Oleh: Ibed
Mei
bagiku pernah menjadi bulan istimewa. Ulang tahunku? Ahh tentu bukan. Hari
jadianku? Bukan pula. Lalu apa???
Bagi seorang yang pernah berada di
masa remaja awal Mei menjadi hari bersejarah kala itu. Tepatnya ditanggal 9
Mei. Dimana pada tanggal itu selama 7 tahun lamanya seorang gadis remaja labil
dari sebuah desa memperingati hari itu sebagai hari pertama kalinya ia berjumpa
dengan seorang remaja laki-laki dari kota yang ia sebut ia pertama (read: pada
waktu itu).
Seorang remaja laki-laki yang seorang
seniman penari yang membius ratusan pasang mata penduduk desa Si gadis tak
terkecuali membius hati gadis itu. Di tengah kerumunan tatkala ratusan penonton
lain tengah bersorak sorai bertepuk tangan seolah menggambarkan bahwa para
penonton terhibur dengan aksi bocah itu, sementara itu si gadis desa kecil itu
hanya bisa memperhatikan polah tingkah si bocah laki-laki yang membuatnya
penasaran tak karuan.
Dengan jaket jeans berwarna biru agak
memudar dan kumal beserta celana komprang hitam dan topi di kepalanya, nyaris
saja anak gadis itu menegur bocah lelaki itu. Ia ingin bertanya sekedar nomor
telephonenya. Namun, ia tak memiliki
nyali yang cukup untuk sekedar memanggil ataupun berkenalan.
“Siapa namamu, wahai pemuda??? Kau anak mana
kah???” Tanyanya
dalam hati. Tanya yang perlahan terjawab seiring senja-senja yang ia lewati
semenjak pertemuan itu. Entah di senja ke berapa ia tak ingat betul ketika ada
seorang anak kecil yang memberitahunya bahwa namanya adalah Muhammad dan ia dari
Ibu Kota, duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama tingkat akhir. Kalau tidak
salah bulan-bulan di awal perjumpaan itu adalah bulan musim Ujian Nasional SMP.
Melalui anak kecil pembawa berita itu
pula ia mendapatkan apa yang dia elu-elukan di malam-malam panjang dan
lamunan-lamunan siangnya. Nomor telephone bocah lelaki itu. Muhammad atau Mad,
bocah ibukota itu. Namun, apa yang balasan dari bocah lelaki itu tak sesuai
dengan harapan si gadis. Mad rupanya cukup merasa terganggu dengan kehadiran bocah
ndeso yang mengaku-ngaku temannya itu. Yang belakangan Mad tahu bahwa bocah
itu adalah salah satu penggemarnya dari desa tempat ia manggung tanggal 9 Mei
lalu.
Mad yang pada waktu itu adalah siswa
baru di SMA enggan memberikan nomor telephonnya pada gadis itu. Malah SMS gadis
itu dibalas oleh bapak si Mad. Seringkali seseorang mengatasnamakan Mad
mengirim SMS ke gadis desa itu. Seolah menanyakan kabarnya atau apapun.
Ternyata setelah diselidiki orang itu bukan Mad, mereka adalah teman Mad. Entah
Mad sengaja meminjam HP temannya atau Mad memang sengaja mempermainkan gadis
itu. Mad selama ini hanya menunjukkan
penolakan, baik langsung maupun tidak langsung. Walaupun cinta gadis itu pasang
surut namun, ia mengaku mempertahankan perasaannya pada Mad selama 7 tahun.
Namun, karena akhirnya ia bosan
mendapatkan penolakan berkali-kali gadis itupun memutuskan untuk tak lagi
menyimpan dan memaksakan perasaannya. 7 tahun adalah waktu yang tidak sebentar
bagi seorang anak kecil yang tumbuh menjadi remaja awal hingga beranjak menjadi
dewasa awal memendam perasaan pada seorang bocah laki-laki yang kini menjadi
pemuda gagah.
Orientasi gadis itu berubah 180
derajat tatkala ia mulai duduk di bangku kuliah. Ia tak lagi menggebu mengejar
apa yang orang bilang cinta pertama. Baginya cinta hanyalah untuk orang-orang
yang mengasihinya dan hanya untuk pasangan halalnya kelak. Saat ini untuk
mencintai ia harus berfikir 1000x. Di matanya ayahnya adalah cinta pertamanya,
cinta yang ia sendiri kurang yakin apakah ada di dunia ini cinta yang melebihi
cinta seorang ayah kepada putrinya.
“Untukmu, yang pernah kusinggahi namun, tak pernah sebentarpun
turut menyinggahi.
Beberapa tahun lalu aku melihatmu, dan aku jatuh cinta seketika
itu. Aku terus bertanya dan berusaha dengan penuh harap bagaimana menakhlukan
hatimu yang masih saja terlalu keras untuk ku takhlukkan. Melebihi kerasnya
batu. Apapun yang kulakukan di matamu seolah akulah yang paling salah dalam hal
ini. Tapi, membuatku berhenti mengagumi tak semudah membalikkan telapak tangan.
Terlalu dalam aku menancapkan tonggak cinta itu hingga sakit yang aku tau
sengaja kau sematkan untuk membuatku menyerah tidak pernah terasa. Tidak..
Tidak semudah itu aku menyerahkan harapku pada takdir yang nyatanya mungkin tak
akan menyatukan apa yang seharusnya memang tak bersatu.
Kau mungkin tak akan perduli seberapa dalamnya perasaanku padamu.
Hari-hari yang tak menyenangkan kulewati dengan bayangmu yang terus saja
menghantuiku. Membuatku ragu tatkala ingin kubuka hatiku untuk yang lain.
Bagiku itu adalah masa-masa yang suram dimana hanya kamu yang ku
anggap segalanya, sedang aku tak mampu melihat orang-orang di sekitarku.
Maaf... Maafkan aku yang lancang yang mengganggu ketentramanmu dan dunia.
Tapi tenang saja, perlahan tapi pasti. Sekeras-kerasnya aku
mencintaimu akhirnya aku lelah mengejarmu, sedang kau terus saja berlari.
Logika ini mulai protes. Ia tak ingin hanya sebatas menjadi teori. Yang sok
bijak. Akhirnya akupun berhenti dan benar-benar memutuskan untuk menghentikan
perasaan tak berfaedah ini. Perasaan yang tak bisa kujanjikan untuk tetap ada
sampai kapanpun. Perasaan yang aku sendiri tak bisa menjamin kebahagiaanmu. Dan
ijinkan aku keluar dari zona persinggahan ini. Zona mematikan bagiku. Ijinkan
aku bahagia dengan cara yang kupilih. Lupakan aku yang pernah setengah mati
mencintai. Lupakan aku yang pernah sekeras-kerasnya berjuang dan bertahan
mencintai. Lupakan dan maafkan aku....
Dariku, yang pernah singgah selama 7 tahun...”
Begitulah isi surat botol yang ia tenggelamnya
di sungai dekat kosnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar