Seperti mimpi...
Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah membayangkan
bahwa aku berada pada hari ini. Ku kira itu hanya sebuah khayal yang selamanya
adalah khayal. Hari dimana aku berjalan bersamanya. Di sampingnya, di dekatnya.
Dia yang selama ini kukagumi, yang sempat kudekati, yang berapa banyak siang
malamku sempat ku habiskan untuk menunggunya hingga menangisinya yang tak
memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Yang terkesan tidak pernah
perduli atau sedikitpun memperhatikanku. Apalagi peka pada perasaanku. Yang
akhirnya pernah tak kuhubungi sama sekali dalam beberapa waktu lamanya, tak
kuingatkan untuk kuliah. Karena saat itu aku sudah lelah berlari mengejarnya
yang sama sekali tak melihat bahwa ada gadis jelek memanggil namanya dalam
doa-doanya.
Lelaki semester tua yang menjadi lelaki pertama
yang kukagumi semenjak kuliah di sini. Lelaki yang bagi orang yang belum
mengenalnya pasti akan dianggap sebagai lelaki misterius yang introvert. Lelaki
berkacamata yang dunianya berisi anime dan imaginasi-imaginasi aneh. Lelaki
yang cerdas namun, memiliki dunia yang asyik menurutku.
Entah karena kasihan atau sekedar berterima kasih
hari itu dia mau ikut jalan bersamaku menyusuri jejak sejarah Kota Surabaya
yang terekam di salah satu wisata sejarah yang terkenal di kota ini, yaitu Monumen
tugu pahlawan. Dimana di sekitar monumen itu ada sebuah museum tempat
benda-benda yang digunakan perang para pejuang kemerdekaan pada zaman dulu.
Tempat itu memang sejak aku SMK dulu adalah tempat idolaku di Surabaya.
Meskipun banyak tempat wisata di Surabaya tapi, aku lebih suka mengunjungi
tempat-tempat bersejarahnya.
Aku sedikit kikuk, terus terang. Masih
berkunang-kunang dan berkecamuk pikiranku. Dilematis lagi logika dan perasaan. “Ini
nyata atau bukan sih???”, aku bertanya-bertanya pada diriku. Padahal sudah
jelas bahwa orang itu berada di depan mataku. Ia yang berjalan-jalan dan
bercengkrama dengan mbak-mbak tour guide dan aku hanya berjalan di sampingnya
kadang di belakangnya, mengikuti dia. Dan dia yang rela menjadi tukang foto. Bahkan
dia harus mengantarkanku sampai jalan pulang karena aku tidak tau arah putar
balik. Dan dia yang harus berputar balik untuk pulang.
Sebenarnya aku bahagia bisa berbicara banyak
dengannya secara langsung bukan hanya di media. Tapi, entah mengapa setelah hal itu berlangsung ada sekelumit dilema yang
kukira selama ini sudah hilang rupanya malah bergejolak kembali. Ialah “perasaan”.
Menjauh dari dia rupanya tak bisa menghilangkan perasaan dan lebih-lebih
harapan yang pernah bersemi kepadanya. Seketika kita memang bisa menjauh hanya
agar tidak melihat batang hidungnya tapi, hati terlalu sulit untuk diajak
kompromi. Rasa tetaplah rasa. Ku kira aku telah benar-benar ikhlas
melepaskannya rupanya itu hanya sebuah mitos.
Aku takut... Kalau dekat dia, aku suka jatuh cinta.
Karena terlalu sering jatuh akhirnya ada yang patah berkali-kali seiring
seringnya merasakan virus merah muda itu. Kalau sudah begini pasti aku berharap
lebih. Aku lupa kata-kata ini, “Jika kita berharap lebih, jangan mencoba
menjalin keakraban.” Kata-kata mustajab yang bisa menjauhkan aku dari yang
namanya jatuh cinta.
Mengapa harus kamu yang masuk dalam daftar merah
jambuku?
“Padahal
aku tau, kamu tidak mungkin memiliki perasaan yang sama seperti yang aku
rasakan. Kalaupun sama kita tidak mungkin menjadi satu.
Padahal
aku tau, seorang gadis jelek yang tidak membanggakan seperti ku tak pantas
bersisian dengannya, yang lumayan ganteng lagi suka modus berselimut care
sama semua cewek.
Padahal
aku tau, kamu hanya ingin dan selamanya hanya akan menganggap aku sebagai teman
atau sebatas adik tingkat, bukan?
Biarlah
apa saja katamu, mau mengatakan aku dukun yang sotoy atau apapun aku tidak
peduli.
Kamu yang
sebenarnya peka tapi, pura-pura tidak tau apa-apa dan selalu mengalihkan
perhatian. Aku tau kamu.”
Sedikit banyak aku tau tentang kamu dan sudah
hafal laki-laki macam kamu. Aku hanya ingin mengatakan ini,
“Terima kasih telah bersedia ku ganggu waktunya.
Terima kasih telah berbaik hati kepadaku. Terima kasih telah mau menjadi
temanku. Terima kasih atas harapan yang pernah dibiarkan basi. Terima kasih
pernah membuat aku merasakan jatuh cinta meskipun hanya aku yang merasakannya
tapi, kamu tidak. Terima kasih untuk anime yang pernah kamu berikan dan melody
petikan gitarmu-entah beneran kamu yang main atau bukan-. Terima kasih untuk
tiket masuk ke museum. Terima kasih telah mengantarkan aku jalan-jalan sampai
mengantar pulang. Terima kasih telah bersikap manis. Terima kasih mau menjadi
temanku. Terima kasih pernah membiarkan aku berharap meski harapan itu tidak
terealisasikan. Terima kasih pernah menyemangati aku ketika keluargaku ditimpa
musibah. Terima kasih pernah membantu tim futsal IMM ku. Terima kasih pernah
membaca puisiku. Terima kasih telah rela buru-buru pulang Cuma buat denger
salamku buat kamu lewat radio. Terima kasih pernah membuat aku diciye-ciyein
temen sekelas gara-gara mereka tau aku suka kamu. Terima kasih telah membuat
sejarah dalam hidupku. Terima kasih untuk semua kebaikanmu....”
Dan.....
“Maafkan aku yang rupanya belum bisa menyisihkan
harapan yang pernah ada di tengah persahabatan kita. Maafkan aku yang masih
saja suka cemburu saat kamu menyebut nama cewek lain selain ibumu atau saat kau
saling adu komentar dengan cewek lain di facebookmu. Maafkan aku untuk
kebelumsanggupanku menghapuskan perasaan itu. Maafkan semua kesalahanku yang
membuatmu muak padaku. Maafkan aku yang tidak bisa membuatmu membalas
perasaanku. Maaf yaa, aku terlalu buruk untuk kamu...”
Surabaya, 20 Januari 2017
IBED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar