Oleh: Debby
Pratiwi
“Hiduplah dengan mimpi-mimpi yang
terus menghidupkan setiap langkah perjuanganmu. Mimpi itu akan mengantarkanmu
pada kenyataan yang tidak akan pernah kau sesali. Kenyataan buruk sekalipun.
Bermimpilah karena kita harus merubah hidup.”
Pengalaman
adalah guru terbaik. Begitu kata pepatah. Klise
memang namun, aku tak butuh alasan untuk menuliskan kembali perjalanan
berharga dan berkesan itu. Sudah terlewat lama tapi, inilah caraku mengikat
kenangan sekaligus mengikat ingatan. Kelak jika aku mulai lelah berjuang
tulisan ini akan bercerita kepadaku bagaimana dulu seorang “Debby” pernah
berjuang senekat itu.
Jakarta
barangkali bukan kota yang asing untukku, penduduk Indonesia. Jakarta sebenarnya
tak pernah ada dalam draf destinasiku. Baik itu destinasi cita-cita atau
sekedar destinasi untuk jalan-jalan semata. Mendengar kata “Jakarta” saja
rasanya sudah sumpek. Sarat akan kemacetan dan berbagai problematika sosial.
Segalanya ada di Jakarta. Hingar-bingar kota Metropolitan hingga kota yang
kumuh dan tak pernah lepas dari berbagai kejahatan.
Kata orang, Ibukota itu “Keras,
Kejam” dan ribuan konotasi negatif lainnya.
Tapi, justru menjadi daya tarik bagi banyak orang. Barangkali ibukota bagi beberapa orang menjadi magnet tersendiri. Entah untuk urusan ekonomi maupun maksud lainnya.
Tapi, justru menjadi daya tarik bagi banyak orang. Barangkali ibukota bagi beberapa orang menjadi magnet tersendiri. Entah untuk urusan ekonomi maupun maksud lainnya.
Untuk yang
pertama kalinya, hari itu aku benar-benar menginjakkan kaki di Jakarta. Ibukota
negaraku, Indonesia. Selama hampir 24 tahun, nyaris Jakarta tak pernah asing di
telingaku. Segala hiruk pikuk hingga modernisasinya. Segala masalah,
kriminalitas, hingga kebebasan dan segala sesuatu yang katanya serba ada.
Kereta Api
KERTAJAYA membawaku dari Stasiun Pasar Turi hingga Stasiun Pasar Senen selama
hampir 12 jam. Perasaan was-was bercampur aduk menjadi satu dengan kebingungan
dan ketakutan-ketakutan lengkap beserta prasangka pada kanan dan kiri yang
seolah mengancam. Aku selebay itu. Kacamataku terlalu gelap
untuk segala hal yang ada di ibukota.
Stasiun Pasar Senen
menyambutku dengan pemandangan aneh. "Ini stasiun kok gini yaaa?? Rame
banget, berjubel banget, buat keluar saja kok harus
turun tangga melewati terowongan sempit terus
naik lagi sih??!!" Batinku. Seolah semakin membenarkan prasangkaku sejak jauh-jauh hari. Di luar Stasiun, busway dan bajaj
berjejer, OJOL sriwat-sriwet mengejar penumpang kereta yang baru turun. Menawari
jasa ojek offline sembari terus
mencerca, "mau kemana mbak? Disini gak bisa pesen online mbak? 20 ribu aja ke tanah abang." Masa bodoh aku
takut, sembari menunggu grabku nyantol ke driver kujawab dengan PD,
"enggak pak, sudah dijemput! Lagi otw kesini."
Jakarta begitu
asing dalam realita perjalananku. Begitu tiba dan menginjakkan kaki di Stasiun
Pasar Senen, rasa takut, grogi, was-was, beserta teman-temannya seperti sedang
mencercaku. Sepertinya
kata-kata "Jakarta itu keras"
berlaku pada hari itu. Untung saja ada adik yang kutemui saat Amil Camp di Jogja beberapa bulan lalu yang
telah menunggu di sebuah tempat terindah di Tanah Abang. Tempat yang menjadi
penginapanku selama di Jakarta. Betapa teman-teman Lizta amat baik, welcome,
dan humble banget. Merasa mendapatkan teman baru dan saudara baru selama di
Jakarta. "Bersama Lizta, Jakarta ternyata melunak. Tidak lagi keras
seperti kata orang-orang."
Terima kasih
Lizta sayang!
Aku ke Jakarta
bukan tanpa tujuan. Jakarta adalah pilihan satu-satunya yang paling
memungkinkan untuk mengikuti seleksi tahap II sebuah program pengabdian ke
pedalaman Indonesia. Iya, dirrect
assessment. Namaku tercantum dalam 200 besar dari 10 ribu lebih lebih
pendaftar pada tahap I. Betapa aku amat terkejut sekaligus tidak percaya.
Mengingat program itu adalah salah satu program yang ada dalam daftar
cita-citaku sejak SMK.
Indonesia Mengajar bukanlah
sembarang program. Pengabdiannya juga tak sebulan dua bulan. Melainkan satu
tahun penempatan. Tentu itu menjadi tantangan tersendiri untukku. Impianku
menjadi pengajar telah terpatri sejak usiaku masih belia. Aku termotivasi perjuangan
kakak sepupuku di ujung timur Indonesia (red: Merauke) yang menjadi guru agama
di sana. Kakakku sering bercerita tentang pengalamannya yang tak mudah menjadi
guru di daerah yang kesadaran masyarakatnya akan pendidikan masih minim. Belum
lagi sarana prasarana yang belum memadai. Tentu itu menjadi paket lengkap.
Keesokannya,
pagi buta aku berangkat ke IPMI International
Bussiness School yang merupakan lokasi pelaksanaan dirrect assessment tahap II ini.
Wajar saja jika awal-awal seleksi
akan dimulai sempat aku mendengar cuitan dari beberapa teman bahwa proses yang
akan kita jalani selama sehari full ini bias dibilang cukup menantang. Di sana
kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk setiap tahap. Dimulai dari Focus
Group Discussion (FGD), audiensi, psikotes, micro teaching, hingga wawancara. Aku menjalaninya dengan penuh
percaya diri dan optimis. Aku tak mau kalah saat terpaksa beradu argument dengan
teman-teman sekelompokku. Karena besar harapankubisa melaju ke tahap
selanjutnya.
Pada saat FGD, kami disuguhi dengan
suatu permasalahan yang ada di daerah penempatan kemudian kami diminta
menyepakati langkah manakah yang akan kita ambil untuk menyelesaikan masalah
tersebut. Setelah FGD kami harus melakukan audiensi. Seolah kami ini adalah
Pengajar Muda yang sudah ditempatkan di daerah kemudian kami akan mengajukan
program kepada pemerintah setempat. Yang berperan sebagai pemerintah adalah
para Pengajar Muda angkatan sebelumnya yang sudah selesai masa pengabdian.
Perdebatan terjadi antara peserta dengan pemerintah. Program yang kami ajukan
harus jelas maksud dan tujuannya bahkan dananya berapa dan siapa saja para
pelakunya. Setelah itu kami berkumpul bersama untuk mengikuti rangkaian
psikotes. Seperti biasa, ada tes grafis atau menggambar.
Kemudian kami kembali berkumpul
setiap kelompok untuk melakukan simulasi micro
teaching. Konon ini adalah bagian paling berat dari seleksi tahap II ini.
Setiap peserta diberi tantangan masing-masing. Mulai dari siswa yang kebelet
beol saat di kelas, siswa yang tiba-tiba adiknya ikut masuk ke kelas, ada
penjual yang tiba-tiba masuk ke kelas, dan segalanya yang sangat out of the box. Yang terakhir adalah
sesi wawancara. Kami masuk satu persatu berhadapan dengan pewawancara. Bagianku
adalah bertemu dengan Bang Ucok. Sesosok unik berambut gondrong yang terlihat menakutkan
tapi, sangat baik. Pertanyaan wawancara adalah pertanyaan seputar essay yang
telah kukirim pada tahap pertama. Inilah tahap dimana kita harus bias meyakinkan
orang bahwa kita mampu.
Pukul 17:00 WIB kegiatan baru
selesai. Kami saling berfoto dan saling saling bertukar nomor WA hingga akun
instagram untuk saling berkabar apabila nanti ada pengumuman lanjutan. Saling
merajut komunikasi melalui media sosial.
Mereka sangat mengesankan meskipun
kami hanya bertemu kurang dari 24 jam. Selepas itu kami saling berpamitan. Saling
berhamburan menuju tempat tujuan masing-masing. Aku kembali ke Panti Asuhan
tempatku menginap bersama Lizta.
Oh yaaa,
sepanjang perjalanan selama di Jakarta aku suka tolah-toleh kanan-kiri ke atas.
Gedung-gedung Jakarta lebih tinggi dari yang kubayangkan. Tidak bisa
membayangkan bagaimana hidup diantara sesaknya bangunan yang saling balapan
menyentuh langit. "Nggumun," batinku.
Tak hanya mengikuti proses seleksi.
Aku juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Jakarta. Ke
Kota Tua hingga ke Monumen Nasional (MONAS) yang merupakan ikon Kota Jakarta.
Selain itu Lizta juga mengajakku menaiki KRL yaaa meskipun jaraknya dekat.
Tapi, cukup mengesankan untukku. Jakarta
hingga malampun tetap ramai. Seandainya ada 25 jam barangkali Jakarta 25 jam
tak tidur. Jalanan semakin malam semakin ramai. Orang-orang baru pulang kantor.
Mereka membanjiri sepanjangan jalanan. Grand Indonesia, Thamrin City. Semuanya
ramai kerumunan manusia. Jakarta rupanya
bisa membuatku rindu setelah kepulanganku bersama kereta api menuju Stasiun
Pasar Turi.
Beberapa menit sebelum keberangkatan
seorang teman mayaku juga menyempatkan diri untuk menemuiku. Dia adalah teman
yang kukenal di facebook hingga whatsapp gara-gara seleksi SBMPTN beberapa
tahun silam. Tak kusangka dia yang asli Makassar ini juga keluarga
Muhammadiyah. Aku merasa bertemu saudara seideologiku. Dialah Adit. Sementara
teman maya yang lain masih berhalangan hadir.
Kiranya itu pengalaman berhargaku
yang bisa kubagi untuk kelak akan membangkitkan gairahku memperjuangkan
cita-citaku, satu persatu. Terima kasih untuk ilmunya teman-teman
seperjuangan. Kak Basa, Doni, Danish, Arum, Ocha. Semoga suatu hari nanti kita
dapat bersua dan berdiskusi lagi seperti hari kemarin. Terima kasih Lizta beserta adik-adik
pantinya dan Adit yang telah mengindahkan Jakarta untuk pendatang semacamku.
Jakarta, kadang-akan aku suka rindu.
Sampai jumpa di seleksi berikutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar