animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Selasa, 12 September 2017

12 September Ke 22



“Refleksi Miladku”
-Ibed-

“Happy Birthday to you.. happy birthday to you... happy birth day, happy birthday to you...”
Alunan lagu nyanyian selamat ulang tahun itu terus saja menggema di fikiranku. Yang biasanya aku sangat suka mendengar nyanyian itu, sekarang nampaknya aku tak berharap seseorang akan menyanyikan lagu selamat ulang tahun itu di telingaku. Menjelang pergantian usia ini aku tak merasakan sedikitpun hingar bingar dan rona bahagia.
Di siang bolong saat kampus belakang kontrakanku tengah ramai dengan suara calon Mahasiswa Baru, justru ada embun di pelupuk mata saat aku baru saja bangun dari tidurku dengan tubuh masih tergeletak di atas kasur dan kepala masih nyaman berada diatas bantal. Aku ingat bahwa beberapa ribu detik lagi aku akan genap berusia 22 tahun. Meski 22 tahun hanya sehari bukan? Setelah tanggal 12 berarti sudah 22 tahun bukan? Bukan lagi genap 22....
22 tahun bukan lagi usia yang muda tapi, belum juga matang apalagi tua. Pada usia ini pula aku tak mengharap sebuah kejutan ceremonial semacam potong kue dan tiup lilin, seperti yang selalu kuidam-idamkan dulu semasa duduk di bangku sekolah dulu. Akan tetapi, aku memaknai angka 22 itu lebih kepada refleksi dan muhasabah diri. Sudahkah melakukan kebaikan? Sudahkah mampu menjadi sebaik-baik manusia (red:bermanfaat bagi sesamanya)??? Sudahkah keringat menetes karena lillah? Sudahkah mata basah di tengah malam karena diri yang merasa terhimpit dosa? Sudahkah lebih baik dari sebelumnya? Sudahkah mampu berkiprah untuk kepentingan umat? Sudahkah ini? Sudahkah itu?
Rupanya diri amatlah jauh dari kata baik dan sempurna. Masih banyak ruang yang belum tersentuh. Masih banyak pipi basah yang belum pula tersentuh oleh jari ini. Masih banyak yang sering tersakiti oleh kata dan tindakan yang dilakukan diri ini.
Pada usia ini sudah semestinya mematangkan fikiran dan menentukan kemana kaki akan melangkah. Ke kanankah? Atau ke kiri kah? Atau diam di tempat atau justru berbalik badan saja? Yang jelas langkah yang membawa kita pada tujuan hidup kita sesungguhnya. Langkah yang sedikit tajam kadang berkelok kadang ada kerikil menghadang yang Insyaa Allah akan menjadi langkah yang mulus saat menuju JannahNya.
Saat semua orang tengah sibuk dengan hiruk pikuk aktivitas mereka masing-masing aku tengah sibuk menyeka haru yang menyelinap dalam dada. Degupan dan nafas yang kurasa begitu mesra dari biasanya. Hingga tak terasa sepercik air mata menggenang lalu jatuh dari pelupuk mata. Air mata haru dan sukacita menyambut 12 September ke 22 ini. Aku ingin sedikit menulis untuk seseorang yang amat dan teramat aku kasihi....
“Teruntuk, sepasang malaikat tanpa sayapku”
‘Bapak dan Ibu’
“Buk, Pak... Ingatkah engkau pada tanggal ini “12 September”? Bukankah 22 tahun lalu karena kelahiran bayi premature itu kalian menjadi cemas dan khawatir? Yang sejak kecil sering sakit-sakitan dan hanya (mau) sembuh jika permintaan-permintaannya dipenuhi.
Banyak orang mengira bahwa aku tidak bisa bertahan hidup karena berat badanku dibawah rata-rata berat teman-temanku sesama bayi. Kata mereka aku kecil dan hitam ya? Sampai sekarang pun masih seperti lumpur hitam.
Terlahir disambut dan tumbuh dengan hinaan itu adalah beban mental yang nyaris membuatku menyerah dan tak ingin melanjutkan hidupku. Tapi, ku fikir aku terlalu bodoh jika mengiyakan apa yang mereka pikirkan tentangku dan tentang kita. Jika aku menyerah sama saja aku membiarkan anak-anak lain berpotensi merasakan apa yang kurasakan pada saat itu.
Tapi, aku bangga lahir dan tumbuh bersama kalian. Menjadi bagian dari perjuangan dan proses untuk mencapai kesejahteraan. Yang (katanya) sejak umur 3 bulan kalian membawaku ke sawah untuk ikut kalian ke sawah. Menjadi buruh tani di sawah para tetangga. Sejak sebelum fajar mengundang matahari kalian lebih dulu membawaku turut serta. Dengan bak mandi dan bantal kalian tinggalkan aku jalan-jalan sawah (galengan), sebentar-sebentar kalian tengok dan nyaris di suatu ketika aku hampir dililit ular besar. Namun, kalian datang lebih dulu sebelum ular itu menyentuhku. Tak sampai disitu. Di tengah senja pada musim penghujan, Ibu masih membawaku dalam gendongan sambil mengarahkan domba-domba di tengah hutan untuk pulang. Gemuruh halilintar bersamaan dengan kedatangan pasukan air langit membuat tubuhku semakin mengkerut, ketakutan lagi kedinginan. Tapi, kau masih mendekapku mesra sekalipun tubuhmu telah kuyup.”

“Buk, Pak... Dulu aku sempat berpikir mengapa kita tak ditakdirkan kaya. Tapi, kini justru aku tak memikirkan itu sama sekali. Aku tak lagi mencaci takdir. Karena ternyata kebahagiaan dan makna hidup tak akan mampu dibeli dengan kekayaan dunia. Kenyataannya karena kekayaan manusia sering kali alpa dari rasa peduli terhadap sesama. Hidup (agak) susah seperti pada saat aku masih kecil dulu justru membuatku bersyukur. Karena aku terlahir dan besar dengan sebuah proses. Itulah yang mampu menjadikanku pribadi yang tangguh. Karena hanya dengan sebuah proses seorang anak manusia mampu bertahan hidup di tengah kerasnya gesekan dunia.”

“Satu lagi pelajaran dalam hidup untukmu yang dulu sempat mencemaskan aku. Bahwa Allah boleh saja melahirkanku dalam keadaan premature tapi, aku percaya bahwa dibalik kekurangan yang Allah titipkan ada sebuah potensi besar yang dititipkan Allah kepadaku. Terima kasih telah memelukku dengan hangat selama 22 tahun ini. Terima kasih tetap menjadi tempatku pulang ketika dunia menjauhiku. Tiada yang bisa menerima, mencintai, dan mengasihiku seikhlas kasih tulus yang kalian persembahkan. Ibu dan Bapak I Love U....”

Semoga 22 tahun ini membawaku menebar kasih sayang, cinta, kepedulian, dan kebahagiaan bagi siapapun. Aku belum berharap Allah akan menemukan aku pada yang seringkali dipinta oleh wanita berusia 20 tahun ke atas (red:jodoh). Karena aku (masih) takut menduakan cinta lelaki yang mencintaiku dengan tulus yakni, Bapak. Doaku semoga Allah menyertakan ridhoNya dalam setiap perjalanan hidupku. Semoga semesta dan Malaikat mengamini doa-doa panjangku.  Selamat Ulang Tahun Mbak Bi, Barokallah fii Umrik!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar