animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Rabu, 18 Desember 2019

Dua Temu di Antara Buku-buku


Dua Temu di Antara Buku-buku
Oleh: Debby Pratiwi


Sebelum menulis ini tentu saja aku harus mengumpulkan niat setelah lebih dari satu tahun pertemuan tak sengaja yang menyisakan bekas berupa sekuntum kenangan dan pertemanan yang masih berlanjut hingga kini. Yaa, meskipun hanya pertemanan tanpa pertemuan lanjutan. Tentu saja aku juga butuh waktu untuk sejenak mengingat “pada moment apa kita bertemu”. Ahhhh, ludes. Sedikit hilang memori ingatanku perihal pertemuan paling mengesankan itu, di kota yang selalu kupuja dan kurindukan tak henti-henti sampai kini. 

Dua kali tatap mata dan paket komplit perjumpaan itu yang meliputi: pertemuan, saling melihat, saling menyapa, dan saling bosa-basi mencari topik obrolan. Tapi, kau yang unik, sastrawan, sekaligus berwajah seniman, selalu menari-nari dalam anganku pasca pertemuan terakhir itu. Pertemuan yang masih belum menemukan episode lanjutannya. Lagi-lagi, sembari menulis ini aku masih menerka-nerka kembali ingatanku. Memaksa ia kembali ke pertemuan pertama kita. Kupaksa ia menceritakan kepada diriku “alasan atau kejadian apa yang memaksa kita bertemu”. Ini tidak biasa bagiku. Kenangan seberkesan itu mengapa menguap dari kotak-kotak kenanganku. Ahhh ingatan, kumohon kembalilah! Bawa aku dalam suasana sejuk layaknya terkena basah gerimis pagi di Jogja. 

Banyak orang sudah menghafalku bahwa aku adalah pengagum Jogja garis keras, pecinta bahkan. Jogja memang dekat dengan sejarah mengapa aku sampai di Surabaya. Jogja adalah impianku sejak aku SMP. Jogja adalah kota kecil yang ingin kutinggali di masa depan. Sendiri ataupun telah menggenap. Sebentar ataupun lama. Menetap atau hanya singgah mencari ilmu. Boleh kan kita memiliki mimpi semacam itu. Saat lulus SMK aku memiliki cita-cita sederhana, yaitu ingin menjadi penulis novel. Itu impian yang telah terpatri kuat sejak duduk di bangku kelas III SD tepatnya. Saat remaja menjelang kelulusan itu pula aku memiliki impian sederhana. Yaitu ingin menulis novel di bawah rintik gerimis langit Jogja. Membayangkan betapa diksi dan imaginasi akan berjalan begitu liar tatkala ia diguyur sedikit saja gerimis pagi ataupun sore, yang penting itu di Jogja. Bahkan hingga dewasa aku masih memiliki impian bertemu dengan orang istimewa di Jogja.

Tuhan memang tak akan tinggal diam dengan impian hambaNya yang telah digantungkan di dinding-dinding kamar kos-kosan atau di dalam buku harian seorang anak manusia. Beberapa tahun selepasku berpisah dari Jogja, Tuhan menghadiahkan aku kesempatan untuk datang dan memeluk Jogja. Rinduku seperti basah kala itu. 

Tiba di paragraf keempat tulisanku ini aku baru ingat alasanku datang ke Jogja penghujung November itu. Iya, aku datang ke wisuda sahabat mayaku. Baik, setidaknya aku bisa melanjutkan tulisan ini dengan gembira karena sepotong memori yang hilang sudah kutemukan. 

Sejak 2017 lalu pasca pertemuanku dengan seorang penggiat literasi di Solo, setiap ke Jogja perpustakaan tempatnya berkecimpung dengan buku-buku adalah destinasi utamaku. Selain karena tempatnya yang nyaman, di tengah kota, dekat dengan masjid, bersama buku-buku, tentunya aku akan nebeng bermalam di kos-kosan temanku ini yang tak jauh dari perpustakaan. 

Sore itu setelah di antar babang OJOL aku langsung menuju perpustakaan itu. Menyapa pustakawannya sambil menanyakan dimana keberadaan sahabat seperbukuanku. Hingga kemudian aku memutuskan duduk di pojokan yang dekat dengan colokan sambil mencari judul buku yang menarik untuk menjadi teman duduk. Sampai kemudian seorang “Mas-mas” dengan mengenakan celana panjang, kaos yang dibalut dengan kemeja, topi unik ala Andrea Hirata menutupi rambutya yang gondrong seleher, dan kacamatanya, datang menyapaku. Dia adalah kamu, yang tiba-tiba mendekat dan mengajak ngobrol katanya sih ditugaskan oleh teman yang kutunggu itu. Bermula dari bosa-basi berlanjut diskusi. 

Pertama-tama kamu menanyakan namaku. Kita saling bersalam kenal. Kemudian kamu bertanya aku datang dari mana. Kujawab pertanyaanmu dan aku membalas pertanyaan yang sama, tentu saja dengan jawaban kita yang berbeda. Ternyata kamu adalah Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Konon yang kutahu dari kampusmu banyak terlahir para seniman-seniman dan sastrawan kondang. Kamupun sangat mungkin untuk menjadi tersohor seperti mereka. Kamu bertanya asal kampusku, jurusanku apa, sampai bagaimana bisa mengenal dan berteman baik dengan kurator perpustakaan tempat kita berbincang sore itu. 

Pada bab selanjutnya kamu mulai memberiku stimulus untuk mengobrol sedikit lebih jauh. Menghubungkan ilmumu dan ilmuku. Titik tengahnya adalah mengenai “semiotika”. Psikologi yang kupelajari memang berkaitan erat dengan banyak ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah dengan seni. Kamu yang tengah memperdalam ilmu desainmu, rupanya juga mempelajari bagaimana sebuah desain mampu mempengaruhi orang atau setidaknya kamu bisa meramal apakah orang mampu menerjemahkan apa yang tersirat dari sebuah gambar. Semiotika. Aku seperti pernah mendengarnya. Aku menggelengkan kepala penuh tanda tanya. Kemudian kamu menjelaskan singkat. Menurutmu semiotika adalah bagaimana sebuah simbol mampu menceritakan sesuatu dan di situlah ilmu psikologi diterapkan dalam ilmu yang kamu pelajari. 

Kita berbincang hanya sebentar, tentu saja menurut perasaanku. Hanya “semiotika” yang hingga kini selalu mengait di kepalaku. Jika ada orang atau tulisan menyebutkan kata “semiotika” maka ingatan ini akan secara otomatis terhubung dengan kesan saat mengenalmu yang hanya sebentar sekali. Kamu orang yang asyik sekali. Orang dengan dunia asyik kedua versiku setelah ‘dia yang di Surabaya’. Tapi, kamu unik. Apalagi kamu mahasiswa ISI tentu saja sangat keren dalam penilaian subyektifku. Temanku datang. Pembicaraan kita terhenti entah sampai dimana. Aku lupa lagi...

Hari berikutnya masih di tempat yang sama.
Aku mengikuti seminar parenting yang diadakan perpustakaan yang kebetulan diselenggarakan saat aku sedang di Jogja. Tuhan rupanya sudah merencanakan pertemuan itu. Kita kembali bertemu dalam satu ruang dan satu forum. Kamu asyik memotret kegiatan dan bercanda tawa dengan teman sesama relawan literasi. Sesekali kudengar tawamu. Tapi, aku tidak tahu apa yang kau ketawakan. 

Sepulang dari Jogja, sumringah wajahku tak bisa kusembunyikan. Aku sangat gembira atas kesan yang diberikan Tuhan ini. Dipertemukan dengan orang seistimewa kamu. Di atas kereta sebenarnya aku merutuk kepulanganku yang secepat ini. Aku masih ingin berbincang denganmu. Masih ingin melihatmu dengan topi unik itu, kaos berbalut kemeja tak dikancing. Ahhhh.... Secepat itu kekagumanku muncul. 

Sampai di Surabaya ‘kamu’ adalah oleh-oleh yang hangat yang kuceritakan kepada sahabat-sahabatku sepanjang hari. Aku mencari namamu di instagram. Kemudian aku menemukan akunmu. Kita saling follow lalu kemudian episode percakapan itu berlanjut di DM instagram. Lalu aku dan kamu saling bertukar nomor WA. Obrolan berlanjut di WA. Saat itu aku merasa menemukan definisi baru tentang gembira. Aku dan kamu saling bercanda, berdiskusi, sampai saling berbagi cerita buku apa yang aku dan kamu sukai. Kamu memintaku memberimu hadiah buku untuk hari ulang tahunmu. Kamu mengirimkan foto KTP mu sebagai tanda verifikasi tanggal lahirmu bahwa itu valid. Kamu tidak sedang berbohong. Katanya kamu ingin mendapatkan kenang-kenangan buku dariku. Katamu akan berbeda sebuah buku yang diberi orang lain dengan buku yang kita beli sendiri. 

Beberapa hari setelah kepulanganku dari Jogja, aku menerima kabar bahagia. Aku ditugaskan kantor tempatku bekerja untuk mengikuti Camp dan Festival di Kaliurang, Yoggyakarta lagi. Tentu saja aku lebih bergembira lagi. Entah akan dipertemukan dengan kamu lagi atau tidak itu biar diurus sama Tuhan. Rupanya Tuhan baik sekali ya. Hadiah wisudaku untuk ke Jogja bisa dua kali begini. 

Minggu pertama Desember itu aku berangkat dan naik kendaraan faforitku lagi, yaitu kereta api. Kereta api dengan tiket yang agak mahal karena belinya saat mendekati hari H. Dengan tas carier besar aku menaiki kereta api Surabaya Gubeng menuju Lempuyangan Yogyakarta dengan penuh binar-binar kegembiraan. Bayangan lereng merapi yang sejuk sudah mulai kucium dari suara kereta. Buku yang kubawa menemani 5 jam lebih perjalananku ke Jogja. Aku selalu suka perjalanan ke Jogja. Jogja sudah seperti rumahku.

Sampai di Jogja seperti biasa aku singgah dulu di sahabat seperbukuanku. Dia sedang sibuk menyiapkan acara di perpustakaan. Sampai akhirnya aku berangkat dari kos-kosannya ke perpustakaan seorang diri sambil berpamitan. Dan kulihat dia sedang membercandai teman-teman perempuannya. Dia menyapaku. Aku biasa saja karena aku bukanlah tipikal orang yang mudah mengungkapkan kondisi emosiku di depan banyak orang. Dia bertanya seputar keberangkatanku ke Kaliurang. Aku menjawabnya hanya dengan beberapa kata saja. Tentu saja dia mungkin berpikiran bahwa aku tak serenyah saat di chat. Biarkan sajalah....

Pulang dari Kaliurang aku tak bertemu dia di perpustakaan. Sampai aku meninggalkan Jogja dia tidak datang. Aku pulang dengan segala kesedihan seperti biasanya. Aku akan lama tidak ke Jogja sepertinya. Apakah mungkin nanti saat aku ke Jogja lagi kita masih bisa bertemu di perpustakaan itu? Ataukau kamu sudah kembali ke asalmu? Aku tidak bisa menerka itu. 

Beberapa bulan setelah itu kulihat tayangan youtubenya. Kamu sedang mengulas kumpulan puisi Aan Mansyur yang ditayangkan di akun youtube perpustakaan. Pandanganku teralihkan. Kulihat di jemari manismu ada sebuah cincin melingkar. Akupun memberanikan diri mengkonfirmasi cincin itu. Apakah betul itu cincin tunangan atau.....? Kamu mengiyakan. Aku masih tidak percaya namun, kamu masih menjawab dengan pesan-pesan tersiratmu yang tak mampu ku terjemahkan hingga kini. Baiklah, akhirnya aku memutuskan untuk percaya sekaligus memutuskan untuk menumbangkan segala bibit harapan dan rasa nyaman yang mulai tumbuh dari pertemanan yang hanya dua kali pertemuan. Baik-baiklah kamu dan apapun yang terjadi, jangan meninggalkan buku-buku yang pernah menjadi saksi bisu dua temu aku dan kamu di sebuah sore dengan rintik hutan mengguyur tanah Jogja dan perpusatakaan itu.  (Debby)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar