animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Selasa, 17 Oktober 2017

MENEMUKAN BIDADARI




Oleh : Debby Pratiwi
Masih terngiang jelas di telingaku saat ponsel jadulku semasa SMK berdering di sepertiga malam, lingsir wengi orang jawa bilang. Bukan sebuah alarm yang sengaja kupasang agar terbangun untuk tahajjud atau bersiap sholat subuh. Namun, karena nada panggilan. “Joen Me” aku memberikan nama pada kontaknya di ponselku. Aku memang sengaja memberikan nama yang aneh supaya hanya aku, ponselku, dan Tuhan yang tahu siapa Joen Me.
Aku tak ingat jelas bagaimana kami dulu berkenalan. Yang ku tahu sebelumnya aku sudah mendengar cerita naasnya yang harus dikeluarkan dari sekolahan dua hari menjelang Ujian Nasional. Perkaranya adalah ketika video pacar Joen yang sedang mandi menyebar sampai di telinga WAKA Kesiswaan. Sontak Joen dan pacarnya mendapat petaka. Malang sekali nasib mereka. Namun, paras ayu nan molek si gadis membuatnya diuntungkan karena menjadi murid kesayangan guru-guru laki-laki di sekolah sehingga dia masih dikeluarkan secara hormat dengan dipindahkan ke sekolah lain selembaga. Namun, naasnya nasib di Joen yang tinggal Ujian Nasional Senin pekan depan karena Sabtu itu juga Joen dikeluarkan secara tidak hormat dari SMA itu. Joen dituding menyuruh pacarnya membuat video telanjang. Hal itulah yang hingga kini sepertinya masih menyulut dendam abadi Joen pada beberapa pihak.
Hal itulah juga yang membuatku harus menyembunyikan identitas Joen maupun perkenalanku dengan dia dari teman-temanku terutama dari guru-guru di sekolahku. Kisah Joen seperti sebuah dongeng yang hampir setiap tahun selalu diceritakan dengan bangga oleh pihak-pihak yang telah memutuskan impian Joen ketika itu.  Impian untuk lulus dan merantau ke Kalimantan. Pihak yang menceritakan itu di hadapan kami seolah bangga karena telah menghancurkan masa depan Joen. Mereka menganggap dengan itu siswanya tidak akan berani-berani menyimpan gambar porno maupun melakukan tindakan asusila.
Sejak pertama kali aku mendengar suara Joen di telephon seketika aku langsung merasa nyaman dan seperti sudah kenal lama. Meskipun di kepalaku masih ada prasangka negatif. Joen memperkenalkan diri padaku karena tau kalau aku adalah juniornya di sebuah ekstra kurikuler bela diri di sekolah itu. Joen keluar dan aku baru masuk SMA itu. Jadi, aku tak mengenalnya sebelumnya.
Nyaris setiap hari Joen selalu mengirimkan SMS padaku, telephone hingga larut malam kadang menjelang subuh. Karena itu di tengah-tengah semester 2 kelas IX aku seringkali ketiduran di kelas.
Suara jangkrik maupun tetesan air bekas hujan semalam tadi menjadi saksi sekaligus teman setia obrolanku dengan Joen. Katanya mau ditemani.
“Kerja dimana to, Mas? Kok jam segini baru pulang?”, tanyaku.
“Di Surabaya dek.”
“Lha sampean iki kerjo opo to kok mantuk e dalu-dalu?”
“Satpam.” Jawabnya.
Banyak topik obrolan yang menjadi pembahasan pada malam-malam semenjak itu. Mulai dari obrolan tentang bela diri, dia menanyakan kabar guru-guru yang dulu menjadi CeEsnya, tentang hobby yang sama yaitu berpuisi, sampai aku berani bertanya bagaimana kronologis dia dikeluarkan dari sekolah, dan dia menjawabnya layaknya aku ini teman dekatnya yang dipercaya untuk mengetahui sejarah hidupnya.  Iapun menjawab teka-tekiku selama ini.
Joen menceritakan dengan nada terdengar agak sumbang nan lirih. Entah itu jawaban jujur atau direkayasa tapi, aku tak ragu pada pernyataannya. Ia mengungkapkan betapa kecewanya ia dengan beberapa guru semasa itu. Bagaimana mungkin ia tak diberi ampun hanya menjelang 2 hari Ujian Nasional setelah 3 tahun lamanya nyaris tak pernah bermasalah. Lantas mengapa kini ia didakwa menjadi tersangka kelakuan bejat gadis itu. Iapun mengaku sedikit merasa bersalah.
Sebelumnya ia banyak mendengar hal negatif den keberanian gadis itu melampaui batas dalam berpacaran. Ia menyatakan bahwa ia sangat mencintai gadis itu dan kerana rasa cinta itulah ia merasa harus memperjuangkan cinta si gadis. Ia memacari tanpa niat bermain-main. Ia merencanakan akan merantau ke Kalimantan untuk mencari penghidupan yang lebih layak, menabung sembari menunggu gadis itu lulus sekolah untuk kemudian melamar gadis ayu bergigi gingsul lagi menjadi langganan juara kelas itu. Sengaja ia mengetes gadis itu. Akan merantau jauh menjadi alasan Joen meminta kenang-kenangan video si gadis yang tidak akan dilupakannya. Tanpa pikir panjang gadis itu mengira video telanjangnya yang diminta si Joen.
Keparat memang teman sekos si gadis, saat dia sedang mandi temannya membuka ponsel si gadis dan mengirim video tersebut ke ponselnya. Tak butuh berapa lama sehari dua hari kemudian video menyebar dan menjadi petaka besar bagi dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu. Utamanya bagi si Joen. Seantero sekolah memperbincangkan mereka. Bagai kesambar petir kedua orang tua merekapun histeris dan merasa malu dengan kelakuan anak kebanggaannya.
Sejak itulah kedua orangtua gadis itu menghakimi Joen dan mengutuk Joen seolah Joen lah yang paling bersalah dalam hal ini dan putrinya adalah korban. Sedangkan orang tua Joen amat histeris meratapi nasib putra semata wayangnya yang malang. Dendampun seolah membara di dada Joen kepada mereka, para Guru tak bernurani yang tak hanya memutus mimpinya, hubungannya, bahkan telah menanggalkan luka abadi dalam lubuk hati Bapak dan Emaknya.
Bagi Joen tiada lagi yang dapat ia lakukan untuk membayar hal buruk yang telah ia terima, kecuali dengan sebuah keberhasilan dan kesuksesan untuk membungkam mulut mereka yang mencibir dosa yang telah ia perbuat. Berbekal ambisi mendapatkan ijazah SMA sekalipun harus kejar paket ia melakoni pekerjaannya sebagai Satpam di salah satu pabrik di Surabaya. Beberapa purnama ia habiskan untuk begadang demi lembaran rupiah untuk biaya kejar paket C.
“Jum.. Jum.. Jangan tidur dulu! Temani aku begadang, aku sakit gigi lagi..” Pintanya.
“Lha aku besok sekolah, Mas. Ngantuukkk.”
Lalu dengan kata-kata pujangganya dan puisi-puisinya sukses membuatku terjaga sampai menjelang subuh, ia baru tertidur. Sampai di suatu ketika aku merasa jatuh cinta kepadanya. Segala yang membuncah di dada kutuangkan lewat sebuah puisi lalu kukirim ke Radio Gita FM. Beberapa malam, beberapa siang, disenggangku aku menghabiskan tinta dan secarik kertas putih kutulis saja segala yang ku tahan-tahan yang tertuju untuk namanya ‘Joen’. Hingga disuatu ketika ia mendengarkan curhatanku dan tarraaa dia pun tau, seperti harapanku. Tak ada respon apapun, tidak ada isyarat apapun. Joen tetap menganggapku biasa saja seperti sebelum ini. Aku hanya sekedar tempat berteduh layaknya warung kopi. Beberapa saat setelah itu ia sering menghilang hingga suatu ketika aku mendengar kabar burung bahwa ia telah meninggalkan tanah Jawa, mengembara merengkuh citanya demi cintanya.
Di suatu ketika... tuuuuuttttthhh tuuuttthhh dering ponselku.
“Hallo, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Jum.”
“Mas Joen, Yaa Alloh sampean dimana? Kok lama tidak ada kabar.”
“Aku baik-baik saja, dik. Sampean apa kabar?”
“Aku baik. Mas, mas kemana saja kenapa tidak pernah ada kabar?”
“Aku di rumah dik.”
“Halah bohong!”
“Sungguh. Kenapa to?”
“Mas, jawab jujur. Kenapa ke Jayapura tidak pamit padaku?”
“Maaf dek.”
“Berarti beneran mas tidak di Jawa?”
“Iya, dik. Maafkan Mas!!”
Derai tangis membuatku terisak dan bicarakupun agak sedikit sumbang. Sepertinya ia pun mendengar dengan jelas tangis kehilanganku. Aku ingin menjelaskan bahwa aku menangis bukan karena perasaan yang pernah ada namun, karena merasa kehilangan sosok kakak. Oh ya aku lupa menjelaskan bagaimana sikapnya padaku yang membuatku benar-benar tak ridho jika seorang perempuan menyakitinya. Dialah satu-satunya laki-laki yang akan berusaha keras mengembalikan senyum dan tawaku saat aku sedih. Dia sepertinya tidak rela jika aku bersedih. Akupun sudah melupakan perasaan yang salah yang pernah tertanggal untuknya.
Seperti fajar yang tak pernah bertahan lama hingga berganti menjadi siang, siang berlalu disambut senja, lalu ia pudar berganti malam dengan rembulan bertengger mempercantik kegelapan. Kehadirannya pun kadang ada kadang hilang. Kadang datang membawa kisah cintanya yang sepertinya sedikit indah namun, lebih banyak sedihnya. Masih dengan gadis yang sama. Tahun berganti tak memudarkan cintanya kepada gadis yang pernah membawanya pada petaka. Ia tak bisa menggantikan ruang hatinya yang terdalam untuk si gadis. Sekalipun si gadis bergonta-ganti laki-laki dan berkali-kali mendua. Selalu ia persembahkan cinta terindahnya untuk gadis itu.
Aku sedikit geram dengan dia yang begitu tak berdaya membawa hatinya lekang dari gadis itu. Lebih geram lagi pada gadis yang berkali-kali merobek cinta dan kepercayaan Joen.
“Kemarin mas pulang ya?”
“Iya dek.”
“Pantas saja kontak BBM ku sepertinya di DC ya.”
“Bukan aku yang DC. Tapi, dia. Semua kontak perempuan di DC.”
“Sepertinya sudah mengantongi restu?? Kapan akan melamar?”
“Secepatnya, dik.”
“Selamat yaaa.”
Begitulah percakapan terakhirku dengan Joen sebelum aku menulis ini. Tiba-tiba aku merasa akan ada yang hilang. Dering telephon. Puisi-puisi.
Teringat cerita-cerita tengah malam semasa SMK dulu. Begitu nyaman saat saling melempar cerita. Berbagi tawa, bercanda, saling berkisah tentang almamater. Bedanya, aku berbangga dan dia kecewa. Sebentar lagi mungkin namanya tidak akan muncul dalam deretan obrolan pesanku. Aku kehilangan tempat berteduh nan sejuk. Tempat ternyaman yang menegurku saat aku lalai, penghibur saat aku dirundung sedih nan pilu. Yang memiliki seribu cara jitu untuk mengembalikan senyum yang hilang. Lagi-lagi, aku akan kehilangan kakak laki-laki terhebatku yang berhasil membungkam ratusan mulut jahil dengan sebuah kesuksesan. Joen secepatnya tak akan lagi menderingkan ponselku dengan panggilannya. Namun, di sisi lain diapun akan mendapatkan cintanya yang telah diperjuangkan sewindu ini. Ia benar-benar menemukan bidadarinya. Bidadari yang sempat lari hingga akhirnya bertahta bersamanya. Menghabiskan sisa usianya dan menua bersamanya. (17/10/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar