Ditulis oleh: IBED
Rajab ini sepertinya menjadi bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan. 3-5 undangan pernikahan dari teman SD hingga SMK berdatangan seolah menyambut antusiasmku tuk turut merayakan kemenangan cinta. Ada yang sebelum memutuskan menikah didahului pacaran bertahun-tahun, beberapa bulan saja, ada juga yang tak ku tau kisahnya hingga tiba-tiba kedatangan undangan itu mengagetkanku. Ada yang datang ke rumah secara langsung ada pula yang meminta bantuan kurir untuk mengantarkan undangan untukku.
Namun, sayangnya aku melewatkan beberapa undangan itu. Aku masih disini, di kota rantau. Ibu yang mewakili datang kalau kebetulan rumahnya jauh, yaa kujanjikan nanti ketika ku pulang. Bukan maksudku tak menghargai undangan mereka. Bukan aku tak turut bahagia dengan pernikahan mereka. Hanya saja kadang pertanyaan keramat seputar 'kapan menyusul' itu semakin membuat dada sesak seketika.
Usiaku 5 bulanan lagi genap 22 tahun. Menurut yang kubaca dari beberapa buku, dari sebuah penelitian memang usia-usia yang pas untuk menikah adalah awal-awal usia 20an tahun. Namun, di mata masyarakat usia 20an itu masih tergolong muda dan rawan perceraian, begitu kata orang-orang tua.
Sedang aku?????
Di saat teman-teman seusiaku sudah matang memutuskan berumahtangga dan merencanakan masa depan mereka bersama kekasih halalnya. Aku masih memeluk kekasih hati itu dalam bait-bait doaku pada rabbku. Berharap Rabbku menguatkan aku dan menyabarkan aku di tengah penantian ini. Menjaga aku sampai ditibakan pada yang halal bagiku. Aku masih bergelut dengan aktivitasku. Aku masih dengan perasaan yang sama seperti kemarin. Mencoba menahan diri untuk tak menautkan hati ke sembarang hati. Karena aku tau hati yang mudah menaruh hati pada semabarang hati akan patah hati. Bukankah hati yang terjaga tidak akan pernah patah?
Dan tentang diaku???
Diaku masih menjadi rahasia antara aku dan Rabbku. Sekedar sketsa wajahnya, seperti apa karakternya, dia suka apa, dia sekarang sedang apa, darimana asalnya, dan beribu pertanyaan penasaran lainnya kadang menyerangku. Dan sama sekali lagi-lagi itu masih tanda tanya yang mungkin beberapa tahun ke depan baru akan terjawab. Itupun jika jodoh yang bernama kematian tak lebih dulu datang. Aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya berharap orang itu adalah yang pertama dan terakhirku. Memohon kepada Illahi agar menjagamu dalam ketaatan adalah pintaku pada Sang Penguasa Semesta.
Karena menemukanmu ibarat berbuka setelah seharian menahan diri. Kauku... Baik-baiklah di jalanNya semoga Rabbiku menyegerakan hari itu. Hari saat aku dan kamu menjadi -Kita-.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar