animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Senin, 18 Desember 2017

Sebuah Refleksi

BERLARI DAN BERBAHAGIA

Oleh: Debby Pratiwi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3NKlCtBYBeShaOcbX58B_E7-J_uVU-tGyo46UdKTZl6Yv-9gMPUSJWMSbuOB6vDgfxdQbzL7_hBKZHYwyO7Of6mythyphenhyphenhFtRFjpjVeorx83btU_7aQpO5RjOg2e2gLBQxqM3dpsNgQUv8T/s1600/desa.jpg
Menjadi seorang anak-anak terlihat lebih membahagiakan ketimbang menjadi dewasa. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa hidup adalah sebuah proses yang mau tidak mau menuntut kita untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana qodarullah. Setiap tanggal dan bulan yang berganti merupakan masa perubahan yang dinamis. Anak kecil menjadi remaja lalu remaja menjadi dewasa dan dewasa menjadi tua, finalnya adalah saat kematian menjemput. Tapi, aku tidak akan berbicara tentang kematian ragawi disini. Akan tetapi, mungkin aku akan menyinggung sedikit tentang penyebab seseorang kehilangan nyawa dalam jiwanya.
Berangkat dari sebuah tempat yang kadang menjadi momok bagi sebagian besar anak, yaitu Sekolah. Baiklah, Ibu Guru bilang dan Ibuku juga para orang tua terdahului mengatakan bahwa Sekolah adalah gudang ilmu. Aku membenarkan itu namun, pada masa yang bukan sekarang. Melainkan pada masa dulu saat jaman penjajahan kolonial maupun Jepang. Sekolah menjadi surga impian bagi anak-anak tanpa alas kaki yang haus akan ilmu pengetahuan bahkan layaknya binatang liar yang kelaparan. Tanpa status sosial atau kasta yang termasuk golongan atas makhluk kecil tanpa alas kaki akan sangat sulit menempuh pendidikan di sebuah Surga yang disebut sekolah lengkap dengan malaikat penjaga yang maha benar sendiri yaitu Guru.
Berbanding dengan fakta jaman edan sekarang ini. Semua anak diwajibkan untuk menempuh pendidikan. Mau tidak mau ia wajib duduk dibangku sekolah selama bertahun-tahun agar diterima menjadi babu di perusahaan-perusahaan besar perampas oksigen dan nuansa hijau bangsanya. Namun, meski demikian tak kunjung berkurang angka kemiskinan bangsa ini. Ia yang tidak mau dengan sukarela untuk duduk ikhlas mendengarkan ceramah guru dan mengerjakan PR yang bertumpuk dianggap sebagai marginal lalu tersisih dari lingkungan sosialnya. Miris bukan?
Saat jam pulang sekolah tiba cobalah sesekali amati di sekeliling sekolah maka, sudah dapat dipastikan kau akan menemukan anak-anak dengan gembira berlari keluar dari gerbang sekolahnya. Berbeda dengan saat ia baru saja turun dari boncengan ibunya atau dari kendaraan umum, seolah tampak raut muka penuh beban bahkan kadang ada yang menangis saat si ibu meninggalkan dan menitipkannya pada guru.  
Sekolah yang selalu identik dengan sebuah proses belajar tapi, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Belajar seolah hanya hak anak-anak yang memiliki IQ rata-rata sedang mereka yang IQnya di atas atau di bawah rata-rata kurang ada perhatian khusus. Menjenuhkan memang sistem pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia. Hanya sebagian kecil saja lembaga pendidikan dan guru yang benar-benar mengerti kebutuhan anak.
Kebahagiaan.....
Akhir-akhir ini banyak akademisi yang melakukan penelitian mengenai kebahagiaan atau happiness. Belajar dan kebahagiaan menurut hemat saya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun dalam teori belajar sendiri jika perilaku yang kita hasilkan tidak sesuai dengan harapan maka akan diberlakukan sebuah hukuman atau paling tidak reinforcement negatif. Seharusnya belajar itu dilakukan dalam keadaan sukarela dan bahagia bukan sebagai kegiatan rutinitas dengan paksaan semata. Sekolah-sekolah mulai tidak mengindahkan salah satu emosi positif yang berdampak besar pada proses belajar tersebut. Maunya instan, kalau tidak mau menurut dengan dewa yang bernama Guru maka, dianggap memiliki kelainan. Keedanan yang berselimut pendidikan formal macam apa itu???!!!
Sekolah seharusnya adalah menjadi tempat yang bisa mewadahi keingintahuan anak yang tidak terbatas, membiarkan mereka berfikir kritis nan liar dengan segudang ide pembaharunya, bukan membiarkan anak duduk lalu mengerjakan tugas semampunya dan membiarkan anak pulang dengan isi kepala penuh tanda tanya. Hal itulah yang lazim terjadi pada sekolah SD-SMP. Namun, tidak menutup kemungkinan di SMA bahkan ditingkat perguruan tinggi pun kasus tersebut masih marak terjadi. Hanya saja pada pada tingkat SMA hingga memasuki usia Perguruan Tinggi dengan mulai menggunakan sistem pembajaran pedadogi saat siswa digiring untuk mengembangkan pemikiran kritisnya sementara guru hanya fasilitator. Di SMA mungkin masih lumrah hal tersebut.
Yang menyedihkan dari sudut pandang saya adalah ketika sudah menjadi Mahasiswa namun, masih dibatasi ide dan rasa ingin tahunya adalah sebuah ironi yang menyedihkan. Bangku kuliah beserta ruangan yang mewah dengan dilengkapi AC nya justru seperti penjara dalam hidup saya, terlebih saat saya mulai belajar mencintai buku dan sebuah aktivitas yang bernama membaca. Membaca buku apapun termasuk novel. Kejenuhan akan tugas bertumpuk sebagai tuntutan untuk mendapatkan nilai berupa simbol-simbol angka yang belum mencerminkan potensi dalam diri membuat ingin berlari. Jangan heran jika jam pelajaran usai hati serasa gembira seolah terbebas dari penjara yang bernama akademik. Keluar dari kelas berarti sebuah kebebasan dimana saya bebas membaca bacaan apapun yang memperkaya hasanah pengetahuan.
Mahasiswa adalah agen pembaharu. Lantas masihkah kita mau disamakan dengan Siswa SMA yang hari-harinya masih sibuk dengan tugas, tugas, dan tugas serta kisah kasih di sekolah. Sedangkan di sisi kita ada banyak problematika yang sudah semestinya menjadi kewajiban kita untuk mencari jalan keluar dari catatan merah permasalahan bangsa.
Berlarilah dan berbahagialah saat kau berhasil berkelana dengan buku-buku bacaanmu serta mampu mendengar tawa riang dari anak-anak di penjuru bangsa karena mereka membaca buku yang kau bawakan. Jangan seperti aku yang setengah hidupku masih menjadi budak sistem pendidikan. Tak cerdas, tak pula bermanfaat sepenuhnya hidupku ini.... (13/02/2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar