animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Senin, 18 Desember 2017

Seumpama Kembang Tanpa Kumbang



Ilustrasi
Oleh: Ibed
“Huuuuwwwuuuusssss....” suara kipas angin kecil memenuhi isi ruangan ini. Sedikit lebih jelas suara itu kudengar dibanding siang tadi. Kadang suara itu diselingi suara dengkur tidur kawan-kawan yang merebahkan tubuhnya karena lelah seharian. Sedikit mengganggu namun, aku suka malam. Dengkur maupun suara putaran kipas angin di sampingku tidak mengganggu ketenangan malam yang lagi-lagi aku begitu sayang bila harus melewatkan malam untuk tidur terlalu sore. Aku tau ini tidak baik untuk pencernaan namun, ada yang lebih tidak baik lagi yaitu pikiran yang dilanda kegelisahan. Aku tidak suka ketika ketika ada yang menghakimi bahwa malam adalah penyebab anggota tubuh mereka mulai protes dan menuduh malam sebagai tersangka penyebab kesakitannya sebuah raga. Tidak, malam tidak sejahat itu kawan. Nyatanya malam selalu mengerti bahkan selalu memelukku dalam segala keadaanku. Aku merasa hanya pada malam lah Tuhanku selalu memelukku dengan hangat dan penuh kasih. Yahhhh.....
Oh ya ada lagi satu sumber suara yang menemani malamku. Lagu setengah galau yang kuputar di Youtube. Kesunyian malam membawaku terjerembab dalam kubangan ingatan beberapa bulan lalu yang berhubungan dengan peristiwa yang kualami dalam waktu dekat ini. Adalah tentang berhentinya sebuah harapan yang kemudian membuatku nyaris linglung dan benar-benar memutuskan untuk berhenti berharap akan dua hal, yakni Laki-laki dan Cinta. Gara-gara sebuah judul lagu tentang seseorang yang masih mencintai disambung dengan lagu tentang seseorang yang berharap Tuhan menghapuskan perasaan cintanya.
‘Tuuuuuwiiiiinggg...’ begitulah sekiranya tiba-tiba aku teringat sabda ibunda tentang ketidakseharusan pada harapku. Ketidakharusan berharap pada dia yang memiliki status sosial lebih tinggi dan sangat jauh lebih tinggi daripada aku dan keluargaku. Seperti dihunus sebilah pisau tatkala aku mendengar itu tanpa kupeduli sungguhkah itu atau hanya sebuah kebetulan. Sekaligus seketika aku belajar dari keputusasaan. Mengikhlaskan sekalipun berat dan ini bukan pertama kalinya. Untung saja kekaguman itu masih aman, masih tersimpan rapat-rapat di hati belum sempat aku nekat mengutarakan rupanya Tuhan mungkin memiliki rencana lain.
Dia terlihat sibuk dan asyik dengan buku-bukunya seperti biasa. Masih tetap tampan dengan buku-bukunya dan mata sipitnya dengan alis agak tebal hitam nyaris lurus bentuknya tanpa kelok. Aku menunduk setelah beberapa detik ku sempatkan mengarahkan pandang kepadanya setidaknya kubiarkan mataku liar mengobati rindunya pada kurator itu. Walau kerinduan dalam hati beserta segenap kekaguman dan harapan yang pernah ada tidak bisa kubohongi atau sekedar kututupi bahwa ia masih menganga layaknya bara. “Yaa Alloh, dia. Orang yang pernah sangat kukagumi dalam diam yang beberapa bulan lalu menjadi alasan mengapa aku tersedu dan sempat kalap lantaran Tuhan tak segera mengabulkan takdirku sesuai harap.” Gumamku terkekeh dalam hati.
Dengan kemeja abu-abu lengan panjang yang sama saat ia kenakan ketika pertemuan sekaligus perbincangan kami yang nyata. Entah dia masih ingat atau tidak, mungkin tidak karena itu hanya berkesan untukku pengagum bodoh yang mencintainya lantaran susunan aksara dalam beberapa tulisannya. Suara itu masih sama, tidak medok sepertiku seolah mengatakan bahwa dia memang bukan peranakan Jawa meskipun sudah nyaris sedekade ini tinggal di tanah Jawa yang konon Daerah Istimewa itu.
Di tengah antusiasme peserta sedang dia pembicaranya, aku biarkan saja otak ini berkelana pada angan-angan yang tak ku tahu kemana ujungnya dan hanya bisa kuterka saja bagaimana akhirnya. Mungkin indah dan mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan rencana yang indah untuk tidak membenarkan prasangkaku. Atau bisa jadi takdir Tuhan kali ini tidak seindah imaginasi. Ahhhh... Apa-apaan ini.
Mereka, wanita yang usianya 1 tahun dan 2 tahun diatasku sedang asik bertukar cerita tentang cinta yang semakin dekat dengan jalan hidup mereka untuk berjalan beriringan. Satu bercerita tentang bagaimana perjalanan cintanya hingga kemudian menemukan dan mantap menikah dengan laki-laki asal Kalimantan. Sedang satunya pun demikian, menceritakan mengapa ia berlari dan turut dalam sekumpulan orang-orang yang biasanya berkeliaran di jalanan yang saat ini terpenjara dalam ruang diskusi nan megah. Rupanya ia sedang berlari dari rasa cemburu yang belakang membuat hatinya terasa mencekam. Sedang aku hanya menimpali sekadarnya saja karena aku tak memiliki pengalaman cinta hingga sejauh itu sambil kusandarkan daguku pada tanganku.
Aku tak menggali terlalu dalam pemahaman cinta menurut perspektif mereka, untuk apa? Yang aku tau bahwa aku telah kehilangan makna cinta yang ideal menurutku. Aku juga tidak memiliki kriteria lagi tentang laki-laki yang mungkin nantinya akan layak kukagumi. Telah nyaris mati rasa itu dalam diri. Terlalu sibuk bila aku harus memikirkan hal tak penting semacam cinta. Karena percuma saja aku mencoba mencintai sedang aku tak pernah berhasil menyentuh hati seorang pemuda yang aku begitu tertarik pada dunianya. Dunia mereka memang indah namun, akan begitu suram ramalanku jika aku memaksa masuk dalam dunia mereka. Terlalu lemah bukan seorang wanita jika hanya mengharap iba dan kasihan lelaki agar mencintainya. Tidak apa aku tak menjadi bunga yang menjadi rebutan. Biarlah aku kembang kan menguncup lalu mekar hingga layu sekehendak Tuhan sekalipun tanpa kumbang. Kumbang bagiku hanyalah serangga yang mengambil manisku. Suatu saat mungkin aku akan lelah sendiri dan saat itulah mungkin aku akan kembali menata keping harapku untuk membuktikan apa yang kata orang indah. (13/12/2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar