Oleh: Ibed
“Huuuuwwwuuuusssss....” suara kipas angin kecil memenuhi isi
ruangan ini. Sedikit lebih jelas suara itu kudengar dibanding siang tadi.
Kadang suara itu diselingi suara dengkur tidur kawan-kawan yang merebahkan tubuhnya
karena lelah seharian. Sedikit mengganggu namun, aku suka malam. Dengkur maupun
suara putaran kipas angin di sampingku tidak mengganggu ketenangan malam yang
lagi-lagi aku begitu sayang bila harus melewatkan malam untuk tidur terlalu
sore. Aku tau ini tidak baik untuk pencernaan namun, ada yang lebih tidak baik
lagi yaitu pikiran yang dilanda kegelisahan. Aku tidak suka ketika ketika ada
yang menghakimi bahwa malam adalah penyebab anggota tubuh mereka mulai protes
dan menuduh malam sebagai tersangka penyebab kesakitannya sebuah raga. Tidak,
malam tidak sejahat itu kawan. Nyatanya malam selalu mengerti bahkan selalu
memelukku dalam segala keadaanku. Aku merasa hanya pada malam lah Tuhanku
selalu memelukku dengan hangat dan penuh kasih. Yahhhh.....
Oh ya ada lagi satu sumber suara yang
menemani malamku. Lagu setengah galau yang kuputar di Youtube. Kesunyian malam
membawaku terjerembab dalam kubangan ingatan beberapa bulan lalu yang
berhubungan dengan peristiwa yang kualami dalam waktu dekat ini. Adalah tentang
berhentinya sebuah harapan yang kemudian membuatku nyaris linglung dan
benar-benar memutuskan untuk berhenti berharap akan dua hal, yakni Laki-laki
dan Cinta. Gara-gara sebuah judul lagu tentang seseorang yang masih mencintai
disambung dengan lagu tentang seseorang yang berharap Tuhan menghapuskan
perasaan cintanya.
‘Tuuuuuwiiiiinggg...’ begitulah sekiranya tiba-tiba aku
teringat sabda ibunda tentang ketidakseharusan pada harapku. Ketidakharusan
berharap pada dia yang memiliki status sosial lebih tinggi dan sangat jauh
lebih tinggi daripada aku dan keluargaku. Seperti dihunus sebilah pisau tatkala
aku mendengar itu tanpa kupeduli sungguhkah itu atau hanya sebuah kebetulan.
Sekaligus seketika aku belajar dari keputusasaan. Mengikhlaskan sekalipun berat
dan ini bukan pertama kalinya. Untung saja kekaguman itu masih aman, masih
tersimpan rapat-rapat di hati belum sempat aku nekat mengutarakan
rupanya Tuhan mungkin memiliki rencana lain.
Dia terlihat sibuk dan asyik dengan
buku-bukunya seperti biasa. Masih tetap tampan dengan buku-bukunya dan mata
sipitnya dengan alis agak tebal hitam nyaris lurus bentuknya tanpa kelok. Aku
menunduk setelah beberapa detik ku sempatkan mengarahkan pandang kepadanya
setidaknya kubiarkan mataku liar mengobati rindunya pada kurator itu. Walau
kerinduan dalam hati beserta segenap kekaguman dan harapan yang pernah ada
tidak bisa kubohongi atau sekedar kututupi bahwa ia masih menganga layaknya
bara. “Yaa Alloh, dia. Orang yang pernah sangat kukagumi dalam diam yang
beberapa bulan lalu menjadi alasan mengapa aku tersedu dan sempat kalap lantaran
Tuhan tak segera mengabulkan takdirku sesuai harap.” Gumamku terkekeh dalam
hati.
Dengan kemeja abu-abu lengan panjang
yang sama saat ia kenakan ketika pertemuan sekaligus perbincangan kami yang
nyata. Entah dia masih ingat atau tidak, mungkin tidak karena itu hanya
berkesan untukku pengagum bodoh yang mencintainya lantaran susunan aksara dalam
beberapa tulisannya. Suara itu masih sama, tidak medok sepertiku seolah
mengatakan bahwa dia memang bukan peranakan Jawa meskipun sudah nyaris sedekade
ini tinggal di tanah Jawa yang konon Daerah Istimewa itu.
Di tengah antusiasme peserta sedang
dia pembicaranya, aku biarkan saja otak ini berkelana pada angan-angan yang tak
ku tahu kemana ujungnya dan hanya bisa kuterka saja bagaimana akhirnya. Mungkin
indah dan mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan rencana yang indah untuk tidak
membenarkan prasangkaku. Atau bisa jadi takdir Tuhan kali ini tidak seindah
imaginasi. Ahhhh... Apa-apaan ini.
Mereka, wanita yang usianya 1 tahun
dan 2 tahun diatasku sedang asik bertukar cerita tentang cinta yang semakin dekat dengan jalan hidup mereka untuk berjalan beriringan. Satu bercerita
tentang bagaimana perjalanan cintanya hingga kemudian menemukan dan mantap
menikah dengan laki-laki asal Kalimantan. Sedang satunya pun demikian,
menceritakan mengapa ia berlari dan turut dalam sekumpulan orang-orang yang
biasanya berkeliaran di jalanan yang saat ini terpenjara dalam ruang diskusi
nan megah. Rupanya ia sedang berlari dari rasa cemburu yang belakang membuat
hatinya terasa mencekam. Sedang aku hanya menimpali sekadarnya saja karena aku
tak memiliki pengalaman cinta hingga sejauh itu sambil kusandarkan daguku pada
tanganku.
Aku tak menggali terlalu dalam
pemahaman cinta menurut perspektif mereka, untuk apa? Yang aku tau bahwa aku
telah kehilangan makna cinta yang ideal menurutku. Aku juga tidak memiliki
kriteria lagi tentang laki-laki yang mungkin nantinya akan layak kukagumi.
Telah nyaris mati rasa itu dalam diri. Terlalu sibuk bila aku harus memikirkan
hal tak penting semacam cinta. Karena percuma saja aku mencoba mencintai sedang
aku tak pernah berhasil menyentuh hati seorang pemuda yang aku begitu tertarik
pada dunianya. Dunia mereka memang indah namun, akan begitu suram ramalanku
jika aku memaksa masuk dalam dunia mereka. Terlalu lemah bukan seorang wanita
jika hanya mengharap iba dan kasihan lelaki agar mencintainya. Tidak apa aku
tak menjadi bunga yang menjadi rebutan. Biarlah aku kembang kan menguncup lalu
mekar hingga layu sekehendak Tuhan sekalipun tanpa kumbang. Kumbang bagiku
hanyalah serangga yang mengambil manisku. Suatu saat mungkin aku akan lelah
sendiri dan saat itulah mungkin aku akan kembali menata keping harapku untuk
membuktikan apa yang kata orang indah. (13/12/2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar