Oleh: Debby Pratiwi
Malam
itu kukenakan gamis merah mudaku. Sengaja kukenakan jilbab segiempat warna
senada agak sedikit lebar. Aku memilih duduk di bangku foodcourt dekat tiang
yang ada stop kontaknya. Karena kupikir sebagaimana tujuan pertemuan kita, aku
dan dia sepakat akan menyelesaikan skripsi supaya lekas bisa mengambil ijazah
yang telah beberapa purnama tertahan di kampus.
Berapa
menit setalah aku menunggu, ia menghampiriku. Tentu saja aku berusaha bersikap
sebiasa mungkin. Lazimnya bertemu dengan teman lama. Aku telah berkomitmen
untuk meninggalkan semua perasaan tak biasaku di lemari asramaku. Aku tak mau
menodai pertemuan langkaku denganya hanya karena perasaan yang belum tentu
membuat dia nyaman.
Ia
datang dengan kemeja putih bermotif monokrom tentu saja kancing atas
dikancingkan seperti biasa sehingga nampak rapi. Rambutnya berantakan sedikit
gondrong, tidak serapi bajunya. Saat itu aku ingin bilang, “Mas, kau jelek.
Lebih ganteng jika rambutmu kau potong dan kau rapikan.” Sayangnya kalimat itu
hanya sampai pada batinku, tidak sampai kulisankan.
Apa
yang kita bicarakan malam itu, sungguh aku benar-benar tak dapat mengingatnya
dengan detail. Aku hanya ingat kita berbicara tentang skripsi, dosen, serta
masalah-masalah yang seolah menjadi sejarah yang terus berulang saban tahun.
Panjang. Lumayan. Hingga akhirnya laptop yang kubawa tak berguna sama sekali.
Sekadar menjadi saksi bisu obrolan kita. Sepertinya pada saat yang bersamaan
kita mulai kehilangan topik pembicaraan. Kita mulai saling menatap layar
monitor ponsel masing-masing. Puncaknya dia berbicara dengan teman perempuannya
melalui video call. Aku bingung malam itu. Apa yang mesti kulakukan. Kuputuskan
masuk dan naik ke lantai dua toko buku itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya tak
kubutuhkan. Bagaimana bisa aku fokus sedang berjuta tanya terbang-terbang di
kepalaku. Tentang siapa, ada hubungan apa, haruskah dengan cara ini menyatakan
sebuah penolakan? Aku masih berusaha menetralisir hatiku.
Toko
buku telah memberikan peringatan bahwa sebentar lagi akan tutup. Akupun bergegas
membayar item yang tadi telah kupilih. Lalu turun dengan hati yang telah kusiapkan.
Aku kembali duduk di hadapannya. Melanjutkan pembicaraan kami. Dia menawarkan
ajakan untuk nongkrong bersama teman seangkatan yang juga menyelesaikan
skripsi. Kita tak tau pasti di mana lokasi tempat mereka bertemu. Dia tak tau
seluk-beluk jalanan dekat toko buku itu. Sampai pada akhirnya dia mengikuti
dari belakang. Begitu sampai di dekat Poltekkes dia mulai mengenali jalanan.
Dia menyalipku. Kami terpisah karena lampu merah. Aku memilih menuju kampus,
barangkali dia menungguku di sana. Mengingat hari sudah malam. Cukup rawan
untukku berjalan seorangan.
Beberapa
menit berlalu, dia tak membaca pesan WhatsAppku. Terakhir dia hanya
membagikan google maps tempat mereka berjanjian. Kucoba mengikuti petunjuk arah
itu. Kupacu motor merahku ke arah jalan Merr sembari aku menoleh ke kiri
barangkali kulihat dia. Nihil. Hanya warung kopi yang penuh dengan pengunjung
laki-laki yang memenuhi. Penuh asap rokok dan kopi di depannya. Dua kali aku
memutarbalik motorku, barangkali terlewatkan. Tidak. Aku tak menemukan dia. Aku
juga tak mungkin membuka HP di jalanan yang konon rawan jambret itu. Akhirnya
kuputuskan pulang ke asrama dengan segala kecewa sebagai oleh-olehnya.
“Lebih
baik diabaikan karena ditinggal membaca buku daripada ditinggal video call.
Sama teman ceweknya lagi.”
Kurang
lebih begitulah tulisanku di Whatsapp story. Tulisan yang pada
akhirnya berbuntut perdebatan panjang. Tentang bagaimana ia membandingkan
intensitas mengobrol denganku dan dengan teman perempuannya.
Tak
bisa lagi kutahan bahwa aku ‘cemburu’. Kunyatakan sejelas-jelasnya bahwa ini
bukan lagi soal cemburu. Lebih dari itu. Tidak adakah penolakan dengan cara
lain? Berbulan-bulan aku menunggunya untuk sekadar mau bertemu. Begitu
sudah di depan mata harus disuguhkan dengan pemandangan sekaligus kenyataan
yang menyempitkan ruang harapanku.
Lebih
dari sekedar cemburu, ini soal menghargai. Tak bisakah perasaan perempuan yang
bertahun-tahun melawan gengsi demi memperjuangkan cinta ini mendapat sedikit
ruang? Kukira dengan mengatakan segala keberatanku itu membuatmu sedikit memberi
celah untukku. Rupanya aku terlalu bodoh.
“Mohon
maaf karena memilih itu juga sulit. Aku tidak mau memilih sedang suatu saat akupindah
ke lain hati. Aku menghormati dan menghargaimu karena kamu telah mengungkapkan semua
isi hatimu. Tapi, maaf. Bukan karena apa (terserah kamu mau mikir aku lelaki seperti
apa) tapi, kenyataannya aku bahkan bingung akan menjawab apa. Karena fokusku
untuk saat ini bukan untuk masalah asmara.”
“Memang
aku pengecut untuk tidak bisa memutuskan harus menjawab apa. Aku serba salah
saat itu. Karena aku tidak tahu harus bagaimana. Sangat egois jika aku hanya
ingin semua berjalan seperti biasa. Karena sudah terlanjur ada perasaan di
antara kita maka, semua tidak akan bisa seperti biasa. “
“Aku
sudah berkali-kali sholat istikarah untuk itu karena memutuskan tidak seringan
kelihatannya.”
“Aku
bukan lelaki yang cepat memilih jawaban dan tidak memikirkan bagaimana ke
depannya. Seandainya saja aku bisa menjadi masa bodoh dan asal ceplas-ceplos
maka, ini akan menjadi sangat mudah. Sayangnya
aku tidak.”
“Bahkan
setiap kali kamu menulis story dan membahas ini aku sangat berfikir keras
bagaimana mengembalikan keadaan seperti semula.” -SAM-
Dadaku
bergemuruh hebat. Seperti ombak yang sedang mengguncang tenangnya lautan. Perasaanku
bagai buih yang tersapu ke tengah lautan lalu dalam sekejab aku sudah sampai di
bibir pantai. Sebentar dan terus berulang. Sepanjang mengenalnya barangkali itu
adalah jawaban terpanjang yang pernah ia lontarkan melalui pesan WhatsAppnya.
Jawaban gamblang yang semestinya cukup menjawab semua pertanyaanku selama
bertahun-tahun ini.
Pasca
itu, aku berusaha sebiasa mungkin. Tak lagi terlalu membahas tentang perasaanku
yang sejujurnya enggan berubah apalagi berpindah ke lain hati. Andai bisa tentu
seketika telah kulakukan sejak dulu.
Tiba-tiba
aku berinisiatif menanyakan apakah sketchbook yang kukirim beberapa
purnama lalu telah usai dibaca. Lagi-lagi ia menjawab “belum”. Ini adalah belum
yang kesekian yang umpama kumakan mungkin aku sudah kenyang. Ia menanggapinya
tenang, sedang aku cemas.
Kubilang,
“Kau ketawa lepas dan aku cemas!”
“Jangan
cemas!” Katamu.
Ramadhan
2019 tiba. Aku masih seriing menanyakan kabarnya. Ia lelah karena harus menyiapkan
kegiatan PMI. Dan sepanjang ramadhan itu aku tak pernah melewatkan waktu untuk
mengirim ucapan selamat berbuka. Sebulan kukirim pesan itu. Terlupa beberapa
kali saja. Tentu saja aku masa bodoh dengan apakah dia akan membalas pesanku
itu. Kukira hati manusia layaknya batu. Sekeras apapun akan lapuk karena tetes
air hujan. Blasssssss, mulai detik itu kusimpulkan bahwa hati makhluk
hidup bernama lelaki lebih keras dari batu. Tidak bisa tidak.
25
Mei 2019
“Mas,
aku di PMI.”
Iya,
aku mengantar adik tingkatku donor darah di PMI. Tempat doi berkegiatan selama
beberapa tahun terakhir. Dia dengan baju koko putih lengan panjang dan kacamata
pemikat hatiku, menghampiriku. Mempersilakan kami makan karena katanya masakan
itu adalah hasil karyanya. Melihatnya bermain gitar dan menyanyi bersama
teman-temannya. Kadang ku membayangkan, andai aku bisa sedekat itu dengannya. Setiap
kali bertemu aku sengaja mencuri fotonya diam-diam karena siapa tau itu akan
menjadi pertemuan terakhir kita. Oh ya, malam itu juga aku dengan terus terang
berani mengajaknya foto bersama. Bersama dua adik tingkatku tentunya.
Aku
masih tak ingin berhenti. Berbagai upaya kulakukan untuk membuat kenangan
bersamanya. Kuajak buka bersama hingga naik gunung. Nihil. Semua ditolak dengan
berbagai alasan yang itu-itu saja.
Aku
berada di titik kebosanan atas ketidakjelasan ini. Atau kejelasan yang justru
berusaha kumustahilkan. Aku butuh kepastian. Aku sudah siap pun jika pada
akhirnya dia memilih mematahkan hatiku seketika ini juga. Mungkin aku akan
sakit dan sedih berkepanjangan. Mengingat durasi proses ku mencintainya hingga
detik itu memang cukup lama. Aku tak mau lagi menunda keputusannya. Jika memang
ada sedikit ruang, akan kuperjuangkan sampai kita menikah. Jika memang
benar-benar nihil, biar segera kuobati luka yang tak terlihat oleh mata ini
namun, nyata merusak batinku.
“Kadang-kadang
tidak semua rasa itu diciptakan untuk saling berbalas, yaaa?! Seperti kiri dan
kanan yang tidak selalu melangkah bersamaan.” Setidaknya itulah yang
kualami.
“Jika ada yang lebih baik dari sekadar balasan atas perasaan terpendam bertahun-tahun, mungkin hal itu bernama ‘merelakan’. Sekalipun sejauh ini merelakan adalah perkara yang teramat sulit bagi mereka yang cintanya masih egois. Mungkin aku termasuk di antara yang egois itu.”
“Aku
gagal membaca dan menerjemahkan pesanmu, Januari lalu. Saat aku terpaksa protes
karena sebuah hal yang kupermasalahkan. Kemudian, aku datang pada Tuhan.
Meminta kepastian di antara "ya" dan "tidak". Seperti yang
juga pernah kuminta. Tapi, hingga saat ini mengapa hanya kamu satu²nya yg
tergambar ketika mereka mengajak berdiskusi tentang urusan hati, masa depan,
hingga pernikahan.”
“Kemudian,
aku datang pada beberapa orang yang kuanggap paling kupercaya untuk tau
ceritaku tentangmu. Jawaban mereka berbeda. Mereka berusaha meluruskan logikaku
yang mereka anggap telah bengkok karena terlalu mencintai lelaki seperti
engkau. Sebagian dari mereka menjudge aku sebagai perempuan gila yang kehilangan
'harga diri' hanya karena aku mengatakan kepadamu bahwa aku menyimpan rasa
selama beberapa bilangan tahun.”
“Dan
apakah ada yang salah ketika seorang perempuan mencoba memperjuangkan sesuatu
yang bertahun-tahun lamanya hanya dipendam sendirian dibalik tulisannya dan
rahasianya dengan Tuhan? Mana yang harus kupercaya?”
“Keyakinan dalam diriku ataukah memang benar kata mereka bahwa aku tidak pernah memiliki arti apa-apa dalam hidupmu bahkan lewat kalimatmu saat itu kau sedang mengisyaratkan bahwa kau sedang menolak dengan cara yang halus???”
“Katakanlah
kebenaran itu!”
“Hanya
kamu yang tau jawabannya... Hampir setahun aku menunggu kau membuka tabir
itu... Aku tau, diam adalah emas. Tapi, bicaramu adalah jawaban yang
kutunggu-tunggu untuk keberlanjutan kehidupanku ke depan.”
Pesan
itu benar-benar kusampaikan padanya. Aku mulai menyalakan genderang perang.
Perang antara keyakinanku, kata orang, dan kenyataan darinya.
“Maaf”,
ia mengawalinya kepastian itu dengan maaf. Seolah ia telah membuat
kesalahan besar dalam hidupku. Ya memang benar. Dia telah menghidupkan
keyakinanku tentang cinta dan kembali memberikan tinta hitam sekali lagi pada
lembaran kisah cintaku.
“Baik,
terima kasih. Maafmu sudah mewakili jawabanmu. Barangkali mulai saat ini aku
harus bersiap membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi
di hari nanti. Semoga tetap sudi menjadi temanku, ya meski belum bisa jadi
teman hidup.” Balasku sebelum ia selesai mengetik.
“Kenapa
aku menghindar? Karena aku takut saat dekat maka harapanmu akan muncul. Akan
tetapi jika kamu bisa mengesampingkan perasaan dan datang sebagai teman atau
sahabat aku akan senang hati.” Lanjutnya.
Sampai
di situ aku benar-benar memastikan bahwa tidak pernah ada harapan yang sudi ia percayakan
padaku. Bagimu, wahai pecinta, mencintailah sebagaimana kasih ibu. Bagai kasih
sang surya pada dunia. Memberi tanpa mengharap kembali.
Selepas
pil pahit itu, pada purnama kesebelas tahun 2019 tepat saat Bulan Film Surabaya
dia menawariku ajakan menonton film gratis. Film yang telah lama sangat ingin
kutonton, “Kucumbu Tubuh Indahku”. Kami bertemu di gedung bioskop BG Junction. Sepintas
tanpa basa-basi. Kami tak sebangku. Duduk berjauhan. Butuh waktu bagiku dan
baginya untuk menetralisir rasa. Aku paham, dia mungkin juga mengerti. Kami
bertemu di lift saat akan pulang. Kemudian berpisah setelah keluar dari lift.
Ajakan
berikutnya datang beberapa hari setelah ajakan nonton film gratis itu. Kali ini
ke Pengajian Bambang Wetan Cak Nun. Aku menunggunya lama di parkiran motor
Kampus C UNAIR. Setelah menunggu hampir sejam, dia mengabarkan jika sudah duduk
di depan panggung. Aku masih bingung mencari tempat duduk. Sedang suasana
begitu ramai. Tempat duduk penuh. Ia menawariku duduk di sampingnya namun,
hanya untuk satu orang. Bagaimana bisa aku duduk di sebelahnya sedang aku
membawa teman. Sampai pengajian bubar, tak ada iktikad baiknya menemuiku.
Paling tidak maaf karena sudah menunggu namun, malah ditinggal. Membiarku
perempuan pulang sendiri lewat tengah malam.
Diskusi
panjang kita berlanjut di obrolan WhatsApp tentang berbagai topik. Agak
membaik tapi, belum benar-benar baik sesungguhnya. Tapi, inilah ikhtiarku
memperbaiki sebuah hubungan. Tetap berkomunikasi tanpa harus memaksakan diri
untuk move on cepat-cepat. Kubiarkan hatiku berjalan sesuai ritmenya
karena sesuatu yang dipaksakan justru semakin meninggalkan luka. Akan tiba
masanya di mana Tuhan bosan melihatku memperjuangkan cinta yang tak bisa
diperjuangkan. Lalu Dia menamparku dengan penuh cinta sembari berkata, “Nak,
cukup. Kau sudah terlalu lelah.”
Benar
saja, hubungan kami sedikit memburuk sejak diskusi panas kami tentang Gerakan
Feminisme. Ia mengintervensiku untuk tak ikut-ikutan berkoar tentang
kesetaraan. Ia tak mau menerima pendapatku dan ia memandang perempuan dengan
kacamata patriarki. Aku tak bisa menerima pemikiran tak adil semacam itu. Aku
berontak. Barangkali inilah tamparan yang kumaksud itu.
Renggang
dan berjarak sudah aku dan dia. Belakangan kutahu ia telah memiliki seorang
pacar. Pacar yang beruntung semoga. Aku turut meyakinkan hatinya agar tak
mengulang hal yang sama sebagaimana yang pernah kuterima darinya. (25/04/21)




