animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 14 Mei 2017

Mei Bercerita



Oleh: Ibed



Mei bagiku pernah menjadi bulan istimewa. Ulang tahunku? Ahh tentu bukan. Hari jadianku? Bukan pula. Lalu apa???
Bagi seorang yang pernah berada di masa remaja awal Mei menjadi hari bersejarah kala itu. Tepatnya ditanggal 9 Mei. Dimana pada tanggal itu selama 7 tahun lamanya seorang gadis remaja labil dari sebuah desa memperingati hari itu sebagai hari pertama kalinya ia berjumpa dengan seorang remaja laki-laki dari kota yang ia sebut ia pertama (read: pada waktu itu).

Seorang remaja laki-laki yang seorang seniman penari yang membius ratusan pasang mata penduduk desa Si gadis tak terkecuali membius hati gadis itu. Di tengah kerumunan tatkala ratusan penonton lain tengah bersorak sorai bertepuk tangan seolah menggambarkan bahwa para penonton terhibur dengan aksi bocah itu, sementara itu si gadis desa kecil itu hanya bisa memperhatikan polah tingkah si bocah laki-laki yang membuatnya penasaran tak karuan.

Dengan jaket jeans berwarna biru agak memudar dan kumal beserta celana komprang hitam dan topi di kepalanya, nyaris saja anak gadis itu menegur bocah lelaki itu. Ia ingin bertanya sekedar nomor telephonenya. Namun, ia tak memiliki  nyali yang cukup untuk sekedar memanggil ataupun berkenalan.

 “Siapa namamu, wahai pemuda??? Kau anak mana kah???” Tanyanya dalam hati. Tanya yang perlahan terjawab seiring senja-senja yang ia lewati semenjak pertemuan itu. Entah di senja ke berapa ia tak ingat betul ketika ada seorang anak kecil yang memberitahunya bahwa namanya adalah Muhammad dan ia dari Ibu Kota, duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama tingkat akhir. Kalau tidak salah bulan-bulan di awal perjumpaan itu adalah bulan musim Ujian Nasional SMP.

Melalui anak kecil pembawa berita itu pula ia mendapatkan apa yang dia elu-elukan di malam-malam panjang dan lamunan-lamunan siangnya. Nomor telephone bocah lelaki itu. Muhammad atau Mad, bocah ibukota itu. Namun, apa yang balasan dari bocah lelaki itu tak sesuai dengan harapan si gadis. Mad rupanya cukup merasa terganggu dengan kehadiran bocah ndeso yang mengaku-ngaku temannya itu. Yang belakangan Mad tahu bahwa bocah itu adalah salah satu penggemarnya dari desa tempat ia manggung tanggal 9 Mei lalu.

Mad yang pada waktu itu adalah siswa baru di SMA enggan memberikan nomor telephonnya pada gadis itu. Malah SMS gadis itu dibalas oleh bapak si Mad. Seringkali seseorang mengatasnamakan Mad mengirim SMS ke gadis desa itu. Seolah menanyakan kabarnya atau apapun. Ternyata setelah diselidiki orang itu bukan Mad, mereka adalah teman Mad. Entah Mad sengaja meminjam HP temannya atau Mad memang sengaja mempermainkan gadis itu.  Mad selama ini hanya menunjukkan penolakan, baik langsung maupun tidak langsung. Walaupun cinta gadis itu pasang surut namun, ia mengaku mempertahankan perasaannya pada Mad selama 7 tahun.

Namun, karena akhirnya ia bosan mendapatkan penolakan berkali-kali gadis itupun memutuskan untuk tak lagi menyimpan dan memaksakan perasaannya. 7 tahun adalah waktu yang tidak sebentar bagi seorang anak kecil yang tumbuh menjadi remaja awal hingga beranjak menjadi dewasa awal memendam perasaan pada seorang bocah laki-laki yang kini menjadi pemuda gagah.

Orientasi gadis itu berubah 180 derajat tatkala ia mulai duduk di bangku kuliah. Ia tak lagi menggebu mengejar apa yang orang bilang cinta pertama. Baginya cinta hanyalah untuk orang-orang yang mengasihinya dan hanya untuk pasangan halalnya kelak. Saat ini untuk mencintai ia harus berfikir 1000x. Di matanya ayahnya adalah cinta pertamanya, cinta yang ia sendiri kurang yakin apakah ada di dunia ini cinta yang melebihi cinta seorang ayah kepada putrinya. 

“Untukmu, yang pernah kusinggahi namun, tak pernah sebentarpun turut menyinggahi.

Beberapa tahun lalu aku melihatmu, dan aku jatuh cinta seketika itu. Aku terus bertanya dan berusaha dengan penuh harap bagaimana menakhlukan hatimu yang masih saja terlalu keras untuk ku takhlukkan. Melebihi kerasnya batu. Apapun yang kulakukan di matamu seolah akulah yang paling salah dalam hal ini. Tapi, membuatku berhenti mengagumi tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlalu dalam aku menancapkan tonggak cinta itu hingga sakit yang aku tau sengaja kau sematkan untuk membuatku menyerah tidak pernah terasa. Tidak.. Tidak semudah itu aku menyerahkan harapku pada takdir yang nyatanya mungkin tak akan menyatukan apa yang seharusnya memang tak bersatu.

Kau mungkin tak akan perduli seberapa dalamnya perasaanku padamu. Hari-hari yang tak menyenangkan kulewati dengan bayangmu yang terus saja menghantuiku. Membuatku ragu tatkala ingin kubuka hatiku untuk yang lain.

Bagiku itu adalah masa-masa yang suram dimana hanya kamu yang ku anggap segalanya, sedang aku tak mampu melihat orang-orang di sekitarku. Maaf... Maafkan aku yang lancang yang mengganggu ketentramanmu dan dunia.

Tapi tenang saja, perlahan tapi pasti. Sekeras-kerasnya aku mencintaimu akhirnya aku lelah mengejarmu, sedang kau terus saja berlari. Logika ini mulai protes. Ia tak ingin hanya sebatas menjadi teori. Yang sok bijak. Akhirnya akupun berhenti dan benar-benar memutuskan untuk menghentikan perasaan tak berfaedah ini. Perasaan yang tak bisa kujanjikan untuk tetap ada sampai kapanpun. Perasaan yang aku sendiri tak bisa menjamin kebahagiaanmu. Dan ijinkan aku keluar dari zona persinggahan ini. Zona mematikan bagiku. Ijinkan aku bahagia dengan cara yang kupilih. Lupakan aku yang pernah setengah mati mencintai. Lupakan aku yang pernah sekeras-kerasnya berjuang dan bertahan mencintai. Lupakan dan maafkan aku....

Dariku, yang pernah singgah selama 7 tahun...”

Begitulah isi surat botol yang ia tenggelamnya di sungai dekat kosnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar