Pengembali
Senyum Yang Kan Berpamit
November ini aku terlalu sibuk menghapus air
mata kehilanganku akan kepergian sosok teladan 4 tahun lalu. Sebuah duka yang
seolah seperti mengoyak batinku. Ia pergi mendadak tanpa pamit tanpa salam.
Tentu saja aku tidak pernah bisa melupakan kehilangan itu. Tuhan memanggil
orang-orang yang dikasihiNya begitu cepat, jauh berbeda dari ekspektasi
hambaNya.
Kekalutan itu membuatku lupa akan hari
kelahiran seseorang. Seorang yang telah kuanggap sebagai Kakak, sekalipun kami
tidak berasal dari rahim yang sama. Seorang yang justru lebih mengerti aku
daripada saudara-saudara sedarah dan serahim denganku. Orang lain yang justru
di tengah kesibukannya masih menyisakan celah untuk berusaha membuatku tersenyum
saat aku dirundung sedih dan kegalauan. Seorang yang akan berusaha keras
mengembalikan senyumku yang hilang. Ahhhhh... Aku jadi ingin menangis mengingat
hal-hal kecil yang dia lakukan kepadaku sebagai bentuk kepeduliannya kepada
adiknya.
Beberapa hari lalu dia Milad ke 26 tahun. Aku
baru tau hari ini. Seorang sahabat mengabarkan kepadaku siang tadi saat
beberapa hari lalu ia melihat postingan gadis pemenang hati “Masku” itu.
Seorang yang beberapa tahun ini diperjuangkan mati-matian oleh Masku.
Satu-satunya orang yang menjadi penyebab kegalauan Masku. Jika saja Mas
membolehkan sudah kuperingatkan gadis itu. Namun, Mas terlalu menjaga perasaan
gadis itu. Baiklah tidak apa-apa....
26 tahun bukanlah usia yang muda lagi bagi
dia. 26 tahun telah memberikan ia banyak pelajaran dalam hidup. Tentang jatuh
bangun merangkai mimpi, tentang cinta, tentang kehancuran, tentang penantian,
tentang perjuangan, tentang berkorban, tentang menjaga, tentang bertahan,
tentang semua baik buruk yang telah diajarkan oleh masa.
Sebagai seorang adik yang entah tulisan ini
dianggap berarti atau tidak, aku tidak perduli. Apa yang kutulis ini mungkin
tak terlampau berkesan untuk dia. Tapi, biarlah aku menulis ini sebagai kado
Milad ke 26 nya. Ini mungkin tak terlalu istimewa dibanding dengan apa yang
telah seseorang persembahkan sebagai hadiah untukmu. Tapi, biarlah saja...
Sekali lagi, aku tidak perduli.
Hari-hari ini adalah hari yang berat saat aku
mengingatmu. Hari-hari dimana semakin mendekatkanmu menemui bahagiamu, yakni
bersatu dengan gadis dalam doamu. Aku bilang ini berat karena itu berarti aku
akan kehilangan engkau. Saat kau nanti menikah kau akan lebih sibuk menjaga
perasaan pasanganmu dan tidak lagi mempedulikan perasaan adikmu. Seorang yang
selalu menunggu suaramu saat dia tengah pengap dengan beban masalah kehidupan
maupun hati. Seorang yang akan sangat merindukan nasehatmu, tantangan darimu,
hadiah kecil darimu, sajak-sajak puisimu, suara menghiburmu, caramu membuatnya
tertawa dan mengembalikan senyum yang hilang, salam-salam yang dia kirim di
radio untukmu, curhatanmu, panggilan ‘Jum’ mu, rindu dikuatkan, rindu ocehan
malammu, dan segala hal tentangmu.
Mas, cepat atau lambat semua itu akan terjadi.
Entah kemana nanti aku akan berlari saat hati tak kuat menyangga beban sendiri.
Mungkin hanya kepada Illahi kan ku sandarkan hati ini, penuh pasrah. Aku akan
belajar mulai dari sekarang supaya nanti
saat kau berpamit aku sudah terbiasa melanjutkan hidup tanpa rekan berbagi
setulus engkau. Kaupun jangan sebut namaku di hadapannya, ya. Aku tidak ingin
dia merasa cemburu lalu meragukan cintamu.
Sebagai penutup dari tulisan ini aku ingin
menghadiahkan sebuah doa untukmu, pengembali senyum yang akan berpamit. Semoga
Tuhan segera mengabulkan usaha dan doamu untuk bersatu dalam ikatan halal
dengan wanita impianmu. Semoga kebahagiaan tidak pernah meninggalkan hidupmu
sejengkalpun, dan kesedihan tak bernyali menyentuhmu. Berbahagialah layaknya
orang-orang yang pernah kau ukirkan kebahagiaan dalam hidupnya. Selamat
Milad, My Broh, My Jon!!!
-Ibed-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar