Oleh: Debby
Pratiwi
“Mas, apa
nanti kita benar-benar bisa menikah?” Pertanyaan pembunuh yang selalu saja
menyesakkan dadanya. Pertanyaan bodoh yang berulang-ulang dia pertanyakan pada
dirinya sendiri yang tengah tersungkur dengan kepala diatas bantal bersarung
kotak-kotak biru berpadu warna coklat dan krem. Matanya kosong sedikit berbinar
yang sebentar lagi binar yang menggenang di pelupuk matanya dipastikan akan
jatuh ke bantal yang menopangnya. Pandangannya mengarah menatap langit sore
yang tertutup awan putih tak beraturan melukiskan apa. Bukan langit senja yang
sedang ia pandangi lekat-lekat sore itu karena jendela kamar asramanya
menghadap melawan arah kiblat sehingga yang nampak hanyalah warna langit yang
nyaris tak berubah dari pagi hingga sore.
Langit senja
baginya teramat mahal lagi pula susah dijumpai di Kota metropolitan begini.
Gedung-gedung dan rumah-rumah bertingkat menghalangi pemandangan senja yang
kata orang-orang indah. Jika sedang ingin menikmati senja ia lebih suka terjaga
sehabis sholat subuh dan menunggu matahari terbit karena warna gelap langit
malam yang berubah menjadi pagi yang cerah memudar pada waktu tersebut.
Pertanyaannya
seputar kapan lelaki berkacamata itu akan menikahinya terus saja mencercanya.
Ia gusar, ia marah, ia ingin mengamuk pada takdir. Ia membenci segala misteri
tentang kehidupannya terutama mengenai perasaannya pada lelaki itu. Hingga
kemudian ia mencoba protes pada takdir dengan pura-pura diam sembari
menerka-nerka lagi dan terus merawat baik-baik impiannya untuk bersanding
dengan lelaki yang sangat mirip dengan lelaki dalam imaginasinya itu.
Berkacamata,
suka membaca buku tebal, menyukai anak-anak, dan ramah dengan sipapun. Terlebih
lelaki itu menjanjikan akan mengajaknya mendaki gunung berdua di musim yang
tidak lagi basah. Lelaki yang sempurna bagi Ilalang sekalipun lelaki itu sebenarnya
cacat pandangannya karena matanya minus 5 dan berkacamata sejak masih duduk di
bangku SD. Tetapi, di mata gadis keras kepala yang kulitnya hitam laksana kopi
susu yang kebanyakan rabuk kopi itu Aksara adalah lelaki yang hanya dengan
mengingat senyum dan mata dibalik kacamata tebalnya selalu membuat Lala jatuh
cinta berulang-ulang.
“Mas, nanti
kalau kita menikah kita bulan madu berdua di Gunung Merbabu yaaa?” Gumamnya
sekali lagi terdengar sesenggukan dan isak lirih disusul genangan yang mengalir
lembut melewati pipinya yang seperti donat gosong. Cepat-cepat tangannya dengan
kasar mengibaskan dan memaksa menghentikan tangisan kecil yang entah sudah
tangis ke berapa dengan keluh kesah yang sama persis tak berubah.
“Mas, aku
rindu”, tangisnya semakin menjadi. Ia merindukan bagaimana hatinya selalu
berdebar, mukanya mendadak menjadi merah, urat malu seolah menjalar membelit
dirinya yang nyaris di mata kawan-kawannya Ilalang adalah perempuan yang
diciptakan Tuhan tanpa urat malu. Kali ini ia selalu saja mati kutu, tak
bergeming, bergerak pun ia merasa serba salah takut pandangannya seolah seperti
salah arah dan tepat pada wajah sempurna di balakangnya, Aksar.
---------
Semua orang
mengerubungi sosok nenek yang nyaris berusia seabad yang sedang tengah terkapar
sakit parah itu. Nenek itu terus saja mengigau merintih dan menangis memohon
ampun serta pertolongan makhluk hidup yang ada di dekatnya itu. Selimut jarit
batik parang modern coklat hitam yang menutupi setengah bagian tubuh nenek itu
terus saja ditendang terlepas dari tubuh nenek itu kemudian seorang lelaki yang
amat tak asing dalam kehidupan Ilalang tampak mengambil dan menutupkan jarit
itu di tubuh sang nenek yang pesakitan itu. Lelaki itu adalah ayah kandung
Ilalang.
Orang-orang
mengerubungi nenek itu sembari saling mengobrol dengan berbisik lirih. Beberapa
perempuan tampak mondar-mandir. Beberapa diantaranya ada yang menahan isak, ada
yang mengambilkan air minum, ada yang tampak menelephone kerabat di pojokan
kamar, ada pula yang momong anak balitanya. Sementara seorang gadis yang
merupakan cucu nenek itu hanya diam, mukanya ditekuk, isaknya sampai di
tenggorokan namun, berusaha ia sembunyikan seaman mungkin. Ia tak ingin
terlihat sedih di hadapan orang-orang itu.
Seorang lelaki
yang hanya tampak punggungnya sedang duduk menghadap si nenek pesakitan itu.
Lelaki yang amat disayangi oleh Ilalang. Mengenakan jaket abu-abu dan celana
kempolan yang panjangnya tiga perempat bermotif doreng sedikit memudar
warnanya. Lengkap beserta kacamata yang terselip di antara kedua telinganya.
Celana, jaket, dan kacamata itu adalah ciri khas lelaki bernama Aksar. Kali ini
dengan sandal gunung berwarna hitam.
Ilalang
terheran-heran perihal maksud dan tujuan lelaki itu. Ia kaget tapi, masa bodoh.
Dari mana lelaki ini datang, untuk apa ia juga turut menunggu dan menjaga
neneknya, bukankah ia belum pernah mengenalkan lelaki itu kepada keluarganya.
Mengapa seolah semua sudah amat akrab dengan lelaki itu dan menerima lelaki itu
dengan baik. Bahkan mengapa lelaki itu mau repot-repot datang untuk menengok
neneknya. Rasa heran yang masih menyelimuti perlahan berubah menjadi rasa
bahagia karena lelaki ini akhirnya sudah menjalin kedekatan dengan keluarganya
yang itu berarti sebuah pertanda baik.
-----
Zleeeepppp,
byaaaar.... Mendadak kedua matanya terbuka. Berkedap-kedip sebentar.
Berharap terpejam lagi untuk melanjutkan kelanjutan kisah yang baru saja ia
saksikan. Pemandangan menyedihkan dan mengandung hikmah namun, lagi-lagi justru
menghadirkan sebuah pertanyaan baru yang menambah stok rasa ingin tahunya akan
misteri kehidupan. Yang sebenarnya idealismenya tidak terlalu mempercayai itu.
Lelaki itu
datang dalam mimpinya, alam bawah sadarnya. Beberapa menit sebelum ia terlelap
memang ia sempat memikirkan Aksar. Ia merindu berat setiap menjelang tidur.
Mengharap kadang memaksa semesta agar mengiyakan keinginannya terbaring
bersanding dengan lelaki imaginasinya. Bukankah ilmuwan psikologi memang
membenarkan bahwa mimpi adalah alam bawah sadar yang merupakan representasi
dari kondisi perasaan maupun pikiran manusia itu sendiri. Tapi, orang-orang tua
mengatakan bahwa mimpi itu beraneka penafsiran. Kembang tidur hingga isyarat.
Ilalang gadis liar itu terus yakin bahwa mimpinya adalah isyarat. Isyarat bahwa
semesta telah mengatur mereka untuk disatukan.
Hingga kemudian
hatinya kembali bergemuruh tatkala ia mendengar kabar dari ibunya bahwa
neneknya sedang sakit parah. Sementara lelaki yang datang menjenguk dan menjaga
neneknya dalam mimpinya itu tidak ada di hadapannya. Tak ada yang ia mampu
lakukan seketika itu kecuali menyegerakan untuk pulang. Masih tak percaya
wanita tua yang selalu menanyakan siapa dia berulang kali dalam sehari itu yang
selalu berharap masih tetap hidup hingga Ilalang menikah kini tengah berada di
antara kebimbangan. Meninggalkan dunia sebelum cucu kesayangannya menikah dan
terbebas dari rasa sakit ataukah bertahan di dunia dengan rasa sakit yang
menjalar menjamah seluruh bagian tubuhnya tanpa ampun. Dan ia memilih untuk
pulang sebelum lelaki berkacamata itu mengenal, mencium tangannya, memanggilnya
nenek, serta menjadi bagian sah dari keluarganya. Entah cucu ke berapa puluh.
Di tatapnya
wajah sang nenek yang berubah menjadi pucat pasi itu. Mata neneknya tak
bergerak kemudian ditutupi uang receh lima ratusan perak. Ia menangis
sesenggukan, meraung penuh sesal di samping jenazah neneknya sembari memeluk
ayahnya. Ia kuat-kuatkan jiwa beserta raganya untuk memandikan hingga mengantar
sang nenek ke pusara terakhirnya.
-----
Ilalang masih
tersungkur di atas kasur sembari menatap semakin lekat langit sore itu. “Seandainya
kamu mau mendengar cerita itu, Mas? Oh ya nanti akan kuceritakan padamu, Mas.
Di sore yang persih seperti sore ini hanya berbeda tanggal, bulan, dan tahun
saja, Mas.”
Isyarat di
mimpinya itu ia ingat betul, ia percaya betul. Mimpi itu adalah penguatnya
tatkala nyaris melepaskan harapan pada Aksara. Masih saja keras hati ia memaksa
semesta dan memohon agar semesta percaya padanya bahwa Aksar akan menikahinya
tepat menjelang usianya yang ke-25. Segala harapan yang ia lukiskan pada
hari-harinya adalah Aksara lah yang akan menjadi teman hidupnya, teman
tidurnya, teman bertengkar dan berdebatnya perihal hal-hal kecilnya, teman yang
akan terus menemaninya menulis sejarah untuk kehidupannya berikutnya dan
seterusnya. Teman yang pada keningnya rindu dan cinta Aksar akan pulang.
Ia kembali
tersenyum pada langit sore yang tak terpantul cahaya senja itu. Senyuman
meyakinkan semesta bahwa ia akan tetap menunggu Aksar membalas surat cintanya.
Kemudian ia tekan tombol power pada HP nya membuka whatsapp mengetik tiga kata,
“Mas, aku kangen!” Pesan singkat itu dialamatkan pada kontak bernama
“Mas Aksar”.


Trus mas askarnya balas apa deb?
BalasHapus