animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Jumat, 28 Desember 2018

ISYARAT



Oleh: Debby Pratiwi


“Mas, apa nanti kita benar-benar bisa menikah?” Pertanyaan pembunuh yang selalu saja menyesakkan dadanya. Pertanyaan bodoh yang berulang-ulang dia pertanyakan pada dirinya sendiri yang tengah tersungkur dengan kepala diatas bantal bersarung kotak-kotak biru berpadu warna coklat dan krem. Matanya kosong sedikit berbinar yang sebentar lagi binar yang menggenang di pelupuk matanya dipastikan akan jatuh ke bantal yang menopangnya. Pandangannya mengarah menatap langit sore yang tertutup awan putih tak beraturan melukiskan apa. Bukan langit senja yang sedang ia pandangi lekat-lekat sore itu karena jendela kamar asramanya menghadap melawan arah kiblat sehingga yang nampak hanyalah warna langit yang nyaris tak berubah dari pagi hingga sore.
Langit senja baginya teramat mahal lagi pula susah dijumpai di Kota metropolitan begini. Gedung-gedung dan rumah-rumah bertingkat menghalangi pemandangan senja yang kata orang-orang indah. Jika sedang ingin menikmati senja ia lebih suka terjaga sehabis sholat subuh dan menunggu matahari terbit karena warna gelap langit malam yang berubah menjadi pagi yang cerah memudar pada waktu tersebut.
Pertanyaannya seputar kapan lelaki berkacamata itu akan menikahinya terus saja mencercanya. Ia gusar, ia marah, ia ingin mengamuk pada takdir. Ia membenci segala misteri tentang kehidupannya terutama mengenai perasaannya pada lelaki itu. Hingga kemudian ia mencoba protes pada takdir dengan pura-pura diam sembari menerka-nerka lagi dan terus merawat baik-baik impiannya untuk bersanding dengan lelaki yang sangat mirip dengan lelaki dalam imaginasinya itu.
Berkacamata, suka membaca buku tebal, menyukai anak-anak, dan ramah dengan sipapun. Terlebih lelaki itu menjanjikan akan mengajaknya mendaki gunung berdua di musim yang tidak lagi basah. Lelaki yang sempurna bagi Ilalang sekalipun lelaki itu sebenarnya cacat pandangannya karena matanya minus 5 dan berkacamata sejak masih duduk di bangku SD. Tetapi, di mata gadis keras kepala yang kulitnya hitam laksana kopi susu yang kebanyakan rabuk kopi itu Aksara adalah lelaki yang hanya dengan mengingat senyum dan mata dibalik kacamata tebalnya selalu membuat Lala jatuh cinta berulang-ulang.
“Mas, nanti kalau kita menikah kita bulan madu berdua di Gunung Merbabu yaaa?” Gumamnya sekali lagi terdengar sesenggukan dan isak lirih disusul genangan yang mengalir lembut melewati pipinya yang seperti donat gosong. Cepat-cepat tangannya dengan kasar mengibaskan dan memaksa menghentikan tangisan kecil yang entah sudah tangis ke berapa dengan keluh kesah yang sama persis tak berubah.
“Mas, aku rindu”, tangisnya semakin menjadi. Ia merindukan bagaimana hatinya selalu berdebar, mukanya mendadak menjadi merah, urat malu seolah menjalar membelit dirinya yang nyaris di mata kawan-kawannya Ilalang adalah perempuan yang diciptakan Tuhan tanpa urat malu. Kali ini ia selalu saja mati kutu, tak bergeming, bergerak pun ia merasa serba salah takut pandangannya seolah seperti salah arah dan tepat pada wajah sempurna di balakangnya, Aksar.
---------
Semua orang mengerubungi sosok nenek yang nyaris berusia seabad yang sedang tengah terkapar sakit parah itu. Nenek itu terus saja mengigau merintih dan menangis memohon ampun serta pertolongan makhluk hidup yang ada di dekatnya itu. Selimut jarit batik parang modern coklat hitam yang menutupi setengah bagian tubuh nenek itu terus saja ditendang terlepas dari tubuh nenek itu kemudian seorang lelaki yang amat tak asing dalam kehidupan Ilalang tampak mengambil dan menutupkan jarit itu di tubuh sang nenek yang pesakitan itu. Lelaki itu adalah ayah kandung Ilalang.
Orang-orang mengerubungi nenek itu sembari saling mengobrol dengan berbisik lirih. Beberapa perempuan tampak mondar-mandir. Beberapa diantaranya ada yang menahan isak, ada yang mengambilkan air minum, ada yang tampak menelephone kerabat di pojokan kamar, ada pula yang momong anak balitanya. Sementara seorang gadis yang merupakan cucu nenek itu hanya diam, mukanya ditekuk, isaknya sampai di tenggorokan namun, berusaha ia sembunyikan seaman mungkin. Ia tak ingin terlihat sedih di hadapan orang-orang itu.
Seorang lelaki yang hanya tampak punggungnya sedang duduk menghadap si nenek pesakitan itu. Lelaki yang amat disayangi oleh Ilalang. Mengenakan jaket abu-abu dan celana kempolan yang panjangnya tiga perempat bermotif doreng sedikit memudar warnanya. Lengkap beserta kacamata yang terselip di antara kedua telinganya. Celana, jaket, dan kacamata itu adalah ciri khas lelaki bernama Aksar. Kali ini dengan sandal gunung berwarna hitam.
Ilalang terheran-heran perihal maksud dan tujuan lelaki itu. Ia kaget tapi, masa bodoh. Dari mana lelaki ini datang, untuk apa ia juga turut menunggu dan menjaga neneknya, bukankah ia belum pernah mengenalkan lelaki itu kepada keluarganya. Mengapa seolah semua sudah amat akrab dengan lelaki itu dan menerima lelaki itu dengan baik. Bahkan mengapa lelaki itu mau repot-repot datang untuk menengok neneknya. Rasa heran yang masih menyelimuti perlahan berubah menjadi rasa bahagia karena lelaki ini akhirnya sudah menjalin kedekatan dengan keluarganya yang itu berarti sebuah pertanda baik.
-----
Zleeeepppp, byaaaar.... Mendadak kedua matanya terbuka. Berkedap-kedip sebentar. Berharap terpejam lagi untuk melanjutkan kelanjutan kisah yang baru saja ia saksikan. Pemandangan menyedihkan dan mengandung hikmah namun, lagi-lagi justru menghadirkan sebuah pertanyaan baru yang menambah stok rasa ingin tahunya akan misteri kehidupan. Yang sebenarnya idealismenya tidak terlalu mempercayai itu.
Lelaki itu datang dalam mimpinya, alam bawah sadarnya. Beberapa menit sebelum ia terlelap memang ia sempat memikirkan Aksar. Ia merindu berat setiap menjelang tidur. Mengharap kadang memaksa semesta agar mengiyakan keinginannya terbaring bersanding dengan lelaki imaginasinya. Bukankah ilmuwan psikologi memang membenarkan bahwa mimpi adalah alam bawah sadar yang merupakan representasi dari kondisi perasaan maupun pikiran manusia itu sendiri. Tapi, orang-orang tua mengatakan bahwa mimpi itu beraneka penafsiran. Kembang tidur hingga isyarat. Ilalang gadis liar itu terus yakin bahwa mimpinya adalah isyarat. Isyarat bahwa semesta telah mengatur mereka untuk disatukan.
Hingga kemudian hatinya kembali bergemuruh tatkala ia mendengar kabar dari ibunya bahwa neneknya sedang sakit parah. Sementara lelaki yang datang menjenguk dan menjaga neneknya dalam mimpinya itu tidak ada di hadapannya. Tak ada yang ia mampu lakukan seketika itu kecuali menyegerakan untuk pulang. Masih tak percaya wanita tua yang selalu menanyakan siapa dia berulang kali dalam sehari itu yang selalu berharap masih tetap hidup hingga Ilalang menikah kini tengah berada di antara kebimbangan. Meninggalkan dunia sebelum cucu kesayangannya menikah dan terbebas dari rasa sakit ataukah bertahan di dunia dengan rasa sakit yang menjalar menjamah seluruh bagian tubuhnya tanpa ampun. Dan ia memilih untuk pulang sebelum lelaki berkacamata itu mengenal, mencium tangannya, memanggilnya nenek, serta menjadi bagian sah dari keluarganya. Entah cucu ke berapa puluh.
Di tatapnya wajah sang nenek yang berubah menjadi pucat pasi itu. Mata neneknya tak bergerak kemudian ditutupi uang receh lima ratusan perak. Ia menangis sesenggukan, meraung penuh sesal di samping jenazah neneknya sembari memeluk ayahnya. Ia kuat-kuatkan jiwa beserta raganya untuk memandikan hingga mengantar sang nenek ke pusara terakhirnya.
-----
Ilalang masih tersungkur di atas kasur sembari menatap semakin lekat langit sore itu. “Seandainya kamu mau mendengar cerita itu, Mas? Oh ya nanti akan kuceritakan padamu, Mas. Di sore yang persih seperti sore ini hanya berbeda tanggal, bulan, dan tahun saja, Mas.”
Isyarat di mimpinya itu ia ingat betul, ia percaya betul. Mimpi itu adalah penguatnya tatkala nyaris melepaskan harapan pada Aksara. Masih saja keras hati ia memaksa semesta dan memohon agar semesta percaya padanya bahwa Aksar akan menikahinya tepat menjelang usianya yang ke-25. Segala harapan yang ia lukiskan pada hari-harinya adalah Aksara lah yang akan menjadi teman hidupnya, teman tidurnya, teman bertengkar dan berdebatnya perihal hal-hal kecilnya, teman yang akan terus menemaninya menulis sejarah untuk kehidupannya berikutnya dan seterusnya. Teman yang pada keningnya rindu dan cinta Aksar akan pulang.
Ia kembali tersenyum pada langit sore yang tak terpantul cahaya senja itu. Senyuman meyakinkan semesta bahwa ia akan tetap menunggu Aksar membalas surat cintanya. Kemudian ia tekan tombol power pada HP nya membuka whatsapp mengetik tiga kata, “Mas, aku kangen!” Pesan singkat itu dialamatkan pada kontak bernama “Mas Aksar”.

1 komentar: