animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 25 April 2021

Mengungkap Rahasia Sketchbook: Jawabannya Maaf!

 


Oleh: Debby Pratiwi



Malam itu kukenakan gamis merah mudaku. Sengaja kukenakan jilbab segiempat warna senada agak sedikit lebar. Aku memilih duduk di bangku foodcourt dekat tiang yang ada stop kontaknya. Karena kupikir sebagaimana tujuan pertemuan kita, aku dan dia sepakat akan menyelesaikan skripsi supaya lekas bisa mengambil ijazah yang telah beberapa purnama tertahan di kampus.

Berapa menit setalah aku menunggu, ia menghampiriku. Tentu saja aku berusaha bersikap sebiasa mungkin. Lazimnya bertemu dengan teman lama. Aku telah berkomitmen untuk meninggalkan semua perasaan tak biasaku di lemari asramaku. Aku tak mau menodai pertemuan langkaku denganya hanya karena perasaan yang belum tentu membuat dia nyaman.

Ia datang dengan kemeja putih bermotif monokrom tentu saja kancing atas dikancingkan seperti biasa sehingga nampak rapi. Rambutnya berantakan sedikit gondrong, tidak serapi bajunya. Saat itu aku ingin bilang, “Mas, kau jelek. Lebih ganteng jika rambutmu kau potong dan kau rapikan.” Sayangnya kalimat itu hanya sampai pada batinku, tidak sampai kulisankan.

Apa yang kita bicarakan malam itu, sungguh aku benar-benar tak dapat mengingatnya dengan detail. Aku hanya ingat kita berbicara tentang skripsi, dosen, serta masalah-masalah yang seolah menjadi sejarah yang terus berulang saban tahun. Panjang. Lumayan. Hingga akhirnya laptop yang kubawa tak berguna sama sekali. Sekadar menjadi saksi bisu obrolan kita. Sepertinya pada saat yang bersamaan kita mulai kehilangan topik pembicaraan. Kita mulai saling menatap layar monitor ponsel masing-masing. Puncaknya dia berbicara dengan teman perempuannya melalui video call. Aku bingung malam itu. Apa yang mesti kulakukan. Kuputuskan masuk dan naik ke lantai dua toko buku itu. Mencari sesuatu yang sebenarnya tak kubutuhkan. Bagaimana bisa aku fokus sedang berjuta tanya terbang-terbang di kepalaku. Tentang siapa, ada hubungan apa, haruskah dengan cara ini menyatakan sebuah penolakan? Aku masih berusaha menetralisir hatiku.

Toko buku telah memberikan peringatan bahwa sebentar lagi akan tutup. Akupun bergegas membayar item yang tadi telah kupilih. Lalu turun dengan hati yang telah kusiapkan. Aku kembali duduk di hadapannya. Melanjutkan pembicaraan kami. Dia menawarkan ajakan untuk nongkrong bersama teman seangkatan yang juga menyelesaikan skripsi. Kita tak tau pasti di mana lokasi tempat mereka bertemu. Dia tak tau seluk-beluk jalanan dekat toko buku itu. Sampai pada akhirnya dia mengikuti dari belakang. Begitu sampai di dekat Poltekkes dia mulai mengenali jalanan. Dia menyalipku. Kami terpisah karena lampu merah. Aku memilih menuju kampus, barangkali dia menungguku di sana. Mengingat hari sudah malam. Cukup rawan untukku berjalan seorangan.

Beberapa menit berlalu, dia tak membaca pesan WhatsAppku. Terakhir dia hanya membagikan google maps tempat mereka berjanjian. Kucoba mengikuti petunjuk arah itu. Kupacu motor merahku ke arah jalan Merr sembari aku menoleh ke kiri barangkali kulihat dia. Nihil. Hanya warung kopi yang penuh dengan pengunjung laki-laki yang memenuhi. Penuh asap rokok dan kopi di depannya. Dua kali aku memutarbalik motorku, barangkali terlewatkan. Tidak. Aku tak menemukan dia. Aku juga tak mungkin membuka HP di jalanan yang konon rawan jambret itu. Akhirnya kuputuskan pulang ke asrama dengan segala kecewa sebagai oleh-olehnya.

“Lebih baik diabaikan karena ditinggal membaca buku daripada ditinggal video call. Sama teman ceweknya lagi.”

Kurang lebih begitulah tulisanku di Whatsapp story. Tulisan yang pada akhirnya berbuntut perdebatan panjang. Tentang bagaimana ia membandingkan intensitas mengobrol denganku dan dengan teman perempuannya.

Tak bisa lagi kutahan bahwa aku ‘cemburu’. Kunyatakan sejelas-jelasnya bahwa ini bukan lagi soal cemburu. Lebih dari itu. Tidak adakah penolakan dengan cara lain? Berbulan-bulan aku menunggunya untuk sekadar mau bertemu. Begitu sudah di depan mata harus disuguhkan dengan pemandangan sekaligus kenyataan yang menyempitkan ruang harapanku.

Lebih dari sekedar cemburu, ini soal menghargai. Tak bisakah perasaan perempuan yang bertahun-tahun melawan gengsi demi memperjuangkan cinta ini mendapat sedikit ruang? Kukira dengan mengatakan segala keberatanku itu membuatmu sedikit memberi celah untukku. Rupanya aku terlalu bodoh.

“Mohon maaf karena memilih itu juga sulit. Aku tidak mau memilih sedang suatu saat akupindah ke lain hati. Aku menghormati dan menghargaimu karena kamu telah mengungkapkan semua isi hatimu. Tapi, maaf. Bukan karena apa (terserah kamu mau mikir aku lelaki seperti apa) tapi, kenyataannya aku bahkan bingung akan menjawab apa. Karena fokusku untuk saat ini bukan untuk masalah asmara.”

“Memang aku pengecut untuk tidak bisa memutuskan harus menjawab apa. Aku serba salah saat itu. Karena aku tidak tahu harus bagaimana. Sangat egois jika aku hanya ingin semua berjalan seperti biasa. Karena sudah terlanjur ada perasaan di antara kita  maka,  semua tidak akan bisa seperti biasa. “

“Aku sudah berkali-kali sholat istikarah untuk itu karena memutuskan tidak seringan kelihatannya.”

“Aku bukan lelaki yang cepat memilih jawaban dan tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Seandainya saja aku bisa menjadi masa bodoh dan asal ceplas-ceplos maka, ini akan  menjadi sangat mudah. Sayangnya aku tidak.”

“Bahkan setiap kali kamu menulis story dan membahas ini aku sangat berfikir keras bagaimana mengembalikan keadaan seperti semula.” -SAM-

Dadaku bergemuruh hebat. Seperti ombak yang sedang mengguncang tenangnya lautan. Perasaanku bagai buih yang tersapu ke tengah lautan lalu dalam sekejab aku sudah sampai di bibir pantai. Sebentar dan terus berulang. Sepanjang mengenalnya barangkali itu adalah jawaban terpanjang yang pernah ia lontarkan melalui pesan WhatsAppnya. Jawaban gamblang yang semestinya cukup menjawab semua pertanyaanku selama bertahun-tahun ini.

Pasca itu, aku berusaha sebiasa mungkin. Tak lagi terlalu membahas tentang perasaanku yang sejujurnya enggan berubah apalagi berpindah ke lain hati. Andai bisa tentu seketika telah kulakukan sejak dulu.

Tiba-tiba aku berinisiatif menanyakan apakah sketchbook yang kukirim beberapa purnama lalu telah usai dibaca. Lagi-lagi ia menjawab “belum”. Ini adalah belum yang kesekian yang umpama kumakan mungkin aku sudah kenyang. Ia menanggapinya tenang, sedang aku cemas.

Kubilang, “Kau ketawa lepas dan aku cemas!”

“Jangan cemas!” Katamu.

Ramadhan 2019 tiba. Aku masih seriing menanyakan kabarnya. Ia lelah karena harus menyiapkan kegiatan PMI. Dan sepanjang ramadhan itu aku tak pernah melewatkan waktu untuk mengirim ucapan selamat berbuka. Sebulan kukirim pesan itu. Terlupa beberapa kali saja. Tentu saja aku masa bodoh dengan apakah dia akan membalas pesanku itu. Kukira hati manusia layaknya batu. Sekeras apapun akan lapuk karena tetes air hujan. Blasssssss, mulai detik itu kusimpulkan bahwa hati makhluk hidup bernama lelaki lebih keras dari batu. Tidak bisa tidak.

25 Mei 2019

“Mas, aku di PMI.”

Iya, aku mengantar adik tingkatku donor darah di PMI. Tempat doi berkegiatan selama beberapa tahun terakhir. Dia dengan baju koko putih lengan panjang dan kacamata pemikat hatiku, menghampiriku. Mempersilakan kami makan karena katanya masakan itu adalah hasil karyanya. Melihatnya bermain gitar dan menyanyi bersama teman-temannya. Kadang ku membayangkan, andai aku bisa sedekat itu dengannya. Setiap kali bertemu aku sengaja mencuri fotonya diam-diam karena siapa tau itu akan menjadi pertemuan terakhir kita. Oh ya, malam itu juga aku dengan terus terang berani mengajaknya foto bersama. Bersama dua adik tingkatku tentunya.

Aku masih tak ingin berhenti. Berbagai upaya kulakukan untuk membuat kenangan bersamanya. Kuajak buka bersama hingga naik gunung. Nihil. Semua ditolak dengan berbagai alasan yang itu-itu saja.

Aku berada di titik kebosanan atas ketidakjelasan ini. Atau kejelasan yang justru berusaha kumustahilkan. Aku butuh kepastian. Aku sudah siap pun jika pada akhirnya dia memilih mematahkan hatiku seketika ini juga. Mungkin aku akan sakit dan sedih berkepanjangan. Mengingat durasi proses ku mencintainya hingga detik itu memang cukup lama. Aku tak mau lagi menunda keputusannya. Jika memang ada sedikit ruang, akan kuperjuangkan sampai kita menikah. Jika memang benar-benar nihil, biar segera kuobati luka yang tak terlihat oleh mata ini namun, nyata merusak batinku.

“Kadang-kadang tidak semua rasa itu diciptakan untuk saling berbalas, yaaa?! Seperti kiri dan kanan yang tidak selalu melangkah bersamaan.” Setidaknya itulah yang kualami.


“Jika ada yang lebih baik dari sekadar balasan atas perasaan terpendam bertahun-tahun, mungkin hal itu bernama ‘merelakan’. Sekalipun sejauh ini merelakan adalah perkara yang teramat sulit bagi mereka yang cintanya masih egois. Mungkin aku termasuk di antara yang egois itu.”

“Aku gagal membaca dan menerjemahkan pesanmu, Januari lalu. Saat aku terpaksa protes karena sebuah hal yang kupermasalahkan. Kemudian, aku datang pada Tuhan. Meminta kepastian di antara "ya" dan "tidak". Seperti yang juga pernah kuminta. Tapi, hingga saat ini mengapa hanya kamu satu²nya yg tergambar ketika mereka mengajak berdiskusi tentang urusan hati, masa depan, hingga pernikahan.”

“Kemudian, aku datang pada beberapa orang yang kuanggap paling kupercaya untuk tau ceritaku tentangmu. Jawaban mereka berbeda. Mereka berusaha meluruskan logikaku yang mereka anggap telah bengkok karena terlalu mencintai lelaki seperti engkau. Sebagian dari mereka menjudge  aku sebagai perempuan gila yang kehilangan 'harga diri' hanya karena aku mengatakan kepadamu bahwa aku menyimpan rasa selama beberapa bilangan tahun.”

“Dan apakah ada yang salah ketika seorang perempuan mencoba memperjuangkan sesuatu yang bertahun-tahun lamanya hanya dipendam sendirian dibalik tulisannya dan rahasianya dengan Tuhan? Mana yang harus kupercaya?”

“Keyakinan dalam diriku ataukah memang benar kata mereka bahwa aku tidak pernah memiliki arti apa-apa dalam hidupmu bahkan lewat kalimatmu saat itu kau sedang mengisyaratkan bahwa kau sedang menolak dengan cara yang halus???”

“Katakanlah kebenaran itu!”

“Hanya kamu yang tau jawabannya... Hampir setahun aku menunggu kau membuka tabir itu... Aku tau, diam adalah emas. Tapi, bicaramu adalah jawaban yang kutunggu-tunggu untuk keberlanjutan kehidupanku ke depan.”

Pesan itu benar-benar kusampaikan padanya. Aku mulai menyalakan genderang perang. Perang antara keyakinanku, kata orang, dan kenyataan darinya.

“Maaf”, ia mengawalinya kepastian itu dengan maaf. Seolah ia telah membuat kesalahan besar dalam hidupku. Ya memang benar. Dia telah menghidupkan keyakinanku tentang cinta dan kembali memberikan tinta hitam sekali lagi pada lembaran kisah cintaku.

“Baik, terima kasih. Maafmu sudah mewakili jawabanmu. Barangkali mulai saat ini aku harus bersiap membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi di hari nanti. Semoga tetap sudi menjadi temanku, ya meski belum bisa jadi teman hidup.” Balasku sebelum ia selesai mengetik.

“Kenapa aku menghindar? Karena aku takut saat dekat maka harapanmu akan muncul. Akan tetapi jika kamu bisa mengesampingkan perasaan dan datang sebagai teman atau sahabat aku akan senang hati.” Lanjutnya.

Sampai di situ aku benar-benar memastikan bahwa tidak pernah ada harapan yang sudi ia percayakan padaku. Bagimu, wahai pecinta, mencintailah sebagaimana kasih ibu. Bagai kasih sang surya pada dunia. Memberi tanpa mengharap kembali.

Selepas pil pahit itu, pada purnama kesebelas tahun 2019 tepat saat Bulan Film Surabaya dia menawariku ajakan menonton film gratis. Film yang telah lama sangat ingin kutonton, “Kucumbu Tubuh Indahku”. Kami bertemu di gedung bioskop BG Junction. Sepintas tanpa basa-basi. Kami tak sebangku. Duduk berjauhan. Butuh waktu bagiku dan baginya untuk menetralisir rasa. Aku paham, dia mungkin juga mengerti. Kami bertemu di lift saat akan pulang. Kemudian berpisah setelah keluar dari lift.

Ajakan berikutnya datang beberapa hari setelah ajakan nonton film gratis itu. Kali ini ke Pengajian Bambang Wetan Cak Nun. Aku menunggunya lama di parkiran motor Kampus C UNAIR. Setelah menunggu hampir sejam, dia mengabarkan jika sudah duduk di depan panggung. Aku masih bingung mencari tempat duduk. Sedang suasana begitu ramai. Tempat duduk penuh. Ia menawariku duduk di sampingnya namun, hanya untuk satu orang. Bagaimana bisa aku duduk di sebelahnya sedang aku membawa teman. Sampai pengajian bubar, tak ada iktikad baiknya menemuiku. Paling tidak maaf karena sudah menunggu namun, malah ditinggal. Membiarku perempuan pulang sendiri lewat tengah malam.

Diskusi panjang kita berlanjut di obrolan WhatsApp tentang berbagai topik. Agak membaik tapi, belum benar-benar baik sesungguhnya. Tapi, inilah ikhtiarku memperbaiki sebuah hubungan. Tetap berkomunikasi tanpa harus memaksakan diri untuk move on cepat-cepat. Kubiarkan hatiku berjalan sesuai ritmenya karena sesuatu yang dipaksakan justru semakin meninggalkan luka. Akan tiba masanya di mana Tuhan bosan melihatku memperjuangkan cinta yang tak bisa diperjuangkan. Lalu Dia menamparku dengan penuh cinta sembari berkata, “Nak, cukup. Kau sudah terlalu lelah.”

Benar saja, hubungan kami sedikit memburuk sejak diskusi panas kami tentang Gerakan Feminisme. Ia mengintervensiku untuk tak ikut-ikutan berkoar tentang kesetaraan. Ia tak mau menerima pendapatku dan ia memandang perempuan dengan kacamata patriarki. Aku tak bisa menerima pemikiran tak adil semacam itu. Aku berontak. Barangkali inilah tamparan yang kumaksud itu.

Renggang dan berjarak sudah aku dan dia. Belakangan kutahu ia telah memiliki seorang pacar. Pacar yang beruntung semoga. Aku turut meyakinkan hatinya agar tak mengulang hal yang sama sebagaimana yang pernah kuterima darinya. (25/04/21)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar