SEBUAH USAHA
UNTUK MENDAMAIKAN HATI
Oleh : Sebut
saja IBED atau sesukamu
“PEACE”, mendengar kata itu aku tak pernah memikirkannya terlalu panjang.
Yang aku tau kata “peace” artinya damai. Hingga pada akhirnya kata itu
menjadi sebuah pesan sekaligus pengalaman berharga dalam catatan kecil
perjalanan hidupku.
....dan
Malang, lagi-lagi adalah kota tujuan dari seorang yang baru saja mematahkan
harapannya sendiri, keputusasaan, seolah seperti nama kota yang terkenal dengan
hawa dinginnya itu maka, aku datang lagi dengan sebuah Kemalangan seperti 5
tahun lalu. Tapi, bukan itu yang ingin
aku bagikan dalam sepucuk kisah ini dan maaf, mungkin ini tak bisa sama persis
dengan apa yang baru saja tuhan kisahkan sepanjang jalan
Surabaya-Malang-Surabaya. Ke Malang ini
kuniatkan hanya untuk menambah wawasan dan memiliki teman baru dari berbagai
latar belakang sekaligus sebuah refreshing di tengah kejenuhan skripsi
ataupun laporan magang serta ingin berjumpa dengan sahabat yang telah lama tak
tampak dari pandangan mata.
Malam itu
adalah malam yang tidak pernah kurencanakan dalam angan-anganku sekalipun aku
pernah sedikit berharap pada harapku sendiri bahwa sebentar saja aku ingin
lebih dekat dengannya. Sedang sepanjang ku mengenalnya sampai aku jatuh hati
padanya dan selalu gagal move on darinya sejak awal menjadi mahasiswa
baru sampai menjadi mahasiswa semester akhir saat menulis ini aku tidak pernah
memiliki keberanian untuk sekedar menyapa atau melihatnya dari dekat. Sekedar
mencuri pandang, pernah. Hanya saja segera kualihkan bila matanya akan segera
membalas pandangku. Aku terlalu cemen dalam hal semacam ini, kawan.
Tolonglah aku!!!
Namun, sekali
waktu aku pernah mengumpulkan segenap keberanianku untuk meminta berfoto
bersamanya saat dia wisuda. Tidak tau meminjam keberanian siapa untuk modus
cerdas semacam itu dan itu adalah pertama kalinya aku berfoto berdua dengan
seseorang yang diam-diam kukagumi lama sekali dari kedalaman hati yang paling
dalam. Pertama yang kukira juga akan menjadi terakhir. Untuk menepis
ketidakbenaran itu nanti di tengah-tengah cerita ini jika kau menyadarinya kau
akan mengerti.
Malam itu
cuaca tak seberapa jelas sehingga sulit ditebak. Surabaya tampak cerah-cerah
saja tetapi, kata seseorang dalam grup peserta Youth Leader Peace Camp di
Lawang gerimis. Sedang hati dan pikiranku masih berkecamuk. Antara yakin dan
tidak yakin akan berangkat ke Malang dengan makhluk istimewa itu, berangkat
bersama teman-temanku atau mereka tak bisa ditunggu, kekikukanku berdekatan
dengan dia, dan bayangan harap yang baru saja kubunuh sedari pagi tadi lantaran
mendengar bahwa pengeran tanpa kuda besi (red: yang pernah kutulis dalam
blog ini) sangat selektif dalam memilih pasangan sehingga membuatku benar-benar
membunuh segala harap tentangnya dan ingin menutup hati untuk sebuah
kesia-siaan yang bernama “cinta”.
Tetapi,
dia...... Malam itu pula menjelang maghrib
dia memberi kepastian bila aku boleh menumpangnya. Dia menungguku di jembatan
depan kampus dengan jaket kesayangan semasa gathering 2014. Sebenarnya aku
tidak cukup percaya diri harus benar-benar menghadapi kenyataan bahwa saat itu
aku benar-benar sedang bercakap dengan dia secara langsung. Segenap keberanian
telah kukumpulkan beberapa hari sejak aku dinyatakan bisa seforum dengannya.
Walau sungguh niatku bukan itu. Ini hanya sebuah bonus atau justru akan menjadi
petaka untukku setelah itu.
Dengan tas
ransel polo coklatku yang semula ku tenteng di pundak, helm BMC hijauku, masker
merah maroon yang kuikatkan pada jilbab berwarna senada dengan warna masker
yang kupinjam dari teman sekontrakanku, kuberanikan diri menaiki motornya
dengan rok hitamku yang sedikit sempit untuk dikenakan saat berkendara yang
beberapa detik kemudian aku telah duduk di belakangnya, tepat di belakangnya
dengan hanya dibatasi oleh tas ranselnya yang ku pangku sedangkan tas ranselku
di taruh di depan bawah jok motornya.
Berkendara
dengan sedikit cemas, nervous, dan rasa yang sangat campur aduk sepanjang
perjalanan Surabaya-Malang. Entah apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak
namun, kurasa tidak. Karena aku tau sepanjang kami dekat dan saling mengenal
hanya aku yang jatuh cinta sedang dia tidak pernah menunjukkan perasaan yang
serasa dengan yang kurasa. Tapi, biarlah aku tidak peduli yang penting saat ini
aku bersamanya.
Dia adalah
teman ngobrol yang baik. Walaupun itu adalah waktu ngobrol terpanjang
yang pernah kami lewati, tidak tau setelah ini. Langit rupanya tak mau diam
saja, titik-titik kecil jatuh pelan-pelan dari ketinggian yang tidak bisa
tergapai dengan tangan manusia atau hitungan kilometer. Ia jatuh pelan-pelan
seolah takut melukai dua orang yang sedang berkendara dengan obrolan garing dan
seperlunya sepanjang jalan aspal yang panjang dan kadang terjal. Sampai
kemudian ada kecelakaan lalu lintas antara mobil tronton menggilas pengendara
motor yang tinggal hanya terlihat jaket biru mudanya setelah mobil besar itu
berlalu. Bergidik kami sedikit hati-hati. Padahal baru beberapa detik lalu dia
mengatakan maksudnya untuk menambah sedikit kecepatan motornya namun, dia
khawatir aku takut. Kemudian aku pun menimpali jika aku sudah terbiasa diajak
kebut-kebutan oleh para adik-adik kaderku yang laki-laki. Baru saja beberapa
detik kecepatan ditambah ada pemandangan yang sedikit mencekam di jalan raya di
Sidoarjo. Dia kemudian berhenti hendak mengajakku untuk menengok korban namun,
aku sedikit takut. Kemudian dia pun melanjutkan laju motornya dengan kecepatan
yang sedang. Berlalu meninggalkan aspal berdarah itu.
Beberapa jam
kemudian tibalah kami di sekitar Lawang, Pasuruan. Bau menyengat mirip bau
rokok tercium sepanjang beberapa meter namun, katanya itu adalah bau teh dari
pabrik teh. Aku baru mengerti. Udara dingin mulai terasa padahal belum sampai
di Kota tujuan yang kuperkirakan lebih dingin.
Mulai
memasuki jalan singosari dia mulai membuka google map di HP nya maklum saja lah
dia tak seberapa hafal jalan itu. Aku, apalagi tidak menahu sama sekali. Sampai
kemudian kami terhenti karena palang pintu kereta api pertanda kereta akan
lewat menghadang. Beberapa menit kemudian setelah kereta api yang hanya satu
gerbong itu berlalu kami melanjutkan perjalanan. Sampailah di suatu jalan yang
kecil, gelap, lagi naik turun seperti apa kata google map. Rupanya beberapa
saat kemudian tibalah kami di lokasi tujuan namun, rupanya itu salah. Kami
nyasar sehingga harus putar balik lagi hingga kemudian harus mengikuti lokasi
yang dikirim oleh seorang sahabat yang telah menunggu sejak tadi sore.
Lanjutlah kami lagi-lagi di jalan yang sepi oleh keberadaan manusia hanya satu
atau dua manusia saja yang tampak hingga seorang malaikat yang menjelma menjadi
penjual nasi goreng menunjukkan kami arah dan tujuan kami. Mengikuti apa kata
Bapak nasi goreng tadi naik tanjakan di pertigaan masjid belok kanan dan
terhenti di depan seorang gadis sebayaku yang menyambut kami dengan teriakan
tawa khasnya langsung berpelukan hingga berloncat-loncat sementara dia hanya
tersenyum lebar menyaksikan drama kerinduan itu. Kemudian aku bermalam di kosan
sahabatku yang kebetulan Mahasiswi UMM dan dia bermalam di masjid yang tadi
kami lewati.
Keesokan
paginya panitia menginformasikan bahwa pukul 07:00 harus sudah di PSIF UMM dia
menawarkan mau berangkat bareng atau tidak. Aku mengiyakan meskipun aku diantar
oleh sahabatku dan dia membuntut di belakang kami.
Tidak
seberapa jauh jarak antara lokasi kami bermalam dengan UMM. Beberapa menit saja
duduk di atas motor kami sudah sampai di Kampus Putih itu yang konon katanya
adalah kampus keberagaman. Mahasiswanya dari seluruh Indonesia dengan berbagai
keyakinan yang berbeda. Sekitar satu jam kami di PSIF UMM berkenalan dengan
peserta-peserta dari berbagai daerah dan lintas keyakinan dilanjut makan pagi
bersama dan kemudian menuju lokasi kegiatan. Perjalanan menuju lokasi pun aku
membuntut di belakangnya alias berboncengan dengan dia. Tenang saja, tak ada
kontak fisik, tak ada yang namanya pegangan, tidak, tidak ada. Hanya obrolan
kecil saja sembari melewati medan yang lumayan terjal. Sampailah kami di lokasi
yang begitu asri, hijau, dan segar. Jauh dari kebisingan dan asap polusi
seperti di surabaya.
Dua hari
penuh kami berada di bawah dinginnya langit malam yang nyaris membekukan tapi,
tidak dengan hati. Berjumpa dengan orang-orang baru. Orang baru yang berbeda
segalanya, sangat berbeda. Yang hanya memiliki tujuan yang sama yaitu menjadi
agen perdamaian, katanya sih. Selama itu pula tak ada sapaan, tak ada saling
tegur, tak pernah ada yang namanya makan bareng seperti dengan teman-teman
sesama peserta lainnya. Enggan lebih tepatnya untuk mengungkapkan apa
yang terjadi antara aku dan dia. Mungkin hanya aku sedangkan dia tidak.
Sesekali aku mengamatinya sebentar kemudian sebelum dia membalas pandanganku
aku telah mengakhirinya lebih dulu. Tidak boleh, tidak, ia tak boleh tau bahwa
aku sedang menikmati rautnya yang berbalut kacamata.
Di Malang, di
lokasi Peace Camp itu tepatnya tiada senja yang dapat dinikmati seperti
biasanya. Rimbun pepohonan yang tinggi subur dari berbagai jenis menghalangi
senja sampai ke pandangan mata ini. Kemudian kami, aku dan dia saling mencari
setelah upacara penutupan. Ku bayangkan semua akan sedingin kemarin saat
kemari. Aku sekedar menjadi penumpang dan dia sekedar menjadi gojeknya.
Tapi, tumben Tuhan hari itu mencairkan suasana. Dalam perjalanan pulang sejak
aku duduk di atas jok motornya tepat di belakangnya menghadap ke punggungnya,
dia mengawali cerita panjang sepanjang jalan Malang-Surabaya. Walau harus di
jeda saat kami mampir di Masjid AR Fachrudin di UMM sembari menungguiku melepas
rindu dengan teman-teman SMK ku yang kebetulan menjadi Mahasiswi di UMM. Dia
menyaksikan adegan dramatis temu kangen dua orang perempuan serupa kakak adik
ideologis yang sudah 3 tahun tidak bertemu.
Baiklah
lupakan adegan dramatis itu....
Mega Malang
telah berubah menjadi kelabu perlahan kemudian semakin menghitam pertanda senja
telah berganti menjadi malam. Muadzin juga telah mengumandangkan adzan Isya’
para manusia bertuhan pun berbondong-bondong mengambil air wudhu kemudian
bersiap untuk menunaikan sholat Isya’. Pun aku dan dia. Karena beberapa menit
setelah itu aku dan dia akan berkendara jauh sepanjang Malang-Surabaya. Dan
setiap perjalanan butuh perlindungan dari Tuhan, bukan?
Jarum jam
terus berputar tanpa jeda. Hitamnya langit malam itu cukup mengkhawatirkan
mengingat hujan selalu tak sabar untuk mengguyur bumi. Aku dan dia pun bergegas
meninggalkan Masjid UMM.
....dan
cerita beserta perjalanan pun dilanjutkan lagi.
Sepanjang
jalan aku banyak mendengar celotehnya. Sampai-sampai jalanan Malang-Surabaya
terasa memendek dibanding saat berangkat kemarin. Sepanjang jalan yang terasa
memendek itu pula dia mulai bercerita tanpa tanda-tanda lelah. Yang awalnya
tentang bagaimana pendapatku mengenai cerita selama Peace Camp, sampai dia
bercerita bagaimana dia berusaha menyatukan dua ormas pemuda di daerahnya
kemudian dia dimusuhi karena dianggap membenturkan meskipun niatnya baik kemudian
bagaimana ia menyusun strategi untuk memperbaiki tali silahturrahmi dengan dua
ormas itu. Tidak hanya sampai disitu. Dia kembali bercerita dimulai dengan
kalimat ini, “dulu aku pernah janji sama kamu mau menceritakan tentang
skripsi...” Sampailah ia bercerita kadang-kadang aku ganti bercerita. Kalau
kamu yang ada di belakangnya dan mendengar semua ceritanya, aku yakin kamupun
sepakat kalau aku bilang, “sungguh mulia hati ini orang.”
Alasannya
lulus 5 tahun pun terjawab semua bahwa ternyata dia menunggu sahabatnya itu.
Sahabat dimana mereka pernah sama-sama suka pada seorang wanita yang sama, bukan
aku tentunya. Rupanya dia pernah menangis karena gagal sidang skripsi
bahkan ia tidak datang sidang demi seorang teman yang juga batal sidang karena
neneknya sakit. Sontak hal itu membuat orang-orang terdekatnya kecewa termasuk
Mama dan dosen pembimbingnya. Sementara kawan-kawan seangkatannya yang sejak
awal katanya berkomitmen akan lulus bersama, saling membantu, saling menunggu
tidak pernah bertanya apa-apa.
Dia bahkan
membantu salah seorang teman seangkatannya yang H min berapa hari sidang diubah
judulnya. Teman yang konon menurut cerita mereka pernah sangat dekat, pernah
ada sesuatu sampai-sampai ada bagian dimana aku merasa tidak memiliki
kepercayaan diri. Dia menceritakan perempuan itu. Tentang panggilan wanita itu
padanya yang tidak umum. Bahkan asing di telingaku sampai sekarang masih samar.
Ah sudahlah tiba-tiba ada yang tidak enak dalam hati menjadi tanda tanya.
Sampai di
suatu belokan arah ke Pasuruan nyaris sebuah bis menyerempet kami. Tapi, Allah
masih memberi kesempatan untuk kami sampai di Surabaya. Gerimisi menghujani
sepanjang jalanan Sidoarjo sampai Surabaya. Di tengah jalan tiba-tiba dia
lepaskan helmnya. Kutanya kenapa, katanya dia mengantuk. Aku merasa bersalah.
Karena harus mengantarkanku, dia tak langsung pulang. Hampir tengah malam kami
baru tiba di depan kampus. Sebenarnya waktu itu aku ingin mengajaknya makan
malam tapi, aku ragu. Takut dia tidak mau atau dia mengantuk berat. Kemudian dia
pun berlalu dengan senyum dan mata mengantuknya yang dibalut dengan kacamata.
Kacamata yang menjadi alasan awal aku jatuh hati.
Kupikir setelah aku turun dari boncengannya
akan menjadi awal sebuah cerita baru persahabatanku dengannya. Rupanya hatiku
tak bisa berbohong. Tak semakin damai karena mampu menghilangkan sekat yang
bernama “Cinta” aku justru semakin yakin akan apa yang kurasakan saat ini.
Jatuh cintaku semakin menyiksa, nyaris membunuhku dalam sadarku. Upayaku untuk
berdamai dengan hatiku sendiri menjadi berantakan. Aku kehilangan arah. Aku
mengosongkan nama-nama yang sempat tinggal di ruang-ruang hatiku untuk namanya,
yaaaa hanya namanya. Aku ingin hidup normal layaknya mereka yang bisa berteman
dengannya sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh sekadar menjadi teman tanpa ada
bumbu getaran, debaran, embel-embel jatuh cinta.
Harus
bagaimana lagi upayaku untuk berdamai dengan insan-insan di luar sana jika aku
sendiri belum mampu berdamai dengan hatiku sendiri. Ajari aku bagaimana caranya
mencintai tanpa harus merasakan debaran itu. Ajari aku mencintai tanpa akhir
dan cinta itu kamu. Kacamataku! (28/03/2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar