animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Sabtu, 21 Januari 2017

Membuat Sejarah di Kota Bersejarah



Seperti mimpi...
Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bahwa aku berada pada hari ini. Ku kira itu hanya sebuah khayal yang selamanya adalah khayal. Hari dimana aku berjalan bersamanya. Di sampingnya, di dekatnya. Dia yang selama ini kukagumi, yang sempat kudekati, yang berapa banyak siang malamku sempat ku habiskan untuk menunggunya hingga menangisinya yang tak memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Yang terkesan tidak pernah perduli atau sedikitpun memperhatikanku. Apalagi peka pada perasaanku. Yang akhirnya pernah tak kuhubungi sama sekali dalam beberapa waktu lamanya, tak kuingatkan untuk kuliah. Karena saat itu aku sudah lelah berlari mengejarnya yang sama sekali tak melihat bahwa ada gadis jelek memanggil namanya dalam doa-doanya.
Lelaki semester tua yang menjadi lelaki pertama yang kukagumi semenjak kuliah di sini. Lelaki yang bagi orang yang belum mengenalnya pasti akan dianggap sebagai lelaki misterius yang introvert. Lelaki berkacamata yang dunianya berisi anime dan imaginasi-imaginasi aneh. Lelaki yang cerdas namun, memiliki dunia yang asyik menurutku.
Entah karena kasihan atau sekedar berterima kasih hari itu dia mau ikut jalan bersamaku menyusuri jejak sejarah Kota Surabaya yang terekam di salah satu wisata sejarah yang terkenal di kota ini, yaitu Monumen tugu pahlawan. Dimana di sekitar monumen itu ada sebuah museum tempat benda-benda yang digunakan perang para pejuang kemerdekaan pada zaman dulu. Tempat itu memang sejak aku SMK dulu adalah tempat idolaku di Surabaya. Meskipun banyak tempat wisata di Surabaya tapi, aku lebih suka mengunjungi tempat-tempat bersejarahnya.
Aku sedikit kikuk, terus terang. Masih berkunang-kunang dan berkecamuk pikiranku. Dilematis lagi logika dan perasaan. “Ini nyata atau bukan sih???”, aku bertanya-bertanya pada diriku. Padahal sudah jelas bahwa orang itu berada di depan mataku. Ia yang berjalan-jalan dan bercengkrama dengan mbak-mbak tour guide dan aku hanya berjalan di sampingnya kadang di belakangnya, mengikuti dia. Dan dia yang rela menjadi tukang foto. Bahkan dia harus mengantarkanku sampai jalan pulang karena aku tidak tau arah putar balik. Dan dia yang harus berputar balik untuk pulang.
Sebenarnya aku bahagia bisa berbicara banyak dengannya secara langsung bukan hanya di media. Tapi, entah mengapa setelah  hal itu berlangsung ada sekelumit dilema yang kukira selama ini sudah hilang rupanya malah bergejolak kembali. Ialah “perasaan”. Menjauh dari dia rupanya tak bisa menghilangkan perasaan dan lebih-lebih harapan yang pernah bersemi kepadanya. Seketika kita memang bisa menjauh hanya agar tidak melihat batang hidungnya tapi, hati terlalu sulit untuk diajak kompromi. Rasa tetaplah rasa. Ku kira aku telah benar-benar ikhlas melepaskannya rupanya itu hanya sebuah mitos.
Aku takut... Kalau dekat dia, aku suka jatuh cinta. Karena terlalu sering jatuh akhirnya ada yang patah berkali-kali seiring seringnya merasakan virus merah muda itu. Kalau sudah begini pasti aku berharap lebih. Aku lupa kata-kata ini, “Jika kita berharap lebih, jangan mencoba menjalin keakraban.” Kata-kata mustajab yang bisa menjauhkan aku dari yang namanya jatuh cinta.
Mengapa harus kamu yang masuk dalam daftar merah jambuku?
“Padahal aku tau, kamu tidak mungkin memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Kalaupun sama kita tidak mungkin menjadi satu.
Padahal aku tau, seorang gadis jelek yang tidak membanggakan seperti ku tak pantas bersisian dengannya, yang lumayan ganteng lagi suka modus berselimut care sama semua cewek.
Padahal aku tau, kamu hanya ingin dan selamanya hanya akan menganggap aku sebagai teman atau sebatas adik tingkat, bukan?
Biarlah apa saja katamu, mau mengatakan aku dukun yang sotoy atau apapun aku tidak peduli.
Kamu yang sebenarnya peka tapi, pura-pura tidak tau apa-apa dan selalu mengalihkan perhatian. Aku tau kamu.”
Sedikit banyak aku tau tentang kamu dan sudah hafal laki-laki macam kamu. Aku hanya ingin mengatakan ini,
“Terima kasih telah bersedia ku ganggu waktunya. Terima kasih telah berbaik hati kepadaku. Terima kasih telah mau menjadi temanku. Terima kasih atas harapan yang pernah dibiarkan basi. Terima kasih pernah membuat aku merasakan jatuh cinta meskipun hanya aku yang merasakannya tapi, kamu tidak. Terima kasih untuk anime yang pernah kamu berikan dan melody petikan gitarmu-entah beneran kamu yang main atau bukan-. Terima kasih untuk tiket masuk ke museum. Terima kasih telah mengantarkan aku jalan-jalan sampai mengantar pulang. Terima kasih telah bersikap manis. Terima kasih mau menjadi temanku. Terima kasih pernah membiarkan aku berharap meski harapan itu tidak terealisasikan. Terima kasih pernah menyemangati aku ketika keluargaku ditimpa musibah. Terima kasih pernah membantu tim futsal IMM ku. Terima kasih pernah membaca puisiku. Terima kasih telah rela buru-buru pulang Cuma buat denger salamku buat kamu lewat radio. Terima kasih pernah membuat aku diciye-ciyein temen sekelas gara-gara mereka tau aku suka kamu. Terima kasih telah membuat sejarah dalam hidupku. Terima kasih untuk semua kebaikanmu....”
Dan.....
“Maafkan aku yang rupanya belum bisa menyisihkan harapan yang pernah ada di tengah persahabatan kita. Maafkan aku yang masih saja suka cemburu saat kamu menyebut nama cewek lain selain ibumu atau saat kau saling adu komentar dengan cewek lain di facebookmu. Maafkan aku untuk kebelumsanggupanku menghapuskan perasaan itu. Maafkan semua kesalahanku yang membuatmu muak padaku. Maafkan aku yang tidak bisa membuatmu membalas perasaanku. Maaf yaa, aku terlalu buruk untuk kamu...”

Surabaya, 20 Januari 2017
IBED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar