Dua Temu di
Antara Buku-buku
Oleh: Debby
Pratiwi
Sebelum
menulis ini tentu saja aku harus mengumpulkan niat setelah lebih dari satu
tahun pertemuan tak sengaja yang menyisakan bekas berupa sekuntum kenangan dan
pertemanan yang masih berlanjut hingga kini. Yaa, meskipun hanya pertemanan
tanpa pertemuan lanjutan. Tentu saja aku juga butuh waktu untuk sejenak
mengingat “pada moment apa kita bertemu”. Ahhhh, ludes. Sedikit hilang memori
ingatanku perihal pertemuan paling mengesankan itu, di kota yang selalu kupuja dan
kurindukan tak henti-henti sampai kini.
Dua kali
tatap mata dan paket komplit perjumpaan itu yang meliputi: pertemuan, saling
melihat, saling menyapa, dan saling bosa-basi mencari topik obrolan. Tapi, kau
yang unik, sastrawan, sekaligus berwajah seniman, selalu menari-nari dalam
anganku pasca pertemuan terakhir itu. Pertemuan yang masih belum menemukan
episode lanjutannya. Lagi-lagi, sembari menulis ini aku masih menerka-nerka
kembali ingatanku. Memaksa ia kembali ke pertemuan pertama kita. Kupaksa ia
menceritakan kepada diriku “alasan atau kejadian apa yang memaksa kita bertemu”.
Ini tidak biasa bagiku. Kenangan seberkesan itu mengapa menguap dari
kotak-kotak kenanganku. Ahhh ingatan, kumohon kembalilah! Bawa aku dalam suasana
sejuk layaknya terkena basah gerimis pagi di Jogja.
Banyak
orang sudah menghafalku bahwa aku adalah pengagum Jogja garis keras, pecinta
bahkan. Jogja memang dekat dengan sejarah mengapa aku sampai di Surabaya. Jogja
adalah impianku sejak aku SMP. Jogja adalah kota kecil yang ingin kutinggali di
masa depan. Sendiri ataupun telah menggenap. Sebentar ataupun lama. Menetap atau
hanya singgah mencari ilmu. Boleh kan kita memiliki mimpi semacam itu. Saat lulus
SMK aku memiliki cita-cita sederhana, yaitu ingin menjadi penulis novel. Itu impian
yang telah terpatri kuat sejak duduk di bangku kelas III SD tepatnya. Saat remaja
menjelang kelulusan itu pula aku memiliki impian sederhana. Yaitu ingin menulis
novel di bawah rintik gerimis langit Jogja. Membayangkan betapa diksi dan
imaginasi akan berjalan begitu liar tatkala ia diguyur sedikit saja gerimis
pagi ataupun sore, yang penting itu di Jogja. Bahkan hingga dewasa aku masih
memiliki impian bertemu dengan orang istimewa di Jogja.
Tuhan
memang tak akan tinggal diam dengan impian hambaNya yang telah digantungkan di
dinding-dinding kamar kos-kosan atau di dalam buku harian seorang anak manusia.
Beberapa tahun selepasku berpisah dari Jogja, Tuhan menghadiahkan aku
kesempatan untuk datang dan memeluk Jogja. Rinduku seperti basah kala itu.
Tiba di
paragraf keempat tulisanku ini aku baru ingat alasanku datang ke Jogja
penghujung November itu. Iya, aku datang ke wisuda sahabat mayaku. Baik,
setidaknya aku bisa melanjutkan tulisan ini dengan gembira karena sepotong
memori yang hilang sudah kutemukan.
Sejak 2017
lalu pasca pertemuanku dengan seorang penggiat literasi di Solo, setiap ke
Jogja perpustakaan tempatnya berkecimpung dengan buku-buku adalah destinasi
utamaku. Selain karena tempatnya yang nyaman, di tengah kota, dekat dengan
masjid, bersama buku-buku, tentunya aku akan nebeng bermalam di
kos-kosan temanku ini yang tak jauh dari perpustakaan.
Sore itu
setelah di antar babang OJOL aku langsung menuju perpustakaan itu. Menyapa pustakawannya
sambil menanyakan dimana keberadaan sahabat seperbukuanku. Hingga kemudian aku
memutuskan duduk di pojokan yang dekat dengan colokan sambil mencari judul buku
yang menarik untuk menjadi teman duduk. Sampai kemudian seorang “Mas-mas”
dengan mengenakan celana panjang, kaos yang dibalut dengan kemeja, topi unik
ala Andrea Hirata menutupi rambutya yang gondrong seleher, dan kacamatanya,
datang menyapaku. Dia adalah kamu, yang tiba-tiba mendekat dan mengajak ngobrol
katanya sih ditugaskan oleh teman yang kutunggu itu. Bermula dari bosa-basi
berlanjut diskusi.
Pertama-tama
kamu menanyakan namaku. Kita saling bersalam kenal. Kemudian kamu bertanya aku
datang dari mana. Kujawab pertanyaanmu dan aku membalas pertanyaan yang sama,
tentu saja dengan jawaban kita yang berbeda. Ternyata kamu adalah Mahasiswa
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Konon yang kutahu dari kampusmu
banyak terlahir para seniman-seniman dan sastrawan kondang. Kamupun sangat
mungkin untuk menjadi tersohor seperti mereka. Kamu bertanya asal kampusku,
jurusanku apa, sampai bagaimana bisa mengenal dan berteman baik dengan kurator
perpustakaan tempat kita berbincang sore itu.
Pada bab
selanjutnya kamu mulai memberiku stimulus untuk mengobrol sedikit lebih jauh. Menghubungkan
ilmumu dan ilmuku. Titik tengahnya adalah mengenai “semiotika”. Psikologi yang
kupelajari memang berkaitan erat dengan banyak ilmu pengetahuan. Salah satunya
adalah dengan seni. Kamu yang tengah memperdalam ilmu desainmu, rupanya juga
mempelajari bagaimana sebuah desain mampu mempengaruhi orang atau setidaknya
kamu bisa meramal apakah orang mampu menerjemahkan apa yang tersirat dari
sebuah gambar. Semiotika. Aku seperti pernah mendengarnya. Aku menggelengkan
kepala penuh tanda tanya. Kemudian kamu menjelaskan singkat. Menurutmu semiotika
adalah bagaimana sebuah simbol mampu menceritakan sesuatu dan di situlah ilmu
psikologi diterapkan dalam ilmu yang kamu pelajari.
Kita berbincang
hanya sebentar, tentu saja menurut perasaanku. Hanya “semiotika” yang hingga kini
selalu mengait di kepalaku. Jika ada orang atau tulisan menyebutkan kata “semiotika”
maka ingatan ini akan secara otomatis terhubung dengan kesan saat mengenalmu
yang hanya sebentar sekali. Kamu orang yang asyik sekali. Orang dengan dunia
asyik kedua versiku setelah ‘dia yang di Surabaya’. Tapi, kamu unik. Apalagi kamu
mahasiswa ISI tentu saja sangat keren dalam penilaian subyektifku. Temanku
datang. Pembicaraan kita terhenti entah sampai dimana. Aku lupa lagi...
Hari berikutnya masih di tempat yang sama.
Aku mengikuti
seminar parenting yang diadakan perpustakaan yang kebetulan diselenggarakan
saat aku sedang di Jogja. Tuhan rupanya sudah merencanakan pertemuan itu. Kita kembali
bertemu dalam satu ruang dan satu forum. Kamu asyik memotret kegiatan dan
bercanda tawa dengan teman sesama relawan literasi. Sesekali kudengar tawamu. Tapi,
aku tidak tahu apa yang kau ketawakan.
Sepulang dari
Jogja, sumringah wajahku tak bisa kusembunyikan. Aku sangat gembira atas kesan
yang diberikan Tuhan ini. Dipertemukan dengan orang seistimewa kamu. Di atas
kereta sebenarnya aku merutuk kepulanganku yang secepat ini. Aku masih ingin
berbincang denganmu. Masih ingin melihatmu dengan topi unik itu, kaos berbalut
kemeja tak dikancing. Ahhhh.... Secepat itu kekagumanku muncul.
Sampai di
Surabaya ‘kamu’ adalah oleh-oleh yang hangat yang kuceritakan kepada
sahabat-sahabatku sepanjang hari. Aku mencari namamu di instagram. Kemudian aku
menemukan akunmu. Kita saling follow lalu kemudian episode percakapan
itu berlanjut di DM instagram. Lalu aku dan kamu saling bertukar nomor WA.
Obrolan berlanjut di WA. Saat itu aku merasa menemukan definisi baru tentang
gembira. Aku dan kamu saling bercanda, berdiskusi, sampai saling berbagi cerita
buku apa yang aku dan kamu sukai. Kamu memintaku memberimu hadiah buku untuk
hari ulang tahunmu. Kamu mengirimkan foto KTP mu sebagai tanda verifikasi
tanggal lahirmu bahwa itu valid. Kamu tidak sedang berbohong. Katanya kamu
ingin mendapatkan kenang-kenangan buku dariku. Katamu akan berbeda sebuah buku
yang diberi orang lain dengan buku yang kita beli sendiri.
Beberapa hari
setelah kepulanganku dari Jogja, aku menerima kabar bahagia. Aku ditugaskan
kantor tempatku bekerja untuk mengikuti Camp dan Festival di Kaliurang,
Yoggyakarta lagi. Tentu saja aku lebih bergembira lagi. Entah akan dipertemukan
dengan kamu lagi atau tidak itu biar diurus sama Tuhan. Rupanya Tuhan baik
sekali ya. Hadiah wisudaku untuk ke Jogja bisa dua kali begini.
Minggu pertama
Desember itu aku berangkat dan naik kendaraan faforitku lagi, yaitu kereta api.
Kereta api dengan tiket yang agak mahal karena belinya saat mendekati hari H.
Dengan tas carier besar aku menaiki kereta api Surabaya Gubeng menuju
Lempuyangan Yogyakarta dengan penuh binar-binar kegembiraan. Bayangan lereng
merapi yang sejuk sudah mulai kucium dari suara kereta. Buku yang kubawa
menemani 5 jam lebih perjalananku ke Jogja. Aku selalu suka perjalanan ke
Jogja. Jogja sudah seperti rumahku.
Sampai di
Jogja seperti biasa aku singgah dulu di sahabat seperbukuanku. Dia sedang sibuk
menyiapkan acara di perpustakaan. Sampai akhirnya aku berangkat dari
kos-kosannya ke perpustakaan seorang diri sambil berpamitan. Dan kulihat dia
sedang membercandai teman-teman perempuannya. Dia menyapaku. Aku biasa saja
karena aku bukanlah tipikal orang yang mudah mengungkapkan kondisi emosiku di
depan banyak orang. Dia bertanya seputar keberangkatanku ke Kaliurang. Aku
menjawabnya hanya dengan beberapa kata saja. Tentu saja dia mungkin berpikiran
bahwa aku tak serenyah saat di chat. Biarkan sajalah....
Pulang dari
Kaliurang aku tak bertemu dia di perpustakaan. Sampai aku meninggalkan Jogja
dia tidak datang. Aku pulang dengan segala kesedihan seperti biasanya. Aku akan
lama tidak ke Jogja sepertinya. Apakah mungkin nanti saat aku ke Jogja lagi
kita masih bisa bertemu di perpustakaan itu? Ataukau kamu sudah kembali ke
asalmu? Aku tidak bisa menerka itu.
Beberapa bulan
setelah itu kulihat tayangan youtubenya. Kamu sedang mengulas kumpulan puisi
Aan Mansyur yang ditayangkan di akun youtube perpustakaan. Pandanganku teralihkan.
Kulihat di jemari manismu ada sebuah cincin melingkar. Akupun memberanikan diri
mengkonfirmasi cincin itu. Apakah betul itu cincin tunangan atau.....? Kamu
mengiyakan. Aku masih tidak percaya namun, kamu masih menjawab dengan
pesan-pesan tersiratmu yang tak mampu ku terjemahkan hingga kini. Baiklah,
akhirnya aku memutuskan untuk percaya sekaligus memutuskan untuk menumbangkan
segala bibit harapan dan rasa nyaman yang mulai tumbuh dari pertemanan yang
hanya dua kali pertemuan. Baik-baiklah kamu dan apapun yang terjadi, jangan
meninggalkan buku-buku yang pernah menjadi saksi bisu dua temu aku dan kamu di
sebuah sore dengan rintik hutan mengguyur tanah Jogja dan perpusatakaan
itu. (Debby)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar