BERLARI DAN BERBAHAGIA
Oleh: Debby
Pratiwi
Menjadi
seorang anak-anak terlihat lebih membahagiakan ketimbang menjadi dewasa. Namun,
tidak bisa dipungkiri bahwa hidup adalah sebuah proses yang mau tidak mau
menuntut kita untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana qodarullah. Setiap
tanggal dan bulan yang berganti merupakan masa perubahan yang dinamis. Anak
kecil menjadi remaja lalu remaja menjadi dewasa dan dewasa menjadi tua,
finalnya adalah saat kematian menjemput. Tapi, aku tidak akan berbicara tentang
kematian ragawi disini. Akan tetapi, mungkin aku akan menyinggung sedikit
tentang penyebab seseorang kehilangan nyawa dalam jiwanya.
Berangkat
dari sebuah tempat yang kadang menjadi momok bagi sebagian besar anak, yaitu
Sekolah. Baiklah, Ibu Guru bilang dan Ibuku juga para orang tua terdahului
mengatakan bahwa Sekolah adalah gudang ilmu. Aku membenarkan itu namun, pada
masa yang bukan sekarang. Melainkan pada masa dulu saat jaman penjajahan
kolonial maupun Jepang. Sekolah menjadi surga impian bagi anak-anak tanpa alas
kaki yang haus akan ilmu pengetahuan bahkan layaknya binatang liar yang
kelaparan. Tanpa status sosial atau kasta yang termasuk golongan atas makhluk
kecil tanpa alas kaki akan sangat sulit menempuh pendidikan di sebuah Surga
yang disebut sekolah lengkap dengan malaikat penjaga yang maha benar sendiri
yaitu Guru.
Berbanding
dengan fakta jaman edan sekarang ini. Semua anak diwajibkan untuk
menempuh pendidikan. Mau tidak mau ia wajib duduk dibangku sekolah selama
bertahun-tahun agar diterima menjadi babu di perusahaan-perusahaan besar
perampas oksigen dan nuansa hijau bangsanya. Namun, meski demikian tak kunjung
berkurang angka kemiskinan bangsa ini. Ia yang tidak mau dengan sukarela untuk
duduk ikhlas mendengarkan ceramah guru dan mengerjakan PR yang bertumpuk dianggap
sebagai marginal lalu tersisih dari lingkungan sosialnya. Miris bukan?
Saat
jam pulang sekolah tiba cobalah sesekali amati di sekeliling sekolah maka,
sudah dapat dipastikan kau akan menemukan anak-anak dengan gembira berlari
keluar dari gerbang sekolahnya. Berbeda dengan saat ia baru saja turun dari
boncengan ibunya atau dari kendaraan umum, seolah tampak raut muka penuh beban
bahkan kadang ada yang menangis saat si ibu meninggalkan dan menitipkannya pada
guru.
Sekolah
yang selalu identik dengan sebuah proses belajar tapi, tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Belajar seolah hanya hak anak-anak yang memiliki IQ
rata-rata sedang mereka yang IQnya di atas atau di bawah rata-rata kurang ada
perhatian khusus. Menjenuhkan memang sistem pembelajaran di sekolah-sekolah di
Indonesia. Hanya sebagian kecil saja lembaga pendidikan dan guru yang
benar-benar mengerti kebutuhan anak.
Kebahagiaan.....
Akhir-akhir
ini banyak akademisi yang melakukan penelitian mengenai kebahagiaan atau happiness.
Belajar dan kebahagiaan menurut hemat saya adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Meskipun dalam teori belajar sendiri jika perilaku yang kita
hasilkan tidak sesuai dengan harapan maka akan diberlakukan sebuah hukuman atau
paling tidak reinforcement negatif. Seharusnya belajar itu dilakukan
dalam keadaan sukarela dan bahagia bukan sebagai kegiatan rutinitas dengan
paksaan semata. Sekolah-sekolah mulai tidak mengindahkan salah satu emosi
positif yang berdampak besar pada proses belajar tersebut. Maunya instan, kalau
tidak mau menurut dengan dewa yang bernama Guru maka, dianggap memiliki
kelainan. Keedanan yang berselimut pendidikan formal macam apa itu???!!!
Sekolah
seharusnya adalah menjadi tempat yang bisa mewadahi keingintahuan anak yang
tidak terbatas, membiarkan mereka berfikir kritis nan liar dengan segudang ide
pembaharunya, bukan membiarkan anak duduk lalu mengerjakan tugas semampunya dan
membiarkan anak pulang dengan isi kepala penuh tanda tanya. Hal itulah yang
lazim terjadi pada sekolah SD-SMP. Namun, tidak menutup kemungkinan di SMA
bahkan ditingkat perguruan tinggi pun kasus tersebut masih marak terjadi. Hanya
saja pada pada tingkat SMA hingga memasuki usia Perguruan Tinggi dengan mulai
menggunakan sistem pembajaran pedadogi saat siswa digiring untuk mengembangkan
pemikiran kritisnya sementara guru hanya fasilitator. Di SMA mungkin masih lumrah
hal tersebut.
Yang
menyedihkan dari sudut pandang saya adalah ketika sudah menjadi Mahasiswa
namun, masih dibatasi ide dan rasa ingin tahunya adalah sebuah ironi yang
menyedihkan. Bangku kuliah beserta ruangan yang mewah dengan dilengkapi AC nya
justru seperti penjara dalam hidup saya, terlebih saat saya mulai belajar
mencintai buku dan sebuah aktivitas yang bernama membaca. Membaca buku apapun
termasuk novel. Kejenuhan akan tugas bertumpuk sebagai tuntutan untuk
mendapatkan nilai berupa simbol-simbol angka yang belum mencerminkan potensi
dalam diri membuat ingin berlari. Jangan heran jika jam pelajaran usai hati
serasa gembira seolah terbebas dari penjara yang bernama akademik. Keluar dari
kelas berarti sebuah kebebasan dimana saya bebas membaca bacaan apapun yang
memperkaya hasanah pengetahuan.
Mahasiswa
adalah agen pembaharu. Lantas masihkah kita mau disamakan dengan Siswa SMA yang
hari-harinya masih sibuk dengan tugas, tugas, dan tugas serta kisah kasih di
sekolah. Sedangkan di sisi kita ada banyak problematika yang sudah semestinya
menjadi kewajiban kita untuk mencari jalan keluar dari catatan merah
permasalahan bangsa.
Berlarilah
dan berbahagialah saat kau berhasil berkelana dengan buku-buku bacaanmu serta
mampu mendengar tawa riang dari anak-anak di penjuru bangsa karena mereka
membaca buku yang kau bawakan. Jangan seperti aku yang setengah hidupku masih
menjadi budak sistem pendidikan. Tak cerdas, tak pula bermanfaat
sepenuhnya hidupku ini.... (13/02/2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar