Oleh : Debby Pratiwi
Masih terngiang
jelas di telingaku saat ponsel jadulku semasa SMK berdering di sepertiga
malam, lingsir wengi orang jawa bilang. Bukan sebuah alarm yang sengaja
kupasang agar terbangun untuk tahajjud atau bersiap sholat subuh. Namun, karena
nada panggilan. “Joen Me” aku memberikan nama pada kontaknya di ponselku. Aku
memang sengaja memberikan nama yang aneh supaya hanya aku, ponselku, dan Tuhan
yang tahu siapa Joen Me.
Aku tak ingat
jelas bagaimana kami dulu berkenalan. Yang ku tahu sebelumnya aku sudah
mendengar cerita naasnya yang harus dikeluarkan dari sekolahan dua hari
menjelang Ujian Nasional. Perkaranya adalah ketika video pacar Joen yang sedang
mandi menyebar sampai di telinga WAKA Kesiswaan. Sontak Joen dan pacarnya
mendapat petaka. Malang sekali nasib mereka. Namun, paras ayu nan molek si
gadis membuatnya diuntungkan karena menjadi murid kesayangan guru-guru
laki-laki di sekolah sehingga dia masih dikeluarkan secara hormat dengan
dipindahkan ke sekolah lain selembaga. Namun, naasnya nasib di Joen yang
tinggal Ujian Nasional Senin pekan depan karena Sabtu itu juga Joen dikeluarkan
secara tidak hormat dari SMA itu. Joen dituding menyuruh pacarnya membuat video
telanjang. Hal itulah yang hingga kini sepertinya masih menyulut dendam abadi
Joen pada beberapa pihak.
Hal itulah juga
yang membuatku harus menyembunyikan identitas Joen maupun perkenalanku dengan
dia dari teman-temanku terutama dari guru-guru di sekolahku. Kisah Joen seperti
sebuah dongeng yang hampir setiap tahun selalu diceritakan dengan bangga oleh
pihak-pihak yang telah memutuskan impian Joen ketika itu. Impian untuk lulus dan merantau ke Kalimantan.
Pihak yang menceritakan itu di hadapan kami seolah bangga karena telah
menghancurkan masa depan Joen. Mereka menganggap dengan itu siswanya tidak akan
berani-berani menyimpan gambar porno maupun melakukan tindakan asusila.
Sejak pertama
kali aku mendengar suara Joen di telephon seketika aku langsung merasa nyaman
dan seperti sudah kenal lama. Meskipun di kepalaku masih ada prasangka negatif.
Joen memperkenalkan diri padaku karena tau kalau aku adalah juniornya di sebuah
ekstra kurikuler bela diri di sekolah itu. Joen keluar dan aku baru masuk SMA
itu. Jadi, aku tak mengenalnya sebelumnya.
Nyaris setiap
hari Joen selalu mengirimkan SMS padaku, telephone hingga larut malam kadang
menjelang subuh. Karena itu di tengah-tengah semester 2 kelas IX aku seringkali
ketiduran di kelas.
Suara jangkrik
maupun tetesan air bekas hujan semalam tadi menjadi saksi sekaligus teman setia
obrolanku dengan Joen. Katanya mau ditemani.
“Kerja dimana to,
Mas? Kok jam segini baru pulang?”, tanyaku.
“Di Surabaya dek.”
“Lha sampean iki
kerjo opo to kok mantuk e dalu-dalu?”
“Satpam.”
Jawabnya.
Banyak topik
obrolan yang menjadi pembahasan pada malam-malam semenjak itu. Mulai dari
obrolan tentang bela diri, dia menanyakan kabar guru-guru yang dulu menjadi
CeEsnya, tentang hobby yang sama yaitu berpuisi, sampai aku berani bertanya
bagaimana kronologis dia dikeluarkan dari sekolah, dan dia menjawabnya layaknya
aku ini teman dekatnya yang dipercaya untuk mengetahui sejarah hidupnya. Iapun menjawab teka-tekiku selama ini.
Joen menceritakan
dengan nada terdengar agak sumbang nan lirih. Entah itu jawaban jujur atau
direkayasa tapi, aku tak ragu pada pernyataannya. Ia mengungkapkan betapa
kecewanya ia dengan beberapa guru semasa itu. Bagaimana mungkin ia tak diberi
ampun hanya menjelang 2 hari Ujian Nasional setelah 3 tahun lamanya nyaris tak
pernah bermasalah. Lantas mengapa kini ia didakwa menjadi tersangka kelakuan
bejat gadis itu. Iapun mengaku sedikit merasa bersalah.
Sebelumnya ia
banyak mendengar hal negatif den keberanian gadis itu melampaui batas dalam
berpacaran. Ia menyatakan bahwa ia sangat mencintai gadis itu dan kerana rasa
cinta itulah ia merasa harus memperjuangkan cinta si gadis. Ia memacari tanpa
niat bermain-main. Ia merencanakan akan merantau ke Kalimantan untuk mencari
penghidupan yang lebih layak, menabung sembari menunggu gadis itu lulus sekolah
untuk kemudian melamar gadis ayu bergigi gingsul lagi menjadi langganan juara
kelas itu. Sengaja ia mengetes gadis itu. Akan merantau jauh menjadi alasan
Joen meminta kenang-kenangan video si gadis yang tidak akan dilupakannya. Tanpa
pikir panjang gadis itu mengira video telanjangnya yang diminta si Joen.
Keparat memang
teman sekos si gadis, saat dia sedang mandi temannya membuka ponsel si gadis
dan mengirim video tersebut ke ponselnya. Tak butuh berapa lama sehari dua hari
kemudian video menyebar dan menjadi petaka besar bagi dua sejoli yang tengah
dimabuk asmara itu. Utamanya bagi si Joen. Seantero sekolah memperbincangkan mereka.
Bagai kesambar petir kedua orang tua merekapun histeris dan merasa malu dengan
kelakuan anak kebanggaannya.
Sejak itulah
kedua orangtua gadis itu menghakimi Joen dan mengutuk Joen seolah Joen lah yang
paling bersalah dalam hal ini dan putrinya adalah korban. Sedangkan orang tua
Joen amat histeris meratapi nasib putra semata wayangnya yang malang. Dendampun
seolah membara di dada Joen kepada mereka, para Guru tak bernurani yang tak
hanya memutus mimpinya, hubungannya, bahkan telah menanggalkan luka abadi dalam
lubuk hati Bapak dan Emaknya.
Bagi Joen tiada
lagi yang dapat ia lakukan untuk membayar hal buruk yang telah ia terima, kecuali
dengan sebuah keberhasilan dan kesuksesan untuk membungkam mulut mereka yang
mencibir dosa yang telah ia perbuat. Berbekal ambisi mendapatkan ijazah SMA
sekalipun harus kejar paket ia melakoni pekerjaannya sebagai Satpam di salah
satu pabrik di Surabaya. Beberapa purnama ia habiskan untuk begadang demi
lembaran rupiah untuk biaya kejar paket C.
“Jum.. Jum..
Jangan tidur dulu! Temani aku begadang, aku sakit gigi lagi..” Pintanya.
“Lha aku besok
sekolah, Mas. Ngantuukkk.”
Lalu dengan
kata-kata pujangganya dan puisi-puisinya sukses membuatku terjaga sampai
menjelang subuh, ia baru tertidur. Sampai di suatu ketika aku merasa jatuh
cinta kepadanya. Segala yang membuncah di dada kutuangkan lewat sebuah puisi
lalu kukirim ke Radio Gita FM. Beberapa malam, beberapa siang, disenggangku aku
menghabiskan tinta dan secarik kertas putih kutulis saja segala yang ku
tahan-tahan yang tertuju untuk namanya ‘Joen’. Hingga disuatu ketika ia
mendengarkan curhatanku dan tarraaa dia pun tau, seperti harapanku. Tak ada
respon apapun, tidak ada isyarat apapun. Joen tetap menganggapku biasa saja
seperti sebelum ini. Aku hanya sekedar tempat berteduh layaknya warung kopi.
Beberapa saat setelah itu ia sering menghilang hingga suatu ketika aku
mendengar kabar burung bahwa ia telah meninggalkan tanah Jawa, mengembara
merengkuh citanya demi cintanya.
Di suatu
ketika... tuuuuuttttthhh tuuuttthhh dering ponselku.
“Hallo, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,
Jum.”
“Mas Joen, Yaa
Alloh sampean dimana? Kok lama tidak ada kabar.”
“Aku baik-baik
saja, dik. Sampean apa kabar?”
“Aku baik. Mas,
mas kemana saja kenapa tidak pernah ada kabar?”
“Aku di rumah
dik.”
“Halah bohong!”
“Sungguh. Kenapa
to?”
“Mas, jawab
jujur. Kenapa ke Jayapura tidak pamit padaku?”
“Maaf dek.”
“Berarti beneran
mas tidak di Jawa?”
“Iya, dik.
Maafkan Mas!!”
Derai tangis
membuatku terisak dan bicarakupun agak sedikit sumbang. Sepertinya ia pun mendengar
dengan jelas tangis kehilanganku. Aku ingin menjelaskan bahwa aku menangis
bukan karena perasaan yang pernah ada namun, karena merasa kehilangan sosok
kakak. Oh ya aku lupa menjelaskan bagaimana sikapnya padaku yang membuatku
benar-benar tak ridho jika seorang perempuan menyakitinya. Dialah satu-satunya
laki-laki yang akan berusaha keras mengembalikan senyum dan tawaku saat aku
sedih. Dia sepertinya tidak rela jika aku bersedih. Akupun sudah melupakan
perasaan yang salah yang pernah tertanggal untuknya.
Seperti fajar
yang tak pernah bertahan lama hingga berganti menjadi siang, siang berlalu
disambut senja, lalu ia pudar berganti malam dengan rembulan bertengger
mempercantik kegelapan. Kehadirannya pun kadang ada kadang hilang. Kadang
datang membawa kisah cintanya yang sepertinya sedikit indah namun, lebih banyak
sedihnya. Masih dengan gadis yang sama. Tahun berganti tak memudarkan cintanya
kepada gadis yang pernah membawanya pada petaka. Ia tak bisa menggantikan ruang
hatinya yang terdalam untuk si gadis. Sekalipun si gadis bergonta-ganti
laki-laki dan berkali-kali mendua. Selalu ia persembahkan cinta terindahnya
untuk gadis itu.
Aku sedikit geram
dengan dia yang begitu tak berdaya membawa hatinya lekang dari gadis itu. Lebih
geram lagi pada gadis yang berkali-kali merobek cinta dan kepercayaan Joen.
“Kemarin mas
pulang ya?”
“Iya dek.”
“Pantas saja
kontak BBM ku sepertinya di DC ya.”
“Bukan aku yang
DC. Tapi, dia. Semua kontak perempuan di DC.”
“Sepertinya sudah
mengantongi restu?? Kapan akan melamar?”
“Secepatnya, dik.”
“Selamat yaaa.”
Begitulah
percakapan terakhirku dengan Joen sebelum aku menulis ini. Tiba-tiba aku merasa
akan ada yang hilang. Dering telephon. Puisi-puisi.
Teringat
cerita-cerita tengah malam semasa SMK dulu. Begitu nyaman saat saling melempar
cerita. Berbagi tawa, bercanda, saling berkisah tentang almamater. Bedanya, aku
berbangga dan dia kecewa. Sebentar lagi mungkin namanya tidak akan muncul dalam
deretan obrolan pesanku. Aku kehilangan tempat berteduh nan sejuk. Tempat
ternyaman yang menegurku saat aku lalai, penghibur saat aku dirundung sedih nan
pilu. Yang memiliki seribu cara jitu untuk mengembalikan senyum yang hilang. Lagi-lagi, aku akan kehilangan kakak
laki-laki terhebatku yang berhasil membungkam ratusan mulut jahil dengan sebuah
kesuksesan. Joen secepatnya tak akan lagi menderingkan ponselku dengan
panggilannya. Namun, di sisi lain diapun akan mendapatkan cintanya yang telah
diperjuangkan sewindu ini. Ia benar-benar menemukan bidadarinya. Bidadari yang
sempat lari hingga akhirnya bertahta bersamanya. Menghabiskan sisa usianya dan
menua bersamanya. (17/10/17)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar