“Refleksi
Miladku”
-Ibed-
“Happy Birthday to you.. happy
birthday to you... happy birth day, happy birthday to you...”
Alunan lagu nyanyian selamat ulang
tahun itu terus saja menggema di fikiranku. Yang biasanya aku sangat suka
mendengar nyanyian itu, sekarang nampaknya aku tak berharap seseorang akan
menyanyikan lagu selamat ulang tahun itu di telingaku. Menjelang pergantian
usia ini aku tak merasakan sedikitpun hingar bingar dan rona bahagia.
Di siang bolong saat kampus belakang
kontrakanku tengah ramai dengan suara calon Mahasiswa Baru, justru ada embun di
pelupuk mata saat aku baru saja bangun dari tidurku dengan tubuh masih
tergeletak di atas kasur dan kepala masih nyaman berada diatas bantal. Aku
ingat bahwa beberapa ribu detik lagi aku akan genap berusia 22 tahun. Meski 22
tahun hanya sehari bukan? Setelah tanggal 12 berarti sudah 22 tahun bukan?
Bukan lagi genap 22....
22 tahun bukan lagi usia yang muda
tapi, belum juga matang apalagi tua. Pada usia ini pula aku tak mengharap
sebuah kejutan ceremonial semacam potong kue dan tiup lilin, seperti yang
selalu kuidam-idamkan dulu semasa duduk di bangku sekolah dulu. Akan tetapi,
aku memaknai angka 22 itu lebih kepada refleksi dan muhasabah diri. Sudahkah
melakukan kebaikan? Sudahkah mampu menjadi sebaik-baik manusia (red:bermanfaat
bagi sesamanya)??? Sudahkah keringat menetes karena lillah? Sudahkah mata basah
di tengah malam karena diri yang merasa terhimpit dosa? Sudahkah lebih baik
dari sebelumnya? Sudahkah mampu berkiprah untuk kepentingan umat? Sudahkah ini?
Sudahkah itu?
Rupanya diri amatlah jauh dari kata
baik dan sempurna. Masih banyak ruang yang belum tersentuh. Masih banyak pipi
basah yang belum pula tersentuh oleh jari ini. Masih banyak yang sering
tersakiti oleh kata dan tindakan yang dilakukan diri ini.
Pada usia ini sudah semestinya
mematangkan fikiran dan menentukan kemana kaki akan melangkah. Ke kanankah? Atau
ke kiri kah? Atau diam di tempat atau justru berbalik badan saja? Yang jelas
langkah yang membawa kita pada tujuan hidup kita sesungguhnya. Langkah yang
sedikit tajam kadang berkelok kadang ada kerikil menghadang yang Insyaa Allah
akan menjadi langkah yang mulus saat menuju JannahNya.
Saat semua orang tengah sibuk dengan
hiruk pikuk aktivitas mereka masing-masing aku tengah sibuk menyeka haru yang
menyelinap dalam dada. Degupan dan nafas yang kurasa begitu mesra dari
biasanya. Hingga tak terasa sepercik air mata menggenang lalu jatuh dari
pelupuk mata. Air mata haru dan sukacita menyambut 12 September ke 22 ini. Aku
ingin sedikit menulis untuk seseorang yang amat dan teramat aku kasihi....
“Teruntuk,
sepasang malaikat tanpa sayapku”
‘Bapak dan
Ibu’
“Buk,
Pak... Ingatkah engkau pada tanggal ini “12 September”? Bukankah 22 tahun lalu
karena kelahiran bayi premature itu kalian menjadi cemas dan khawatir? Yang
sejak kecil sering sakit-sakitan dan hanya (mau) sembuh jika
permintaan-permintaannya dipenuhi.
Banyak
orang mengira bahwa aku tidak bisa bertahan hidup karena berat badanku dibawah rata-rata
berat teman-temanku sesama bayi. Kata mereka aku kecil dan hitam ya? Sampai
sekarang pun masih seperti lumpur hitam.
Terlahir
disambut dan tumbuh dengan hinaan itu adalah beban mental yang nyaris membuatku
menyerah dan tak ingin melanjutkan hidupku. Tapi, ku fikir aku terlalu bodoh
jika mengiyakan apa yang mereka pikirkan tentangku dan tentang kita. Jika aku
menyerah sama saja aku membiarkan anak-anak lain berpotensi merasakan apa yang
kurasakan pada saat itu.
Tapi, aku
bangga lahir dan tumbuh bersama kalian. Menjadi bagian dari perjuangan dan
proses untuk mencapai kesejahteraan. Yang (katanya) sejak umur 3 bulan kalian
membawaku ke sawah untuk ikut kalian ke sawah. Menjadi buruh tani di sawah para
tetangga. Sejak sebelum fajar mengundang matahari kalian lebih dulu membawaku
turut serta. Dengan bak mandi dan bantal kalian tinggalkan aku jalan-jalan
sawah (galengan), sebentar-sebentar kalian tengok dan nyaris di suatu ketika
aku hampir dililit ular besar. Namun, kalian datang lebih dulu sebelum ular itu
menyentuhku. Tak sampai disitu. Di tengah senja pada musim penghujan, Ibu masih
membawaku dalam gendongan sambil mengarahkan domba-domba di tengah hutan untuk
pulang. Gemuruh halilintar bersamaan dengan kedatangan pasukan air langit
membuat tubuhku semakin mengkerut, ketakutan lagi kedinginan. Tapi, kau masih
mendekapku mesra sekalipun tubuhmu telah kuyup.”
“Buk,
Pak... Dulu aku sempat berpikir mengapa kita tak ditakdirkan kaya. Tapi, kini
justru aku tak memikirkan itu sama sekali. Aku tak lagi mencaci takdir. Karena
ternyata kebahagiaan dan makna hidup tak akan mampu dibeli dengan kekayaan
dunia. Kenyataannya karena kekayaan manusia sering kali alpa dari rasa peduli
terhadap sesama. Hidup (agak) susah seperti pada saat aku masih kecil dulu
justru membuatku bersyukur. Karena aku terlahir dan besar dengan sebuah proses.
Itulah yang mampu menjadikanku pribadi yang tangguh. Karena hanya dengan sebuah
proses seorang anak manusia mampu bertahan hidup di tengah kerasnya gesekan
dunia.”
“Satu lagi
pelajaran dalam hidup untukmu yang dulu sempat mencemaskan aku. Bahwa Allah
boleh saja melahirkanku dalam keadaan premature tapi, aku percaya bahwa dibalik
kekurangan yang Allah titipkan ada sebuah potensi besar yang dititipkan Allah
kepadaku. Terima kasih telah memelukku dengan hangat selama 22 tahun ini.
Terima kasih tetap menjadi tempatku pulang ketika dunia menjauhiku. Tiada yang
bisa menerima, mencintai, dan mengasihiku seikhlas kasih tulus yang kalian
persembahkan. Ibu dan Bapak I Love U....”
Semoga 22 tahun ini membawaku menebar
kasih sayang, cinta, kepedulian, dan kebahagiaan bagi siapapun. Aku belum
berharap Allah akan menemukan aku pada yang seringkali dipinta oleh wanita
berusia 20 tahun ke atas (red:jodoh). Karena aku (masih) takut menduakan cinta
lelaki yang mencintaiku dengan tulus yakni, Bapak. Doaku semoga Allah
menyertakan ridhoNya dalam setiap perjalanan hidupku. Semoga semesta dan
Malaikat mengamini doa-doa panjangku. Selamat Ulang Tahun Mbak Bi, Barokallah fii
Umrik!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar