animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 14 Mei 2017

Gugur di Tengah Hujan

 Oleh: Ibed

Gelap setengah pekat malam berkolaborasi dengan rintik hujan yang kembali jatuh ke bumi tempat seorang hamba penuh dosa berpijak dengan harapan baru. Dengan menenteng tas ranselnya di punggung, seorang wanita berusia kepala 2 berjalan gontai sambil menengadahkan kedua tangannya dan mendongak ke atas arah hujan datang. Setengah memaksakan diri ia mencoba tersenyum setelah beberapa saaat sebelumnya sempat menstalking akun facebook seorang ikhwan kenalannya dari instagram tepatnya sebuah akun 'taaruf'
"Seperti yang diketahui beberapa teman dekatnya, dia adalah perempuan yang begitu mudah menautkan hati pada laki-laki yang secara kasat mata seperti seorang yang diimpikannya. Beberapa kali juga perempuan itu sempat menautkan hati pada beberapa adam namun, belum sekalipun ada yang bermuara indah. Pernah menemani seseorang berjuang namun, ketika sang lelaki telah berhasil dengan citanya lelaki itu terpaut pada wanita lain dalam dunia baru lelakinya itu kalau tak begitu yaaa adamnya menghilang." 
Sebagai seorang wanita perasaan kadang mengalahkan logika. Sehingga wajar saja bila wanita lebih mudah belajar mencintai meskipun awalnya terpaksa. Sedangkan lelaki, ketika ia tak memiliki rasa sejak awal maka seterusnya pun akan lebih sulit baginya untuk belajar mencintai wanita yang lebih dulu tertarik padanya. Jika sudah begini terkadang menjadi wanita yang memiliki beberapa keterbatasan nyaris agak sulit menemukan cinta sejatinya. Apalagi pada kodratnya wanita itu dipilih bukan memilih. Hanya wanita yang memiliki fisik yang menjanjikanlah yang memiliki dua hak itu sekaligus. Boleh memilih dan boleh dipilih. 

Kembali ke lelaki yang dikenal lewat media sosial... 
Iya, laki-laki itu berusia 22 tahun. Sepantaran dengan usia wanita itu. Dari penampilannya, pemuda itu nampaknya adalah ikhwan yang sholeh dari Ibukota. Berbeda budaya, adat istiadat, dan sama-sama seiman Islam. 

Sedangkan perempuan itu adalah anak kesayangan bapaknya, dimana bapaknya sangat menjunjung tinggi budaya jawa dan keyakinan akan ramalan primbon jawa. Hal inilah yang selalu menjadi problem ketika ada orang yang mau menikah. Harus dihitung neptu-neptunya. Karena diyakini bila jumlah neptunya 24 maka selamanya kehidupan pasangan akan dipenuhi dengan 'loro/sakit'. Sedangkan bila jumlah neptunya 25 maka akan mati, entah orangtuanya ataupun kerabat dekat pengantin. 

Mengenal lelaki seshalih pemuda ibukota itu membuatnya ingin melangkah serius. Ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang halal. Perempuan itu mencari tahu tanggal lahir pemuda Ibukota itu lewat akun-akun sosial media sang pemuda. Melalui aplikasi ramalan primbon ia masukkan namanya beserta tanggal lahir lelaki itu. Rupanya dengan  sedih setengah menahan tangis lagi-lagi ia harus mengurungkan impiannya untuk menjalin hubungan dalam koridor ikatan halal dengan lelaki yang hampir menyerupai lelaki dalam doanya. 

Seketika itu pula, masih dengan kekecewaan yang terpendam  ia menggelar sajadahnya. Ia kenakannya mukenah kesayangannya. Dan ia tunaikan 2 rokaat di tengah hujan deras di sepertiga malam yang tersisa itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia sesalkan mengapa mudah sekali ia menautkan hati pada seorang ikhwan shalih sedang takdir tak kunjung membawanya bertemu dengan impiannya. Gugurlah sudah harapannya pada pemuda ibukota itu. Bersama puluhan tetes air mata pengaduannya pada Rabbnya. Ia memohon kepada Rabbnya agar digantikan dengan yang lebih baik dari lelaki ibukota itu. Diletakkannya harapan itu pada Rabbnya. Ia pasrah, sepasrah-pasrahnya. Mengalah pada ketentuan Rabbnya, karena ia yakin ada kejutan lain yang Rabbnya persiapkan untuknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar