Hari
itu, tepat 2 bulan sudah seseorang menyudahi obrolan di akun BBM. Seorang
sahabat baik pengingat surga. Seorang sahabat tempatku kadang beradu kesal.
Bukan tanpa sebab ia menyudahi percakapan lumayan panjang itu yang dimulai
sejak beberapa hari sebelum tanggal 23 itu. Ia berpamit tanpa berjabat
langsung. Ia pergi untuk berjuang memeluk takdir yang menjadi cita-citanya
sejak lama.
Jangan
ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Saat aku harus melepasnya pergi tanpa
bisa mengantarkannya langsung maupun sekedar bertemu sebentar sebagai upacara
melepaskannya. Mohon maaf, saat itu
diam-diam aku menitikkan air mata. Ada yang kurasa berat untuk kurelakan.
Seperti ada lubang dalam yang kosong saat ia berpamit. Jangan tanya betapa diri
amat menyesal karena tak bisa penuhi ajakan malam minggunya untuk bertemu
sekaligus berpamit. Sebelum hari ini dimana aku benar-benar tak bisa berjumpa
dengannya atau sekedar mendapat kabar rutin darinya.
Sejak
tepat di-23 kedua perginya, berkali aku mengecek barangkali ada sebuah pesan
dari yang kutunggu. Dan rupanya, salam itu datang tepatnya di-23 kedua lebih 1.
Dia.... rupanya aku masih dianggap penting hingga pertama kalinya dalam
kepulangannya dia menyempatkan diri untuk mengirimiku kabar. Yaa meski aku
sempat berkecil hati saat dia bilang sudah pulang sejak malam sebelumnya.
Segera kutepis, mungkin saja dia capek dan masih menikmati waktu bersama
keluarganya. Mereka lebih penting bukan? Menunggu dan selalu mendoakan
keberhasilannya. Akhirnya rinduku terjawab oleh salamnya melalui saksi bisu
obrolan kami. Banyak harapan tersirat bahwa dia akan bercerita seperti dulu
tentang hari-harinya disana, tentang bisakah ia menjaga kemesraannya dengan
Tuhan seperti pesanku dulu, ataukah ada cerita lain selama dua bulan dalam penjara
jalan masa depan.
Singkatnya
salam dan pertemuan angin pembasuh rindu itu. Di-23 kedua lebih 2 ia bilang
akan kembali pergi.
Ada
banyak cerita yang ingin kudengar darinya langsung namun, rupanya mungkin
waktunya teramat sia-sia untuk menjelaskan semuanya padaku. Ia ingin aku
mencari tau sendiri. Soal pesanku untuk supaya dia menjaga hubungan dengan Sang
Maha Cintapun dia enggan mengobrak-abrik sejarah singkatnya selama di rantau.
Di-23
kedua lebih 2 ini ia pergi tanpa pamit bahkan ia tak sempat membaca sampah
chatku. Ribuan tanya berkecamuk. Hanya bisa memihak pada pijakan prinsip, bahwa
mungkin ini cara Tuhan supaya kelak aku tak terkejut bila ternyata Tuhan
benar-benar harus menghadiahkan dia untuk yang sepantasnya dia dampingi.
Kini
dan lagi-lagi aku sedang belajar menunggu sembari menutupi rindu agar hanya aku
dan Tuhanku yang tau. Padahal mungkin ia takkan peduli, buktinya ia tak sempat
ucapkan sekedar kata pamit dan salam penutup.
Bodohnya
aku, masih sama harapku, agar Tuhan menjaganya. Meski kemungkinan tak untukku
kelak.....
-DeAnhl-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar