai dua toko buku itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya tak kubutuhkan. Bagaimana bisa aku fokus sedang berjuta tanya terbang-terbang di kepalaku. Tentang siapa, ada hubungan apa, haruskah dengan cara ini menyatakan sebuah penolakan? Aku masih berusaha menetralisir hatiku.

Toko buku telah memberikan peringatan bahwa sebentar lagi akan tutup. Akupun bergegas membayar item yang tadi telah kupilih. Lalu turun dengan hati yang telah kusiapkan. Aku kembali duduk di hadapannya. Melanjutkan pembicaraan kami. Dia menawarkan ajakan untuk nongkrong bersama teman seangkatan yang juga menyelesaikan skripsi. Kita tak tau pasti di mana lokasi tempat mereka bertemu. Dia tak tau seluk-beluk jalanan dekat toko buku itu. Sampai pada akhirnya dia mengikuti dari belakang. Begitu sampai di dekat Poltekkes dia mulai mengenali jalanan. Dia menyalipku. Kami terpisah karena lampu merah. Aku memilih menuju kampus, barangkali dia menungguku di sana. Mengingat hari sudah malam. Cukup rawan untukku berjalan seorangan.

Beberapa menit berlalu, dia tak membaca pesan WhatsAppku. Terakhir dia hanya membagikan google maps tempat mereka berjanjian. Kucoba mengikuti petunjuk arah itu. Kupacu motor merahku ke arah jalan Merr sembari aku menoleh ke kiri barangkali kulihat dia. Nihil. Hanya warung kopi yang penuh dengan pengunjung laki-laki yang memenuhi. Penuh asap rokok dan kopi di depannya. Dua kali aku memutarbalik motorku, barangkali terlewatkan. Tidak. Aku tak menemukan dia. Aku juga tak mungkin membuka HP di jalanan yang konon rawan jambret itu. Akhirnya kuputuskan pulang ke asrama dengan segala kecewa sebagai oleh-olehnya.

“Lebih baik diabaikan karena ditinggal membaca buku daripada ditinggal video call. Sama teman ceweknya lagi.”

Kurang lebih begitulah tulisanku di Whatsapp story. Tulisan yang pada akhirnya berbuntut perdebatan panjang. Tentang bagaimana ia membandingkan intensitas mengobrol denganku dan dengan teman perempuannya.

Tak bisa lagi kutahan bahwa aku ‘cemburu’. Kunyatakan sejelas-jelasnya bahwa ini bukan lagi soal cemburu. Lebih dari itu. Tidak adakah penolakan dengan cara lain? Berbulan-bulan aku menunggunya untuk sekadar mau bertemu. Begitu sudah di depan mata harus disuguhkan dengan pemandangan sekaligus kenyataan yang menyempitkan ruang harapanku.

Lebih dari sekedar cemburu, ini soal menghargai. Tak bisakah perasaan perempuan yang bertahun-tahun melawan gengsi demi memperjuangkan cinta ini mendapat sedikit ruang? Kukira dengan mengatakan segala keberatanku itu membuatmu sedikit memberi celah untukku. Rupanya aku terlalu bodoh.

“Mohon maaf karena memilih itu juga sulit. Aku tidak mau memilih sedang suatu saat akupindah ke lain hati. Aku menghormati dan menghargaimu karena kamu telah mengungkapkan semua isi hatimu. Tapi, maaf. Bukan karena apa (terserah kamu mau mikir aku lelaki seperti apa) tapi, kenyataannya aku bahkan bingung akan menjawab apa. Karena fokusku untuk saat ini bukan untuk masalah asmara.”

“Memang aku pengecut untuk tidak bisa memutuskan harus menjawab apa. Aku serba salah saat itu. Karena aku tidak tahu harus bagaimana. Sangat egois jika aku hanya ingin semua berjalan seperti biasa. Karena sudah terlanjur ada perasaan di antara kita  maka,  semua tidak akan bisa seperti biasa. “

“Aku sudah berkali-kali sholat istikarah untuk itu karena memutuskan tidak seringan kelihatannya.”

“Aku bukan lelaki yang cepat memilih jawaban dan tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Seandainya saja aku bisa menjadi masa bodoh dan asal ceplas-ceplos maka, ini akan  menjadi sangat mudah. Sayangnya aku tidak.”

“Bahkan setiap kali kamu menulis story dan membahas ini aku sangat berfikir keras bagaimana mengembalikan keadaan seperti semula.” -SAM-

Dadaku bergemuruh hebat. Seperti ombak yang sedang mengguncang tenangnya lautan. Perasaanku bagai buih yang tersapu ke tengah lautan lalu dalam sekejab aku sudah sampai di bibir pantai. Sebentar dan terus berulang. Sepanjang mengenalnya barangkali itu adalah jawaban terpanjang yang pernah ia lontarkan melalui pesan WhatsAppnya. Jawaban gamblang yang semestinya cukup menjawab semua pertanyaanku selama bertahun-tahun ini.

Pasca itu, aku berusaha sebiasa mungkin. Tak lagi terlalu membahas tentang perasaanku yang sejujurnya enggan berubah apalagi berpindah ke lain hati. Andai bisa tentu seketika telah kulakukan sejak dulu.

Tiba-tiba aku berinisiatif menanyakan apakah sketchbook yang kukirim beberapa purnama lalu telah usai dibaca. Lagi-lagi ia menjawab “belum”. Ini adalah belum yang kesekian yang umpama kumakan mungkin aku sudah kenyang. Ia menanggapinya tenang, sedang aku cemas.

Kubilang, “Kau ketawa lepas dan aku cemas!”

“Jangan cemas!” Katamu.

Ramadhan 2019 tiba. Aku masih seriing menanyakan kabarnya. Ia lelah karena harus menyiapkan kegiatan PMI. Dan sepanjang ramadhan itu aku tak pernah melewatkan waktu untuk mengirim ucapan selamat berbuka. Sebulan kukirim pesan itu. Terlupa beberapa kali saja. Tentu saja aku masa bodoh dengan apakah dia akan membalas pesanku itu. Kukira hati manusia layaknya batu. Sekeras apapun akan lapuk karena tetes air hujan. Blasssssss, mulai detik itu kusimpulkan bahwa hati makhluk hidup bernama lelaki lebih keras dari batu. Tidak bisa tidak.

25 Mei 2019

“Mas, aku di PMI.”

Iya, aku mengantar adik tingkatku donor darah di PMI. Tempat doi berkegiatan selama beberapa tahun terakhir. Dia dengan baju koko putih lengan panjang dan kacamata pemikat hatiku, menghampiriku. Mempersilakan kami makan karena katanya masakan itu adalah hasil karyanya. Melihatnya bermain gitar dan menyanyi bersama teman-temannya. Kadang ku membayangkan, andai aku bisa sedekat itu dengannya. Setiap kali bertemu aku sengaja mencuri fotonya diam-diam karena siapa tau itu akan menjadi pertemuan terakhir kita. Oh ya, malam itu juga aku dengan terus terang berani mengajaknya foto bersama. Bersama dua adik tingkatku tentunya.

Aku masih tak ingin berhenti. Berbagai upaya kulakukan untuk membuat kenangan bersamanya. Kuajak buka bersama hingga naik gunung. Nihil. Semua ditolak dengan berbagai alasan yang itu-itu saja.

Aku berada di titik kebosanan atas ketidakjelasan ini. Atau kejelasan yang justru berusaha kumustahilkan. Aku butuh kepastian. Aku sudah siap pun jika pada akhirnya dia memilih mematahkan hatiku seketika ini juga. Mungkin aku akan sakit dan sedih berkepanjangan. Mengingat durasi proses ku mencintainya hingga detik itu memang cukup lama. Aku tak mau lagi menunda keputusannya. Jika memang ada sedikit ruang, akan kuperjuangkan sampai kita menikah. Jika memang benar-benar nihil, biar segera kuobati luka yang tak terlihat oleh mata ini namun, nyata merusak batinku.

“Kadang-kadang tidak semua rasa itu diciptakan untuk saling berbalas, yaaa?! Seperti kiri dan kanan yang tidak selalu melangkah bersamaan.” Setidaknya itulah yang kualami.


“Jika ada yang lebih baik dari sekadar balasan atas perasaan terpendam bertahun-tahun, mungkin hal itu bernama ‘merelakan’. Sekalipun sejauh ini merelakan adalah perkara yang teramat sulit bagi mereka yang cintanya masih egois. Mungkin aku termasuk di antara yang egois itu.”

“Aku gagal membaca dan menerjemahkan pesanmu, Januari lalu. Saat aku terpaksa protes karena sebuah hal yang kupermasalahkan. Kemudian, aku datang pada Tuhan. Meminta kepastian di antara "ya" dan "tidak". Seperti yang juga pernah kuminta. Tapi, hingga saat ini mengapa hanya kamu satu²nya yg tergambar ketika mereka mengajak berdiskusi tentang urusan hati, masa depan, hingga pernikahan.”

“Kemudian, aku datang pada beberapa orang yang kuanggap paling kupercaya untuk tau ceritaku tentangmu. Jawaban mereka berbeda. Mereka berusaha meluruskan logikaku yang mereka anggap telah bengkok karena terlalu mencintai lelaki seperti engkau. Sebagian dari mereka menjudge  aku sebagai perempuan gila yang kehilangan 'harga diri' hanya karena aku mengatakan kepadamu bahwa aku menyimpan rasa selama beberapa bilangan tahun.”

“Dan apakah ada yang salah ketika seorang perempuan mencoba memperjuangkan sesuatu yang bertahun-tahun lamanya hanya dipendam sendirian dibalik tulisannya dan rahasianya dengan Tuhan? Mana yang harus kupercaya?”

“Keyakinan dalam diriku ataukah memang benar kata mereka bahwa aku tidak pernah memiliki arti apa-apa dalam hidupmu bahkan lewat kalimatmu saat itu kau sedang mengisyaratkan bahwa kau sedang menolak dengan cara yang halus???”

“Katakanlah kebenaran itu!”

“Hanya kamu yang tau jawabannya... Hampir setahun aku menunggu kau membuka tabir itu... Aku tau, diam adalah emas. Tapi, bicaramu adalah jawaban yang kutunggu-tunggu untuk keberlanjutan kehidupanku ke depan.”

Pesan itu benar-benar kusampaikan padanya. Aku mulai menyalakan genderang perang. Perang antara keyakinanku, kata orang, dan kenyataan darinya.

“Maaf”, ia mengawalinya kepastian itu dengan maaf. Seolah ia telah membuat kesalahan besar dalam hidupku. Ya memang benar. Dia telah menghidupkan keyakinanku tentang cinta dan kembali memberikan tinta hitam sekali lagi pada lembaran kisah cintaku.

“Baik, terima kasih. Maafmu sudah mewakili jawabanmu. Barangkali mulai saat ini aku harus bersiap membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di hari nanti. Semoga tetap sudi menjadi temanku, ya meski belum bisa jadi teman hidup.” Balasku sebelum ia selesai mengetik.

“Kenapa aku menghindar? Karena aku takut saat dekat maka harapanmu akan muncul. Akan tetapi jika kamu bisa mengesampingkan perasaan dan datang sebagai teman atau sahabat aku akan senang hati.” Lanjutnya.

Sampai di situ aku benar-benar memastikan bahwa tidak pernah ada harapan yang sudi ia percayakan padaku. Bagimu, wahai pecinta, mencintailah sebagaimana kasih ibu. Bagai kasih sang surya pada dunia. Memberi tanpa mengharap kembali.

Selepas pil pahit itu, pada purnama kesebelas tahun 2019 tepat saat Bulan Film Surabaya dia menawariku ajakan menonton film gratis. Film yang telah lama sangat ingin kutonton, “Kucumbu Tubuh Indahku”. Kami bertemu di gedung bioskop BG Junction. Sepintas tanpa basa-basi. Kami tak sebangku. Duduk berjauhan. Butuh waktu bagiku dan baginya untuk menetralisir rasa. Aku paham, dia mungkin juga mengerti. Kami bertemu di lift saat akan pulang. Kemudian berpisah setelah keluar dari lift.

Ajakan berikutnya datang beberapa hari setelah ajakan nonton film gratis itu. Kali ini ke Pengajian Bambang Wetan Cak Nun. Aku menunggunya lama di parkiran motor Kampus C UNAIR. Setelah menunggu hampir sejam, dia mengabarkan jika sudah duduk di depan panggung. Aku masih bingung mencari tempat duduk. Sedang suasana begitu ramai. Tempat duduk penuh. Ia menawariku duduk di sampingnya namun, hanya untuk satu orang. Bagaimana bisa aku duduk di sebelahnya sedang aku membawa teman. Sampai pengajian bubar, tak ada iktikad baiknya menemuiku. Paling tidak maaf karena sudah menunggu namun, malah ditinggal. Membiarku perempuan pulang sendiri lewat tengah malam.

Diskusi panjang kita berlanjut di obrolan WhatsApp tentang berbagai topik. Agak membaik tapi, belum benar-benar baik sesungguhnya. Tapi, inilah ikhtiarku memperbaiki sebuah hubungan. Tetap berkomunikasi tanpa harus memaksakan diri untuk move on cepat-cepat. Kubiarkan hatiku berjalan sesuai ritmenya karena sesuatu yang dipaksakan justru semakin meninggalkan luka. Akan tiba masanya di mana Tuhan bosan melihatku memperjuangkan cinta yang tak bisa diperjuangkan. Lalu Dia menamparku dengan penuh cinta sembari berkata, “Nak, cukup. Kau sudah terlalu lelah.”

Benar saja, hubungan kami sedikit memburuk sejak diskusi panas kami tentang Gerakan Feminisme. Ia mengintervensiku untuk tak ikut-ikutan berkoar tentang kesetaraan. Ia tak mau menerima pendapatku dan ia memandang perempuan dengan kacamata patriarki. Aku tak bisa menerima pemikiran tak adil semacam itu. Aku berontak. Barangkali inilah tamparan yang kumaksud itu.

Renggang dan berjarak sudah aku dan dia. Belakangan kutahu ia telah memiliki seorang pacar. Pacar yang beruntung semoga. Aku turut meyakinkan hatinya agar tak mengulang hal yang sama sebagaimana yang pernah kuterima darinya. (25/04/21)

Jumat, 25 September 2020

Sketsa Hati dalam Sketchbook

 

“…Aku dan kamu bukanlah sepasang tanya dan jawaban

Jangankan jawaban, menjadi pilihan saja tidak .”

 

Menulis kisah ini sejujurnya tak sekedar menulis. Bukan hanya ingatanku yang dibawa kembali pada pesan-pesan sakral yang membuat dadaku terguncang hebat menahan isak. Perasaanku yang pernah sedemikian dalam dan berakhir ironi. Seperti berada dalam titik nol. Aku dibawa kembali. Kembali seolah baru kemarin aku membaca kalimat yang dibuka dengan kata “maaf” itu.

Memperjuangkan cinta seorang laki-laki barangkali bukan pertama kali terjadi pada kehidupanku. Mereka yang pernah mendengar ceritaku yang paham betul bagaimana jungkir balik kisah cintaku yang tak sampai-sampai. Melalui tulisan ini, izinkanku mendokumentasikan petah hati sebenar-benar patah harapku pada kisah cinta yang tak pernah berujung manis.

Sebelum-sebelum ini aku pernah menuliskan secuil kisah tatkala aku sedang dimabuk anggur asmara berwarna merah jambu. Dengan hati yang berbunga-bunga bermekaran di taman. Saat dimana pada akhir menjelang  berakhirnya masa study S1 ku, aku memutuskan bahwa aku jatuh hati padanya. Pada dia yang sejak lama mengisi hari-hariku sekalipun intensitas kehadirannya tak menentu. Datang dan pergi bagai musim pancaroba. Hingga akhirnya aku mantap berkomitmen pada hatiku yang saat itu tengah butuh suntikan semangat untuk menyelesaikan skripsiku, “iya, aku jatuh cinta pada dia dan akan memperjuangkan cintaku kali ini. Setelah aku selesai sidang skripsi aku akan jujur padanya.”

Aku menepati komitmen itu. Beberapa hari setelah sidang skripsi aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya. Dengan cara yang tak biasa. Dengan cara yang bagiku itu kejutan. Aku menuliskan segala isi hati yang selama ini kupendam padanya. Bagaimana awal mula kita saling mengenal. Pada tempat-tempat dimana kita pernah tak sengaja bertemu atau sengaja mengobrol bersama. Kutulis segala merah kuning hatiku setiap kali bertemu dengannya. Aku masih mengingat betul waktu saat aku berkesempatan membuat cerita bersejarah bersamanya. Sesederhana dan setidakpenting apapun aku tuliskan.

September 2018, beberapa hari setelah ulang tahunku ke 23 tahun kukirim buku harian itu. Sebuah buku sketsa yang telah penuh dengan tulisan tanganku dan beberapa kutempelkan foto kita berdua saat dia wisuda. Kukirim melalui kurir J&T ke alamat rumahnya. Aku bermaksud tidak menanyakan perihal bagaimana tanggapannya atau lebih tepatnya jawabannya. Ahhh, sekedar sudah dibaca atau belum saja.

Tak menunggu lama, sudah ada pemberitahuan dari kurir ekspedisi bahwa paket itu telah sukses dikirim. Aku bersikap biasa pada setiap obrolan yang kita lakukan di WA. Dia juga tak menyinggung apa-apa. Hanya berceletuk –entah sengaja atau tidak-. Begini, “paketnya dibuka ibuku. Tiba-tiba ibuku menanyakan tentang pernikahan sejak menyerahkan paket itu.” Hanya sebatas itu. Berikutnya, dia tidak pernah lagi membahas. Padahal di balik sana, degup jantungku sedang tak berirama normal. Lebih kencang dari biasanya. Sementara itu ada secercah harapan yang mulai kubangun. GR, hujat orang-orang padaku. Mereka seperti tak pernah berada di posisiku saja.

Hari demi hari berganti. Entah sudah berapa kali kupandang bentuk bulan yang terus berubah. Dari sabit ketemu purnama hingga sabit lagi. Tak sedikitpun dia mengajakku berbicara serius atau sekedar menyinggung isi buku iku. Sampai kemudian sahabatku terus saja mencercaku dengan pertanyaan perihal buku aku. Mengapa justru sahabatku yang penasaran. Padahal niat awalku adalah sekedar ingin memberitahu dia. Tanpa harapan lebih.

“Bagaimana apa sudah dibaca?” Pertanyaan yang juga mengundang tanyaku.

Sampai tahun berganti dan kebetulan dia berulang tahun di Januari. Aku meminta izinnya untuk bertanya suatu hal. Dengan sangat hati-hati kutanyakan, apakah kirimanku sudah dibaca atau belum. Hanya satu kata yang dia tuliskan, “belum”. Aku tak bertanya apa alasannya tulisan semenarik itu, hasil karya tangan dan hati secara bersamaan tidak dibaca setelah beberapa bulan diterima. Kudapatkan kepastian bahwa buku catatan itu belum dibaca oleh si tertuju. Ok, baik.

Sahabatku merasa ada yang ganjil. Pun aku. Aku masih memiliki Tuhan sebagai alasan mengapa aku berprasangka baik.

Selang beberapa bulan jawaban ‘belum’ itu, aku kembali melontarkan tanya yang sama. Jawabannya masih sama. Entah itu berulang sampai berapa kali dan dengan interval berapa bulan. Sejujurnya aku mulai bisa menebak jawaban akhir atas tanya-tanya yang kuulang itu. Tebakan yang membuat prasangkaku menuju benar. Tapi, aku tak ingin menyimpulkan lebih dini. Jujur, aku belum siap mendapatkan jawaban yang jauh dari ekspektasiku. Terlebih, setelah aku menunggu sekian purnama ini.

Oh ya, di hari ulang tahunnya aku mengirim buku karangan penulis idolanya “Neil Gaiman”. Aku lupa judulnya apa karena, ini bukan pertama kalinya aku mengiriminya buku. Sebelumnya buku karangan penulis yang sama sudah pernah kuhadiahkan padanya. Beberapa hari setelah itu kami berencana akan mengurus file skripsi yang belum sempat kami cetak. Aku dan dia membuat janji akan bertemu di sebuah toko buku, Togamas.

Dengan degup jantung yang terus saja liar, aku meninggalkan perasaanku sejenak di kamar itu. Kuberanikan melangkah tanpa grogi. Biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa. Kita duduk saling berhadapan. (Bersambung)


Minggu, 26 April 2020

Menapakkan Kaki di Jalanan Ibukota : Perjalanan Mengikuti Seleksi Pengajar Muda


Oleh: Debby Pratiwi

“Hiduplah dengan mimpi-mimpi yang terus menghidupkan setiap langkah perjuanganmu. Mimpi itu akan mengantarkanmu pada kenyataan yang tidak akan pernah kau sesali. Kenyataan buruk sekalipun. Bermimpilah karena kita harus merubah hidup.”
Pengalaman adalah guru terbaik. Begitu kata pepatah. Klise memang namun, aku tak butuh alasan untuk menuliskan kembali perjalanan berharga dan berkesan itu. Sudah terlewat lama tapi, inilah caraku mengikat kenangan sekaligus mengikat ingatan. Kelak jika aku mulai lelah berjuang tulisan ini akan bercerita kepadaku bagaimana dulu seorang “Debby” pernah berjuang senekat itu.
Jakarta barangkali bukan kota yang asing untukku, penduduk Indonesia. Jakarta sebenarnya tak pernah ada dalam draf destinasiku. Baik itu destinasi cita-cita atau sekedar destinasi untuk jalan-jalan semata. Mendengar kata “Jakarta” saja rasanya sudah sumpek. Sarat akan kemacetan dan berbagai problematika sosial. Segalanya ada di Jakarta. Hingar-bingar kota Metropolitan hingga kota yang kumuh dan tak pernah lepas dari berbagai kejahatan.
Kata orang, Ibukota itu “Keras, Kejam” dan ribuan konotasi negatif lainnya.
Tapi, justru menjadi daya tarik bagi banyak orang.  Barangkali ibukota bagi beberapa orang menjadi magnet tersendiri. Entah untuk urusan ekonomi maupun maksud lainnya.
Untuk yang pertama kalinya, hari itu aku benar-benar menginjakkan kaki di Jakarta. Ibukota negaraku, Indonesia. Selama hampir 24 tahun, nyaris Jakarta tak pernah asing di telingaku. Segala hiruk pikuk hingga modernisasinya. Segala masalah, kriminalitas, hingga kebebasan dan segala sesuatu yang katanya serba ada.
Kereta Api KERTAJAYA membawaku dari Stasiun Pasar Turi hingga Stasiun Pasar Senen selama hampir 12 jam. Perasaan was-was bercampur aduk menjadi satu dengan kebingungan dan ketakutan-ketakutan lengkap beserta prasangka pada kanan dan kiri yang seolah mengancam.  Aku selebay itu. Kacamataku terlalu gelap untuk segala hal yang ada di ibukota.
Stasiun Pasar Senen menyambutku dengan pemandangan aneh. "Ini stasiun kok gini yaaa?? Rame banget, berjubel banget, buat keluar saja kok harus turun tangga melewati terowongan sempit terus naik lagi sih??!!" Batinku. Seolah semakin membenarkan prasangkaku sejak jauh-jauh hari.  Di luar Stasiun, busway dan bajaj berjejer, OJOL sriwat-sriwet mengejar  penumpang kereta yang baru turun. Menawari jasa ojek offline sembari terus mencerca, "mau kemana mbak? Disini gak bisa pesen online mbak? 20 ribu aja ke tanah abang." Masa bodoh aku takut, sembari menunggu grabku nyantol ke driver kujawab dengan PD, "enggak pak, sudah dijemput! Lagi otw kesini."
Jakarta begitu asing dalam realita perjalananku. Begitu tiba dan menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen, rasa takut, grogi, was-was, beserta teman-temannya seperti sedang mencercaku. Sepertinya kata-kata "Jakarta itu keras" berlaku pada hari itu. Untung saja ada adik yang kutemui saat Amil Camp di Jogja beberapa bulan lalu yang telah menunggu di sebuah tempat terindah di Tanah Abang. Tempat yang menjadi penginapanku selama di Jakarta. Betapa teman-teman Lizta amat baik, welcome, dan humble banget. Merasa mendapatkan teman baru dan saudara baru selama di Jakarta. "Bersama Lizta, Jakarta ternyata melunak. Tidak lagi keras seperti kata orang-orang."
Terima kasih Lizta sayang!
Aku ke Jakarta bukan tanpa tujuan. Jakarta adalah pilihan satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengikuti seleksi tahap II sebuah program pengabdian ke pedalaman Indonesia. Iya, dirrect assessment. Namaku tercantum dalam 200 besar dari 10 ribu lebih lebih pendaftar pada tahap I. Betapa aku amat terkejut sekaligus tidak percaya. Mengingat program itu adalah salah satu program yang ada dalam daftar cita-citaku sejak SMK.
Indonesia Mengajar bukanlah sembarang program. Pengabdiannya juga tak sebulan dua bulan. Melainkan satu tahun penempatan. Tentu itu menjadi tantangan tersendiri untukku. Impianku menjadi pengajar telah terpatri sejak usiaku masih belia. Aku termotivasi perjuangan kakak sepupuku di ujung timur Indonesia (red: Merauke) yang menjadi guru agama di sana. Kakakku sering bercerita tentang pengalamannya yang tak mudah menjadi guru di daerah yang kesadaran masyarakatnya akan pendidikan masih minim. Belum lagi sarana prasarana yang belum memadai. Tentu itu menjadi paket lengkap.
Keesokannya, pagi buta aku berangkat ke IPMI International Bussiness School yang merupakan lokasi pelaksanaan dirrect assessment tahap II ini.
Wajar saja jika awal-awal seleksi akan dimulai sempat aku mendengar cuitan dari beberapa teman bahwa proses yang akan kita jalani selama sehari full ini bias dibilang cukup menantang. Di sana kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk setiap tahap. Dimulai dari  Focus Group Discussion (FGD), audiensi, psikotes, micro teaching, hingga wawancara. Aku menjalaninya dengan penuh percaya diri dan optimis. Aku tak mau kalah saat terpaksa beradu argument dengan teman-teman sekelompokku. Karena besar harapankubisa melaju ke tahap selanjutnya.
Pada saat FGD, kami disuguhi dengan suatu permasalahan yang ada di daerah penempatan kemudian kami diminta menyepakati langkah manakah yang akan kita ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah FGD kami harus melakukan audiensi. Seolah kami ini adalah Pengajar Muda yang sudah ditempatkan di daerah kemudian kami akan mengajukan program kepada pemerintah setempat. Yang berperan sebagai pemerintah adalah para Pengajar Muda angkatan sebelumnya yang sudah selesai masa pengabdian. Perdebatan terjadi antara peserta dengan pemerintah. Program yang kami ajukan harus jelas maksud dan tujuannya bahkan dananya berapa dan siapa saja para pelakunya. Setelah itu kami berkumpul bersama untuk mengikuti rangkaian psikotes. Seperti biasa, ada tes grafis atau menggambar.
Kemudian kami kembali berkumpul setiap kelompok untuk melakukan simulasi micro teaching. Konon ini adalah bagian paling berat dari seleksi tahap II ini. Setiap peserta diberi tantangan masing-masing. Mulai dari siswa yang kebelet beol saat di kelas, siswa yang tiba-tiba adiknya ikut masuk ke kelas, ada penjual yang tiba-tiba masuk ke kelas, dan segalanya yang sangat out of the box. Yang terakhir adalah sesi wawancara. Kami masuk satu persatu berhadapan dengan pewawancara. Bagianku adalah bertemu dengan Bang Ucok. Sesosok unik berambut gondrong yang terlihat menakutkan tapi, sangat baik. Pertanyaan wawancara adalah pertanyaan seputar essay yang telah kukirim pada tahap pertama. Inilah tahap dimana kita harus bias meyakinkan orang bahwa kita mampu.
Pukul 17:00 WIB kegiatan baru selesai. Kami saling berfoto dan saling saling bertukar nomor WA hingga akun instagram untuk saling berkabar apabila nanti ada pengumuman lanjutan. Saling merajut komunikasi melalui media sosial.
Mereka sangat mengesankan meskipun kami hanya bertemu kurang dari 24 jam. Selepas itu kami saling berpamitan. Saling berhamburan menuju tempat tujuan masing-masing. Aku kembali ke Panti Asuhan tempatku menginap bersama Lizta.
Oh yaaa, sepanjang perjalanan selama di Jakarta aku suka tolah-toleh kanan-kiri ke atas. Gedung-gedung Jakarta lebih tinggi dari yang kubayangkan. Tidak bisa membayangkan bagaimana hidup diantara sesaknya bangunan yang saling balapan menyentuh langit. "Nggumun," batinku.
Tak hanya mengikuti proses seleksi. Aku juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Jakarta. Ke Kota Tua hingga ke Monumen Nasional (MONAS) yang merupakan ikon Kota Jakarta. Selain itu Lizta juga mengajakku menaiki KRL yaaa meskipun jaraknya dekat. Tapi, cukup  mengesankan untukku. Jakarta hingga malampun tetap ramai. Seandainya ada 25 jam barangkali Jakarta 25 jam tak tidur. Jalanan semakin malam semakin ramai. Orang-orang baru pulang kantor. Mereka membanjiri sepanjangan jalanan. Grand Indonesia, Thamrin City. Semuanya ramai  kerumunan manusia. Jakarta rupanya bisa membuatku rindu setelah kepulanganku bersama kereta api menuju Stasiun Pasar Turi.
Beberapa menit sebelum keberangkatan seorang teman mayaku juga menyempatkan diri untuk menemuiku. Dia adalah teman yang kukenal di facebook hingga whatsapp gara-gara seleksi SBMPTN beberapa tahun silam. Tak kusangka dia yang asli Makassar ini juga keluarga Muhammadiyah. Aku merasa bertemu saudara seideologiku. Dialah Adit. Sementara teman maya yang lain masih berhalangan hadir.
Kiranya itu pengalaman berhargaku yang bisa kubagi untuk kelak akan membangkitkan gairahku memperjuangkan cita-citaku, satu persatu. Terima kasih untuk ilmunya teman-teman seperjuangan. Kak Basa, Doni, Danish, Arum, Ocha. Semoga suatu hari nanti kita dapat bersua dan berdiskusi lagi seperti hari kemarin. Terima kasih Lizta beserta adik-adik pantinya dan Adit yang telah mengindahkan Jakarta untuk pendatang semacamku.
Jakarta, kadang-akan aku suka rindu. Sampai jumpa di seleksi berikutnya.

Sabtu, 25 April 2020

Hujan Tak Bermusim


Oleh: Debby Pratiwi
Ilustrasi: https://www.radarbogor.id/2020/04/16/prakiraan-cuaca-masih-hujan-sedang-hingga-lebat-di-bogor-sore-ini/

Ada yang bilang bahwa “waktu adalah obat yang paling mujarab”. Aku mau mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Ingin menjustifikasi pernyataan klasik yang masih asyik itu. Asyik, untuk sekedar menghibur aku yang pernah yakin bahwa “waktu akan meluluhkan kerasnya hatimu”.
Tak ada yang menyenangkan dari jatuh cinta sendiri. Seperti aku yang entah hingga tanggal berapa kemarin akhirnya memutuskan untuk “lelah, capek” berjuang sendirian. Apa aku cukup cemen setelah tahun-tahun yang telah kulewati dengan memperjuangkan hati yang sejak awal aku tak pernah yakin diberi kesempatan? Apa aku cukup payah karena mengatakan aku menyerah setelah malam-malamku sebelum ini kuhabiskan untuk memintanya tanpa lelah? Apa aku pengecut setelah aku melakukan semua yang out of the box lalu aku diam saja dan tidak mau mencoba mengetuk lagi?
Aku bahkan tidak perduli orang mengatakan aku ini “jalang” hanya karena aku memperjuangkan hati seorang lelaki idaman seperti pangeran-pangeran dalam imaginasiku atau seperti yang selalu kubaca dalam buku dongeng dimasa kecilku. Yang paling parah adalah laki-laki itu tak pernah terketuk hatinya.
Ternyata hati manusia itu berbeda dengan batu. Batu lapuk saat terkena tetesan air hujan sedangkan hati manusia itu adalah benda hidup. Ia tidak mudah lapuk seperti batu. Perasaanku,perjuanganku seperti sebuah hujan namun, ia tak pernah seperti batu. Lebih keras dari batu. Rupanya sekuat-kuatnya aku, aku tak lebih sabar dari hujan. Aku dan hujan tentu berbeda. Hujan hanya dating pada musimnya sedangkan aku tak pernah mengenal musim. Aku yang selalu ingin setiap saat menemanimu. Tak menunggu kemarau atau hujan dalam musim-musim di kehidupanmu.
Ada beberapa orang yang mendengar ceritaku dengan detail. Bagaimana aku pernah mencintai sangat dalam. Bagaimana aku pernah berjuang sekeras itu. Bagaimana aku pernah mencintai dengan penuh kedukaan. Betapa aku pernah menangis layaknya anak kecil di hadapan Tuhanku karena memintamu. Bagaimana aku melalui hari-hari setelah aku memutuskan untuk berhenti. Mereka tak menyangka. Kadang mereka juga menyalahkanmu. Tapi, aku melarangnya. Karena bagiku kau tetap orang baik yang mampu mempertahankan perasaanku hingga sejauh ini.
Bagaimana aku selalu mencoba tegar sembari membiarkan air mataku berguguran membayangkan jika kelak hal terburuk terjadi. Kamu menikah dengan orang lain. Lagi-lagi idealismeku menguatkanku,”mencintai itu tidak harus memiliki. Mencintai itu harus mempersembahkan bahagia untuk yang tercinta.” Keikhlasan yang coba kubangun dengan keyakinanku ini kuharap kelak akan menjadi kado terindah untuk kebahagiaannya yang genap. Insyaa Allah ….
Saat itu aku kan bilang kepada dunia. Bahwa mencintai bukanlah tentang waktu. Bukan siapa yang paling lama bertahan. Tapi, mencintai adalah adanya kesinambungan perasaan satu sama lain dengan satu tujuan yang sama. Berbeda itu boleh tapi, tujuan harus selalu sama bukan???
Sudah yaaa, sudah kembang-kempis ini dada beserta hidung dan mataku tiba-tiba sedikit gerimis. Hanya sedikit. Lebih banyak cinta yang kemarin pernah kupersembahkan.