LELAKI TANPA KUDA BESI
Oleh : Ibed
“Membaca buku adalah adalah caraku mengungkapkan kekagumanku -yang
aku tak taukah apakah ini kagum atau justru yang orang sebut cinta- padamu”
Ini adalah salah satu kisah perjalanan hatiku. Kemanapun kaki
melangkah ada kenangan yang melekat di hati. Yang salah satunya adalah jumpa
denganmu, yang ku kira lelaki dari Padang.
Waktu itu –aku tak ingat kapan-, aku tak sengaja melihatmu
dari kejauhan. Dari pintu dapur rumah orang baik yang menampungku di Jogja.
Saat aku tengah menanggalkan mimpiku dan cita masa depanku di tanah rantau yang
juga membesarkan namamu hingga menjadi tempatmu menimba ilmu dan memperoleh
gelar-gelar kependidikan. Kulihatmu samar-samar, tak berani aku membiarkan
atensiku fokus padamu. Karena saat itu aku adalah orang baru di Jogja yang juga
baru patah hati dari pacar SMA ku. Dari jauh dan tak jelas kau nampak gagah,
badanmu tegap, kulitmu putih, rambutmu rapi, dan baru-baru ini kulihat dari
fotomu matamu tampak sipit.
Kamu sedang menunggu Bapak yang rumahnya kutinggali. Lalu anak
kecil tampak menghampiri dan menyapamu. Sepertinya kalian sudah sangat akrab
sekali. Kamu tak masuk tidak juga sekedar menanyakan kepadaku, “Mbak, Bapak ada
di rumah?”. Kau diam saja di pojok depan rumah. Beberapa menit kemudian Bapak
pamit kepadaku, keluar dari pintu dapur belakang dan menghampirimu, “sudah lama
menunggu disini, Oz? Kok tidak masuk?”. Mungkin begitu percakapan mereka yang
bisa ku tebak. Saat si istri yang punya rumah datang dari mengajar TK, aku
memulai topik pembicaraan seputar lelaki yang sedari tadi pagi menunggu
suaminya di pojok depan rumah.
“Mbak, tadi ada mas-mas yang nunggu di pojokan depan rumah
situ..”
“Lhooohh!!! Siapa? Nggak masuk tadi?” Tanyanya penasaran.
“Ndak tau mbak, saya ndak kenal. Masnya rapi gitu...”
Klarifikasiku.
“Siapa, Kak?” Tanyanya pada anak sulungnya yang masih TK. “Om
Oz, kah?
“
“
“Iya, Mi. Om Oz nunggu Abi..” Jawab bocah kecil itu.
“Kok ndak kamu ajak masuk, Kak?”
“Nggak mau kok, Mi.” Sambil melanjutkan mainnya.
“.. itu tadi namanya Mas Oz, Mbak. Kuliah di UIN. Kalau gak
salah ngambil Psikologi di UIN. Aktivis organisasi pelajar berkemajuan,
Pimpinan Pusat. Dari luar Jawa. Dari Padang atau mana gitu. Mas Oz itu pinter
juga mbak kuliahnya. Dia juga aktiv di Komunitas pembaca buku. Nanti
kapan-kapan mbak Defi tak ajak main kesana. Tapi, dia itu ndak bisa naik motor.
Kemana-mana naik bis, kalau ndak gitu ya cari tebengan. Itu tadi mau ke basecamp
komunitas bareng Bapak.” Sambil melanjutkan aktivitas di dapur, wanita itu
menjelaskan panjang lebar tanpa aku bertanya. Mungkin supaya menjadi motivasiku
karena waktu itu aku sedang proses seleksi masuk PTN di Jogja, di Kampus mas Oz
itu tepatnya.
Kalimat ‘tidak bisa naik motor’ kugarisbawahi untuk kemudian
menjadi topik pertanyaanku. “Kenapa mbak kok ndak bisa naik motor?” Jelaslah
aneh di mataku lelaki gagah macam dia tak bisa naik kuda besi. Setengah tak percaya.
“Kurang tau, mbak. Trauma karena pernah jatuh atau kenapa
gitu.”
Dalam hati, “Mashaa Allah, adek bersedia kok boncengin
abang..” wkwkwkwkwk.
҉ ҉ ҉
Beberapa bulan pasca itu aku mencari tau tentang dia. Lewat
akun media sosial Bapak aku mencari satu per satu pertemanan Bapak siapa tau
ada namanya. Benar saja. Tak perlu mencari satu per satu di kronologi dinding
medsos Bapak banyak tertandai namanya. Dari situlah aku bisa menyimpulkan bahwa
lelaki ini memang dekat betul dengan Bapak. Bahkan sepertinya Bapak sudah
menganggapnya seperti adiknya sendiri. Bapak yang berprofesi sebagai Dosen di
salah satu Universitas Islam di Jogja rupanya bisa dibilang memiliki anak buah
yang keren super duper keren dalam bidang keilmuan dan literasi tentunya.
Diam-diam aku sering membaca
postingan tulisan-tulisan Mas Oz di facebook. Tulisannya tentang kritik sosial,
pendidikan, bahkan surat untuk keponakannya yang baru saja ulang tahun sangat
berbobot dan membuat orang sepertiku –yang jarang membaca, kurang tertarik
dengan tulisan berat- harus membaca berulang untuk benar-benar paham maksud
tulisannya. Isinya luar biasa menurut penilaianku. Mas Oz yang tergolong masih
muda juga telah menyelesaikan dua bukunya yang telah diterbitkan. Buku tentang
literasi tentunya. Tentang pengalamannya dan hasil refleksinya di komunitas
pembaca buku yang ia geluti menjadi salah satu koleksi bukuku. Yang sebenarnya
aku membelinya bukan sekedar ingin membaca tapi, aku sengaja mencari topik
pembicaraan di chat Waku dengan Mas Oz. –Bisa dibilang sekedar mencari
perhatian-
Aku tau bagi mereka yang berpegang pada gengsi dan idealisme
caraku dibilang konyol, murahan, dan lain-lain. Aku tidak peduli. Sekarang aku
tanya, “APAKAH SALAH INGIN MENGENAL DENGAN DEKAT ORANG HEBAT SEPERTINYA? APA
SALAH JIKA AKU MENGAGUMINYA???”
҉ ҉ ҉
Awal tahun kemarin, setelah 2,5 tahunan lebih tak berkunjung
ke Jogja –Karena tak diterima oleh Perguruan Tinggi di Jogja dan memutuskan
menyerah pada takdir- akhirnya aku
kembali menjejakkan kaki di Kota yang menanggalkan mimpi dan harapanku hingga
kini itu. Aku diberi kesempatan beberapa hari untuk mengikuti program study banding
organisasi mahasiswa di kampusku. Kusempatkan untuk mampir ke basecamp
komunitas pembaca itu sekalian meet up dengan keluarga yang pernah kutinggali
dulu.
Rasanya banyak yang berubah dari keluarga itu. Putra kedua
mereka sudah besar, ngomongnya sudah teteh kalau orang jawa bilang.
Padahal dulu waktu masih aku momong dia masih nangisan dan tidak bisa ditinggal
sejengkal aja sama Umminya. Sekarang sudah mau masuk Taman Kanak-kanak. Tetapi,
ada yang tidak pernah berubah. Kehangatan mereka dan keasrian Basecamp
Komunitas Pembaca itu. Masih sama seperti saat pertama aku diajak pasangan
suami istri itu kemari. Hanya saja sekarang ada lukisan-lukisan tembok dan plang
tulisan nama komunitas itu di pintu masuknya. Tempat yang dulunya membuatku
kikuk sekarang membuatku begitu nyaman dan tak ingin beranjak jika Tuhan membolehkan.
Ku gerayangi sepuasku meja-meja dan lemari buku. Ada beberapa
piagam penghargaan milik kuratornya. Tampak namanya, Oz. Lelaki tanpa kuda
besi itu........ Padahal salah satu alasanku berkunjung ke basecamp itu aku
ingin sekali berjumpa dengan Mas Oz. Secara langsung, bukan sekedar di dunia
maya. Tetapi, lagi-lagi Tuhan lebih tau yang terbaik untuk hambaNya. Ampuni
hamba Rabbi...
Lelaki yang baru-baru ini aku tau bahwa dia bukan lelaki dari
Padang melainkan dari Manado itu, kian membuatku terkagum. Obrolan kami di WA
beberapa saat lalu dengan dia rupanya dia dulu menempuh pendidikan sarjana di
prodi Bimbingan dan Konseling Islam, saat ini sedang menyelesaikan study S2 nya
di bidang pendidikan Islam. Tahun ini pula ia akan melanjutkan study Doktornya
dan sudah dinyatakan lolos di bidang Study Islam di Universitas Islam di Jogja.
Keren kan?
Tanpa kuda besi -layaknya anak muda jaman kekinian-
prestasinya amat gemilang. Masih muda, mencintai literasi, shalih, sangat
sayang dengan keluarga. Mashaa Allah, alangkah idealnya. Ooppsss!!!
“Aku saat ini adalah wanita dewasa permulaan. Yang berani dan
agak sedikit lancang menanggalkan berjuta harapan pada Tuhan. Takdir ini...
Kadang aku juga agak sedikit lancang menawar dan memohon takdir baik untuk
kebaikan diriku dan generasi masa depanku kelak. Bagiku, cinta yang dewasa
bukan yang sekedar mencintai biasa. Aku sedang belajar. Belajar mencintai
dengan cara yang benar. Belajar mencintai dengan mata jeli bukan, kebutaan
semata.”
“Jika ia baik, semoga Tuhan menyatukan dengan cara yang baik.
Di tempat pertama kita bertemu, di Jogja.”
---Mohon maaf untuk orang-orang yang biografinya sengaja
kucuri---


Tidak ada komentar:
Posting Komentar