animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Kamis, 29 Maret 2018

Sebuah Kisah Yang Kutemui di Jalanan


SEBUAH USAHA UNTUK MENDAMAIKAN HATI
Oleh : Sebut saja IBED atau sesukamu


“PEACE”, mendengar kata itu aku tak pernah memikirkannya terlalu panjang. Yang aku tau kata “peace” artinya damai. Hingga pada akhirnya kata itu menjadi sebuah pesan sekaligus pengalaman berharga dalam catatan kecil perjalanan hidupku.
....dan Malang, lagi-lagi adalah kota tujuan dari seorang yang baru saja mematahkan harapannya sendiri, keputusasaan, seolah seperti nama kota yang terkenal dengan hawa dinginnya itu maka, aku datang lagi dengan sebuah Kemalangan seperti 5 tahun lalu.  Tapi, bukan itu yang ingin aku bagikan dalam sepucuk kisah ini dan maaf, mungkin ini tak bisa sama persis dengan apa yang baru saja tuhan kisahkan sepanjang jalan Surabaya-Malang-Surabaya.  Ke Malang ini kuniatkan hanya untuk menambah wawasan dan memiliki teman baru dari berbagai latar belakang sekaligus sebuah refreshing di tengah kejenuhan skripsi ataupun laporan magang serta ingin berjumpa dengan sahabat yang telah lama tak tampak dari pandangan mata.
Malam itu adalah malam yang tidak pernah kurencanakan dalam angan-anganku sekalipun aku pernah sedikit berharap pada harapku sendiri bahwa sebentar saja aku ingin lebih dekat dengannya. Sedang sepanjang ku mengenalnya sampai aku jatuh hati padanya dan selalu gagal move on darinya sejak awal menjadi mahasiswa baru sampai menjadi mahasiswa semester akhir saat menulis ini aku tidak pernah memiliki keberanian untuk sekedar menyapa atau melihatnya dari dekat. Sekedar mencuri pandang, pernah. Hanya saja segera kualihkan bila matanya akan segera membalas pandangku. Aku terlalu cemen dalam hal semacam ini, kawan. Tolonglah aku!!!
Namun, sekali waktu aku pernah mengumpulkan segenap keberanianku untuk meminta berfoto bersamanya saat dia wisuda. Tidak tau meminjam keberanian siapa untuk modus cerdas semacam itu dan itu adalah pertama kalinya aku berfoto berdua dengan seseorang yang diam-diam kukagumi lama sekali dari kedalaman hati yang paling dalam. Pertama yang kukira juga akan menjadi terakhir. Untuk menepis ketidakbenaran itu nanti di tengah-tengah cerita ini jika kau menyadarinya kau akan mengerti.
Malam itu cuaca tak seberapa jelas sehingga sulit ditebak. Surabaya tampak cerah-cerah saja tetapi, kata seseorang dalam grup peserta Youth Leader Peace Camp di Lawang gerimis. Sedang hati dan pikiranku masih berkecamuk. Antara yakin dan tidak yakin akan berangkat ke Malang dengan makhluk istimewa itu, berangkat bersama teman-temanku atau mereka tak bisa ditunggu, kekikukanku berdekatan dengan dia, dan bayangan harap yang baru saja kubunuh sedari pagi tadi lantaran mendengar bahwa pengeran tanpa kuda besi (red: yang pernah kutulis dalam blog ini) sangat selektif dalam memilih pasangan sehingga membuatku benar-benar membunuh segala harap tentangnya dan ingin menutup hati untuk sebuah kesia-siaan yang bernama “cinta”.
Tetapi, dia...... Malam itu pula menjelang maghrib dia memberi kepastian bila aku boleh menumpangnya. Dia menungguku di jembatan depan kampus dengan jaket kesayangan semasa gathering 2014. Sebenarnya aku tidak cukup percaya diri harus benar-benar menghadapi kenyataan bahwa saat itu aku benar-benar sedang bercakap dengan dia secara langsung. Segenap keberanian telah kukumpulkan beberapa hari sejak aku dinyatakan bisa seforum dengannya. Walau sungguh niatku bukan itu. Ini hanya sebuah bonus atau justru akan menjadi petaka untukku setelah itu.
Dengan tas ransel polo coklatku yang semula ku tenteng di pundak, helm BMC hijauku, masker merah maroon yang kuikatkan pada jilbab berwarna senada dengan warna masker yang kupinjam dari teman sekontrakanku, kuberanikan diri menaiki motornya dengan rok hitamku yang sedikit sempit untuk dikenakan saat berkendara yang beberapa detik kemudian aku telah duduk di belakangnya, tepat di belakangnya dengan hanya dibatasi oleh tas ranselnya yang ku pangku sedangkan tas ranselku di taruh di depan bawah jok motornya.
Berkendara dengan sedikit cemas, nervous, dan rasa yang sangat campur aduk sepanjang perjalanan Surabaya-Malang. Entah apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak namun, kurasa tidak. Karena aku tau sepanjang kami dekat dan saling mengenal hanya aku yang jatuh cinta sedang dia tidak pernah menunjukkan perasaan yang serasa dengan yang kurasa. Tapi, biarlah aku tidak peduli yang penting saat ini aku bersamanya.
Dia adalah teman ngobrol yang baik. Walaupun itu adalah waktu ngobrol terpanjang yang pernah kami lewati, tidak tau setelah ini. Langit rupanya tak mau diam saja, titik-titik kecil jatuh pelan-pelan dari ketinggian yang tidak bisa tergapai dengan tangan manusia atau hitungan kilometer. Ia jatuh pelan-pelan seolah takut melukai dua orang yang sedang berkendara dengan obrolan garing dan seperlunya sepanjang jalan aspal yang panjang dan kadang terjal. Sampai kemudian ada kecelakaan lalu lintas antara mobil tronton menggilas pengendara motor yang tinggal hanya terlihat jaket biru mudanya setelah mobil besar itu berlalu. Bergidik kami sedikit hati-hati. Padahal baru beberapa detik lalu dia mengatakan maksudnya untuk menambah sedikit kecepatan motornya namun, dia khawatir aku takut. Kemudian aku pun menimpali jika aku sudah terbiasa diajak kebut-kebutan oleh para adik-adik kaderku yang laki-laki. Baru saja beberapa detik kecepatan ditambah ada pemandangan yang sedikit mencekam di jalan raya di Sidoarjo. Dia kemudian berhenti hendak mengajakku untuk menengok korban namun, aku sedikit takut. Kemudian dia pun melanjutkan laju motornya dengan kecepatan yang sedang. Berlalu meninggalkan aspal berdarah itu.
Beberapa jam kemudian tibalah kami di sekitar Lawang, Pasuruan. Bau menyengat mirip bau rokok tercium sepanjang beberapa meter namun, katanya itu adalah bau teh dari pabrik teh. Aku baru mengerti. Udara dingin mulai terasa padahal belum sampai di Kota tujuan yang kuperkirakan lebih dingin.
Mulai memasuki jalan singosari dia mulai membuka google map di HP nya maklum saja lah dia tak seberapa hafal jalan itu. Aku, apalagi tidak menahu sama sekali. Sampai kemudian kami terhenti karena palang pintu kereta api pertanda kereta akan lewat menghadang. Beberapa menit kemudian setelah kereta api yang hanya satu gerbong itu berlalu kami melanjutkan perjalanan. Sampailah di suatu jalan yang kecil, gelap, lagi naik turun seperti apa kata google map. Rupanya beberapa saat kemudian tibalah kami di lokasi tujuan namun, rupanya itu salah. Kami nyasar sehingga harus putar balik lagi hingga kemudian harus mengikuti lokasi yang dikirim oleh seorang sahabat yang telah menunggu sejak tadi sore. Lanjutlah kami lagi-lagi di jalan yang sepi oleh keberadaan manusia hanya satu atau dua manusia saja yang tampak hingga seorang malaikat yang menjelma menjadi penjual nasi goreng menunjukkan kami arah dan tujuan kami. Mengikuti apa kata Bapak nasi goreng tadi naik tanjakan di pertigaan masjid belok kanan dan terhenti di depan seorang gadis sebayaku yang menyambut kami dengan teriakan tawa khasnya langsung berpelukan hingga berloncat-loncat sementara dia hanya tersenyum lebar menyaksikan drama kerinduan itu. Kemudian aku bermalam di kosan sahabatku yang kebetulan Mahasiswi UMM dan dia bermalam di masjid yang tadi kami lewati.
Keesokan paginya panitia menginformasikan bahwa pukul 07:00 harus sudah di PSIF UMM dia menawarkan mau berangkat bareng atau tidak. Aku mengiyakan meskipun aku diantar oleh sahabatku dan dia membuntut di belakang kami.
Tidak seberapa jauh jarak antara lokasi kami bermalam dengan UMM. Beberapa menit saja duduk di atas motor kami sudah sampai di Kampus Putih itu yang konon katanya adalah kampus keberagaman. Mahasiswanya dari seluruh Indonesia dengan berbagai keyakinan yang berbeda. Sekitar satu jam kami di PSIF UMM berkenalan dengan peserta-peserta dari berbagai daerah dan lintas keyakinan dilanjut makan pagi bersama dan kemudian menuju lokasi kegiatan. Perjalanan menuju lokasi pun aku membuntut di belakangnya alias berboncengan dengan dia. Tenang saja, tak ada kontak fisik, tak ada yang namanya pegangan, tidak, tidak ada. Hanya obrolan kecil saja sembari melewati medan yang lumayan terjal. Sampailah kami di lokasi yang begitu asri, hijau, dan segar. Jauh dari kebisingan dan asap polusi seperti di surabaya.
Dua hari penuh kami berada di bawah dinginnya langit malam yang nyaris membekukan tapi, tidak dengan hati. Berjumpa dengan orang-orang baru. Orang baru yang berbeda segalanya, sangat berbeda. Yang hanya memiliki tujuan yang sama yaitu menjadi agen perdamaian, katanya sih. Selama itu pula tak ada sapaan, tak ada saling tegur, tak pernah ada yang namanya ­makan bareng seperti dengan teman-teman sesama peserta lainnya. Enggan lebih tepatnya untuk mengungkapkan apa yang terjadi antara aku dan dia. Mungkin hanya aku sedangkan dia tidak. Sesekali aku mengamatinya sebentar kemudian sebelum dia membalas pandanganku aku telah mengakhirinya lebih dulu. Tidak boleh, tidak, ia tak boleh tau bahwa aku sedang menikmati rautnya yang berbalut kacamata.
Di Malang, di lokasi Peace Camp itu tepatnya tiada senja yang dapat dinikmati seperti biasanya. Rimbun pepohonan yang tinggi subur dari berbagai jenis menghalangi senja sampai ke pandangan mata ini. Kemudian kami, aku dan dia saling mencari setelah upacara penutupan. Ku bayangkan semua akan sedingin kemarin saat kemari. Aku sekedar menjadi penumpang dan dia sekedar menjadi gojeknya. Tapi, tumben Tuhan hari itu mencairkan suasana. Dalam perjalanan pulang sejak aku duduk di atas jok motornya tepat di belakangnya menghadap ke punggungnya, dia mengawali cerita panjang sepanjang jalan Malang-Surabaya. Walau harus di jeda saat kami mampir di Masjid AR Fachrudin di UMM sembari menungguiku melepas rindu dengan teman-teman SMK ku yang kebetulan menjadi Mahasiswi di UMM. Dia menyaksikan adegan dramatis temu kangen dua orang perempuan serupa kakak adik ideologis yang sudah 3 tahun tidak bertemu.
Baiklah lupakan adegan dramatis itu....
Mega Malang telah berubah menjadi kelabu perlahan kemudian semakin menghitam pertanda senja telah berganti menjadi malam. Muadzin juga telah mengumandangkan adzan Isya’ para manusia bertuhan pun berbondong-bondong mengambil air wudhu kemudian bersiap untuk menunaikan sholat Isya’. Pun aku dan dia. Karena beberapa menit setelah itu aku dan dia akan berkendara jauh sepanjang Malang-Surabaya. Dan setiap perjalanan butuh perlindungan dari Tuhan, bukan?
Jarum jam terus berputar tanpa jeda. Hitamnya langit malam itu cukup mengkhawatirkan mengingat hujan selalu tak sabar untuk mengguyur bumi. Aku dan dia pun bergegas meninggalkan Masjid UMM.
....dan cerita beserta perjalanan pun dilanjutkan lagi.
Sepanjang jalan aku banyak mendengar celotehnya. Sampai-sampai jalanan Malang-Surabaya terasa memendek dibanding saat berangkat kemarin. Sepanjang jalan yang terasa memendek itu pula dia mulai bercerita tanpa tanda-tanda lelah. Yang awalnya tentang bagaimana pendapatku mengenai cerita selama Peace Camp, sampai dia bercerita bagaimana dia berusaha menyatukan dua ormas pemuda di daerahnya kemudian dia dimusuhi karena dianggap membenturkan meskipun niatnya baik kemudian bagaimana ia menyusun strategi untuk memperbaiki tali silahturrahmi dengan dua ormas itu. Tidak hanya sampai disitu. Dia kembali bercerita dimulai dengan kalimat ini, “dulu aku pernah janji sama kamu mau menceritakan tentang skripsi...” Sampailah ia bercerita kadang-kadang aku ganti bercerita. Kalau kamu yang ada di belakangnya dan mendengar semua ceritanya, aku yakin kamupun sepakat kalau aku bilang, “sungguh mulia hati ini orang.”
Alasannya lulus 5 tahun pun terjawab semua bahwa ternyata dia menunggu sahabatnya itu. Sahabat dimana mereka pernah sama-sama suka pada seorang wanita yang sama, bukan aku tentunya. Rupanya dia pernah menangis karena gagal sidang skripsi bahkan ia tidak datang sidang demi seorang teman yang juga batal sidang karena neneknya sakit. Sontak hal itu membuat orang-orang terdekatnya kecewa termasuk Mama dan dosen pembimbingnya. Sementara kawan-kawan seangkatannya yang sejak awal katanya berkomitmen akan lulus bersama, saling membantu, saling menunggu tidak pernah bertanya apa-apa.
Dia bahkan membantu salah seorang teman seangkatannya yang H min berapa hari sidang diubah judulnya. Teman yang konon menurut cerita mereka pernah sangat dekat, pernah ada sesuatu sampai-sampai ada bagian dimana aku merasa tidak memiliki kepercayaan diri. Dia menceritakan perempuan itu. Tentang panggilan wanita itu padanya yang tidak umum. Bahkan asing di telingaku sampai sekarang masih samar. Ah sudahlah tiba-tiba ada yang tidak enak dalam hati menjadi tanda tanya.
Sampai di suatu belokan arah ke Pasuruan nyaris sebuah bis menyerempet kami. Tapi, Allah masih memberi kesempatan untuk kami sampai di Surabaya. Gerimisi menghujani sepanjang jalanan Sidoarjo sampai Surabaya. Di tengah jalan tiba-tiba dia lepaskan helmnya. ­­Kutanya kenapa, katanya dia mengantuk. Aku merasa bersalah. Karena harus mengantarkanku, dia tak langsung pulang. Hampir tengah malam kami baru tiba di depan kampus. Sebenarnya waktu itu aku ingin mengajaknya makan malam tapi, aku ragu. Takut dia tidak mau atau dia mengantuk berat. Kemudian dia pun berlalu dengan senyum dan mata mengantuknya yang dibalut dengan kacamata. Kacamata yang menjadi alasan awal aku jatuh hati.
 Kupikir setelah aku turun dari boncengannya akan menjadi awal sebuah cerita baru persahabatanku dengannya. Rupanya hatiku tak bisa berbohong. Tak semakin damai karena mampu menghilangkan sekat yang bernama “Cinta” aku justru semakin yakin akan apa yang kurasakan saat ini. Jatuh cintaku semakin menyiksa, nyaris membunuhku dalam sadarku. Upayaku untuk berdamai dengan hatiku sendiri menjadi berantakan. Aku kehilangan arah. Aku mengosongkan nama-nama yang sempat tinggal di ruang-ruang hatiku untuk namanya, yaaaa hanya namanya. Aku ingin hidup normal layaknya mereka yang bisa berteman dengannya sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh sekadar menjadi teman tanpa ada bumbu getaran, debaran, embel-embel jatuh cinta.
Harus bagaimana lagi upayaku untuk berdamai dengan insan-insan di luar sana jika aku sendiri belum mampu berdamai dengan hatiku sendiri. Ajari aku bagaimana caranya mencintai tanpa harus merasakan debaran itu. Ajari aku mencintai tanpa akhir dan cinta itu kamu. Kacamataku! (28/03/2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar