animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 26 April 2020

Menapakkan Kaki di Jalanan Ibukota : Perjalanan Mengikuti Seleksi Pengajar Muda


Oleh: Debby Pratiwi

“Hiduplah dengan mimpi-mimpi yang terus menghidupkan setiap langkah perjuanganmu. Mimpi itu akan mengantarkanmu pada kenyataan yang tidak akan pernah kau sesali. Kenyataan buruk sekalipun. Bermimpilah karena kita harus merubah hidup.”
Pengalaman adalah guru terbaik. Begitu kata pepatah. Klise memang namun, aku tak butuh alasan untuk menuliskan kembali perjalanan berharga dan berkesan itu. Sudah terlewat lama tapi, inilah caraku mengikat kenangan sekaligus mengikat ingatan. Kelak jika aku mulai lelah berjuang tulisan ini akan bercerita kepadaku bagaimana dulu seorang “Debby” pernah berjuang senekat itu.
Jakarta barangkali bukan kota yang asing untukku, penduduk Indonesia. Jakarta sebenarnya tak pernah ada dalam draf destinasiku. Baik itu destinasi cita-cita atau sekedar destinasi untuk jalan-jalan semata. Mendengar kata “Jakarta” saja rasanya sudah sumpek. Sarat akan kemacetan dan berbagai problematika sosial. Segalanya ada di Jakarta. Hingar-bingar kota Metropolitan hingga kota yang kumuh dan tak pernah lepas dari berbagai kejahatan.
Kata orang, Ibukota itu “Keras, Kejam” dan ribuan konotasi negatif lainnya.
Tapi, justru menjadi daya tarik bagi banyak orang.  Barangkali ibukota bagi beberapa orang menjadi magnet tersendiri. Entah untuk urusan ekonomi maupun maksud lainnya.
Untuk yang pertama kalinya, hari itu aku benar-benar menginjakkan kaki di Jakarta. Ibukota negaraku, Indonesia. Selama hampir 24 tahun, nyaris Jakarta tak pernah asing di telingaku. Segala hiruk pikuk hingga modernisasinya. Segala masalah, kriminalitas, hingga kebebasan dan segala sesuatu yang katanya serba ada.
Kereta Api KERTAJAYA membawaku dari Stasiun Pasar Turi hingga Stasiun Pasar Senen selama hampir 12 jam. Perasaan was-was bercampur aduk menjadi satu dengan kebingungan dan ketakutan-ketakutan lengkap beserta prasangka pada kanan dan kiri yang seolah mengancam.  Aku selebay itu. Kacamataku terlalu gelap untuk segala hal yang ada di ibukota.
Stasiun Pasar Senen menyambutku dengan pemandangan aneh. "Ini stasiun kok gini yaaa?? Rame banget, berjubel banget, buat keluar saja kok harus turun tangga melewati terowongan sempit terus naik lagi sih??!!" Batinku. Seolah semakin membenarkan prasangkaku sejak jauh-jauh hari.  Di luar Stasiun, busway dan bajaj berjejer, OJOL sriwat-sriwet mengejar  penumpang kereta yang baru turun. Menawari jasa ojek offline sembari terus mencerca, "mau kemana mbak? Disini gak bisa pesen online mbak? 20 ribu aja ke tanah abang." Masa bodoh aku takut, sembari menunggu grabku nyantol ke driver kujawab dengan PD, "enggak pak, sudah dijemput! Lagi otw kesini."
Jakarta begitu asing dalam realita perjalananku. Begitu tiba dan menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen, rasa takut, grogi, was-was, beserta teman-temannya seperti sedang mencercaku. Sepertinya kata-kata "Jakarta itu keras" berlaku pada hari itu. Untung saja ada adik yang kutemui saat Amil Camp di Jogja beberapa bulan lalu yang telah menunggu di sebuah tempat terindah di Tanah Abang. Tempat yang menjadi penginapanku selama di Jakarta. Betapa teman-teman Lizta amat baik, welcome, dan humble banget. Merasa mendapatkan teman baru dan saudara baru selama di Jakarta. "Bersama Lizta, Jakarta ternyata melunak. Tidak lagi keras seperti kata orang-orang."
Terima kasih Lizta sayang!
Aku ke Jakarta bukan tanpa tujuan. Jakarta adalah pilihan satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengikuti seleksi tahap II sebuah program pengabdian ke pedalaman Indonesia. Iya, dirrect assessment. Namaku tercantum dalam 200 besar dari 10 ribu lebih lebih pendaftar pada tahap I. Betapa aku amat terkejut sekaligus tidak percaya. Mengingat program itu adalah salah satu program yang ada dalam daftar cita-citaku sejak SMK.
Indonesia Mengajar bukanlah sembarang program. Pengabdiannya juga tak sebulan dua bulan. Melainkan satu tahun penempatan. Tentu itu menjadi tantangan tersendiri untukku. Impianku menjadi pengajar telah terpatri sejak usiaku masih belia. Aku termotivasi perjuangan kakak sepupuku di ujung timur Indonesia (red: Merauke) yang menjadi guru agama di sana. Kakakku sering bercerita tentang pengalamannya yang tak mudah menjadi guru di daerah yang kesadaran masyarakatnya akan pendidikan masih minim. Belum lagi sarana prasarana yang belum memadai. Tentu itu menjadi paket lengkap.
Keesokannya, pagi buta aku berangkat ke IPMI International Bussiness School yang merupakan lokasi pelaksanaan dirrect assessment tahap II ini.
Wajar saja jika awal-awal seleksi akan dimulai sempat aku mendengar cuitan dari beberapa teman bahwa proses yang akan kita jalani selama sehari full ini bias dibilang cukup menantang. Di sana kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk setiap tahap. Dimulai dari  Focus Group Discussion (FGD), audiensi, psikotes, micro teaching, hingga wawancara. Aku menjalaninya dengan penuh percaya diri dan optimis. Aku tak mau kalah saat terpaksa beradu argument dengan teman-teman sekelompokku. Karena besar harapankubisa melaju ke tahap selanjutnya.
Pada saat FGD, kami disuguhi dengan suatu permasalahan yang ada di daerah penempatan kemudian kami diminta menyepakati langkah manakah yang akan kita ambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah FGD kami harus melakukan audiensi. Seolah kami ini adalah Pengajar Muda yang sudah ditempatkan di daerah kemudian kami akan mengajukan program kepada pemerintah setempat. Yang berperan sebagai pemerintah adalah para Pengajar Muda angkatan sebelumnya yang sudah selesai masa pengabdian. Perdebatan terjadi antara peserta dengan pemerintah. Program yang kami ajukan harus jelas maksud dan tujuannya bahkan dananya berapa dan siapa saja para pelakunya. Setelah itu kami berkumpul bersama untuk mengikuti rangkaian psikotes. Seperti biasa, ada tes grafis atau menggambar.
Kemudian kami kembali berkumpul setiap kelompok untuk melakukan simulasi micro teaching. Konon ini adalah bagian paling berat dari seleksi tahap II ini. Setiap peserta diberi tantangan masing-masing. Mulai dari siswa yang kebelet beol saat di kelas, siswa yang tiba-tiba adiknya ikut masuk ke kelas, ada penjual yang tiba-tiba masuk ke kelas, dan segalanya yang sangat out of the box. Yang terakhir adalah sesi wawancara. Kami masuk satu persatu berhadapan dengan pewawancara. Bagianku adalah bertemu dengan Bang Ucok. Sesosok unik berambut gondrong yang terlihat menakutkan tapi, sangat baik. Pertanyaan wawancara adalah pertanyaan seputar essay yang telah kukirim pada tahap pertama. Inilah tahap dimana kita harus bias meyakinkan orang bahwa kita mampu.
Pukul 17:00 WIB kegiatan baru selesai. Kami saling berfoto dan saling saling bertukar nomor WA hingga akun instagram untuk saling berkabar apabila nanti ada pengumuman lanjutan. Saling merajut komunikasi melalui media sosial.
Mereka sangat mengesankan meskipun kami hanya bertemu kurang dari 24 jam. Selepas itu kami saling berpamitan. Saling berhamburan menuju tempat tujuan masing-masing. Aku kembali ke Panti Asuhan tempatku menginap bersama Lizta.
Oh yaaa, sepanjang perjalanan selama di Jakarta aku suka tolah-toleh kanan-kiri ke atas. Gedung-gedung Jakarta lebih tinggi dari yang kubayangkan. Tidak bisa membayangkan bagaimana hidup diantara sesaknya bangunan yang saling balapan menyentuh langit. "Nggumun," batinku.
Tak hanya mengikuti proses seleksi. Aku juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Jakarta. Ke Kota Tua hingga ke Monumen Nasional (MONAS) yang merupakan ikon Kota Jakarta. Selain itu Lizta juga mengajakku menaiki KRL yaaa meskipun jaraknya dekat. Tapi, cukup  mengesankan untukku. Jakarta hingga malampun tetap ramai. Seandainya ada 25 jam barangkali Jakarta 25 jam tak tidur. Jalanan semakin malam semakin ramai. Orang-orang baru pulang kantor. Mereka membanjiri sepanjangan jalanan. Grand Indonesia, Thamrin City. Semuanya ramai  kerumunan manusia. Jakarta rupanya bisa membuatku rindu setelah kepulanganku bersama kereta api menuju Stasiun Pasar Turi.
Beberapa menit sebelum keberangkatan seorang teman mayaku juga menyempatkan diri untuk menemuiku. Dia adalah teman yang kukenal di facebook hingga whatsapp gara-gara seleksi SBMPTN beberapa tahun silam. Tak kusangka dia yang asli Makassar ini juga keluarga Muhammadiyah. Aku merasa bertemu saudara seideologiku. Dialah Adit. Sementara teman maya yang lain masih berhalangan hadir.
Kiranya itu pengalaman berhargaku yang bisa kubagi untuk kelak akan membangkitkan gairahku memperjuangkan cita-citaku, satu persatu. Terima kasih untuk ilmunya teman-teman seperjuangan. Kak Basa, Doni, Danish, Arum, Ocha. Semoga suatu hari nanti kita dapat bersua dan berdiskusi lagi seperti hari kemarin. Terima kasih Lizta beserta adik-adik pantinya dan Adit yang telah mengindahkan Jakarta untuk pendatang semacamku.
Jakarta, kadang-akan aku suka rindu. Sampai jumpa di seleksi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar