animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Sabtu, 27 Mei 2017

Sebuah Cerpen



LELAKI TANPA KUDA BESI
Oleh : Ibed

“Membaca buku adalah adalah caraku mengungkapkan kekagumanku -yang aku tak taukah apakah ini kagum atau justru yang orang sebut cinta- padamu”


Ini adalah salah satu kisah perjalanan hatiku. Kemanapun kaki melangkah ada kenangan yang melekat di hati. Yang salah satunya adalah jumpa denganmu, yang ku kira lelaki dari Padang.
Waktu itu –aku tak ingat kapan-, aku tak sengaja melihatmu dari kejauhan. Dari pintu dapur rumah orang baik yang menampungku di Jogja. Saat aku tengah menanggalkan mimpiku dan cita masa depanku di tanah rantau yang juga membesarkan namamu hingga menjadi tempatmu menimba ilmu dan memperoleh gelar-gelar kependidikan. Kulihatmu samar-samar, tak berani aku membiarkan atensiku fokus padamu. Karena saat itu aku adalah orang baru di Jogja yang juga baru patah hati dari pacar SMA ku. Dari jauh dan tak jelas kau nampak gagah, badanmu tegap, kulitmu putih, rambutmu rapi, dan baru-baru ini kulihat dari fotomu matamu tampak sipit.
Kamu sedang menunggu Bapak yang rumahnya kutinggali. Lalu anak kecil tampak menghampiri dan menyapamu. Sepertinya kalian sudah sangat akrab sekali. Kamu tak masuk tidak juga sekedar menanyakan kepadaku, “Mbak, Bapak ada di rumah?”. Kau diam saja di pojok depan rumah. Beberapa menit kemudian Bapak pamit kepadaku, keluar dari pintu dapur belakang dan menghampirimu, “sudah lama menunggu disini, Oz? Kok tidak masuk?”. Mungkin begitu percakapan mereka yang bisa ku tebak. Saat si istri yang punya rumah datang dari mengajar TK, aku memulai topik pembicaraan seputar lelaki yang sedari tadi pagi menunggu suaminya di pojok depan rumah.
“Mbak, tadi ada mas-mas yang nunggu di pojokan depan rumah situ..”
“Lhooohh!!! Siapa? Nggak masuk tadi?” Tanyanya penasaran.
“Ndak tau mbak, saya ndak kenal. Masnya rapi gitu...” Klarifikasiku.
“Siapa, Kak?” Tanyanya pada anak sulungnya yang masih TK. “Om Oz, kah?
“Iya, Mi. Om Oz nunggu Abi..” Jawab bocah kecil itu.
“Kok ndak kamu ajak masuk, Kak?”
“Nggak mau kok, Mi.” Sambil melanjutkan mainnya.
“.. itu tadi namanya Mas Oz, Mbak. Kuliah di UIN. Kalau gak salah ngambil Psikologi di UIN. Aktivis organisasi pelajar berkemajuan, Pimpinan Pusat. Dari luar Jawa. Dari Padang atau mana gitu. Mas Oz itu pinter juga mbak kuliahnya. Dia juga aktiv di Komunitas pembaca buku. Nanti kapan-kapan mbak Defi tak ajak main kesana. Tapi, dia itu ndak bisa naik motor. Kemana-mana naik bis, kalau ndak gitu ya cari tebengan. Itu tadi mau ke basecamp komunitas bareng Bapak.” Sambil melanjutkan aktivitas di dapur, wanita itu menjelaskan panjang lebar tanpa aku bertanya. Mungkin supaya menjadi motivasiku karena waktu itu aku sedang proses seleksi masuk PTN di Jogja, di Kampus mas Oz itu tepatnya.
Kalimat ‘tidak bisa naik motor’ kugarisbawahi untuk kemudian menjadi topik pertanyaanku. “Kenapa mbak kok ndak bisa naik motor?” Jelaslah aneh di mataku lelaki gagah macam dia tak bisa naik kuda besi. Setengah tak percaya.
“Kurang tau, mbak. Trauma karena pernah jatuh atau kenapa gitu.”
Dalam hati, “Mashaa Allah, adek bersedia kok boncengin abang..” wkwkwkwkwk.
҉   ҉  ҉
Beberapa bulan pasca itu aku mencari tau tentang dia. Lewat akun media sosial Bapak aku mencari satu per satu pertemanan Bapak siapa tau ada namanya. Benar saja. Tak perlu mencari satu per satu di kronologi dinding medsos Bapak banyak tertandai namanya. Dari situlah aku bisa menyimpulkan bahwa lelaki ini memang dekat betul dengan Bapak. Bahkan sepertinya Bapak sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Bapak yang berprofesi sebagai Dosen di salah satu Universitas Islam di Jogja rupanya bisa dibilang memiliki anak buah yang keren super duper keren dalam bidang keilmuan dan literasi tentunya.


Diam-diam aku sering membaca postingan tulisan-tulisan Mas Oz di facebook. Tulisannya tentang kritik sosial, pendidikan, bahkan surat untuk keponakannya yang baru saja ulang tahun sangat berbobot dan membuat orang sepertiku –yang jarang membaca, kurang tertarik dengan tulisan berat- harus membaca berulang untuk benar-benar paham maksud tulisannya. Isinya luar biasa menurut penilaianku. Mas Oz yang tergolong masih muda juga telah menyelesaikan dua bukunya yang telah diterbitkan. Buku tentang literasi tentunya. Tentang pengalamannya dan hasil refleksinya di komunitas pembaca buku yang ia geluti menjadi salah satu koleksi bukuku. Yang sebenarnya aku membelinya bukan sekedar ingin membaca tapi, aku sengaja mencari topik pembicaraan di chat Waku dengan Mas Oz. –Bisa dibilang sekedar mencari perhatian-
Aku tau bagi mereka yang berpegang pada gengsi dan idealisme caraku dibilang konyol, murahan, dan lain-lain. Aku tidak peduli. Sekarang aku tanya, “APAKAH SALAH INGIN MENGENAL DENGAN DEKAT ORANG HEBAT SEPERTINYA? APA SALAH JIKA AKU MENGAGUMINYA???”
҉   ҉  ҉
Awal tahun kemarin, setelah 2,5 tahunan lebih tak berkunjung ke Jogja –Karena tak diterima oleh Perguruan Tinggi di Jogja dan memutuskan menyerah pada takdir-  akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di Kota yang menanggalkan mimpi dan harapanku hingga kini itu. Aku diberi kesempatan beberapa hari untuk mengikuti program study banding organisasi mahasiswa di kampusku. Kusempatkan untuk mampir ke basecamp komunitas pembaca itu sekalian meet up dengan keluarga yang pernah kutinggali dulu.
Rasanya banyak yang berubah dari keluarga itu. Putra kedua mereka sudah besar, ngomongnya sudah teteh kalau orang jawa bilang. Padahal dulu waktu masih aku momong dia masih nangisan dan tidak bisa ditinggal sejengkal aja sama Umminya. Sekarang sudah mau masuk Taman Kanak-kanak. Tetapi, ada yang tidak pernah berubah. Kehangatan mereka dan keasrian Basecamp Komunitas Pembaca itu. Masih sama seperti saat pertama aku diajak pasangan suami istri itu kemari. Hanya saja sekarang ada lukisan-lukisan tembok dan plang tulisan nama komunitas itu di pintu masuknya. Tempat yang dulunya membuatku kikuk sekarang membuatku begitu nyaman dan tak ingin beranjak jika Tuhan membolehkan.
Ku gerayangi sepuasku meja-meja dan lemari buku. Ada beberapa piagam penghargaan milik kuratornya. Tampak namanya, Oz. Lelaki tanpa kuda besi itu........ Padahal salah satu alasanku berkunjung ke basecamp itu aku ingin sekali berjumpa dengan Mas Oz. Secara langsung, bukan sekedar di dunia maya. Tetapi, lagi-lagi Tuhan lebih tau yang terbaik untuk hambaNya. Ampuni hamba Rabbi...

Lelaki yang baru-baru ini aku tau bahwa dia bukan lelaki dari Padang melainkan dari Manado itu, kian membuatku terkagum. Obrolan kami di WA beberapa saat lalu dengan dia rupanya dia dulu menempuh pendidikan sarjana di prodi Bimbingan dan Konseling Islam, saat ini sedang menyelesaikan study S2 nya di bidang pendidikan Islam. Tahun ini pula ia akan melanjutkan study Doktornya dan sudah dinyatakan lolos di bidang Study Islam di Universitas Islam di Jogja. Keren kan?
Tanpa kuda besi -layaknya anak muda jaman kekinian- prestasinya amat gemilang. Masih muda, mencintai literasi, shalih, sangat sayang dengan keluarga. Mashaa Allah, alangkah idealnya. Ooppsss!!!

“Aku saat ini adalah wanita dewasa permulaan. Yang berani dan agak sedikit lancang menanggalkan berjuta harapan pada Tuhan. Takdir ini... Kadang aku juga agak sedikit lancang menawar dan memohon takdir baik untuk kebaikan diriku dan generasi masa depanku kelak. Bagiku, cinta yang dewasa bukan yang sekedar mencintai biasa. Aku sedang belajar. Belajar mencintai dengan cara yang benar. Belajar mencintai dengan mata jeli bukan, kebutaan semata.”
“Jika ia baik, semoga Tuhan menyatukan dengan cara yang baik. Di tempat pertama kita bertemu, di Jogja.”

---Mohon maaf untuk orang-orang yang biografinya sengaja kucuri---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar