animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Senin, 26 Desember 2016

See U, Bagaimana Ceritamu?




Hari itu, tepat 2 bulan sudah seseorang menyudahi obrolan di akun BBM. Seorang sahabat baik pengingat surga. Seorang sahabat tempatku kadang beradu kesal. Bukan tanpa sebab ia menyudahi percakapan lumayan panjang itu yang dimulai sejak beberapa hari sebelum tanggal 23 itu. Ia berpamit tanpa berjabat langsung. Ia pergi untuk berjuang memeluk takdir yang menjadi cita-citanya sejak lama.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Saat aku harus melepasnya pergi tanpa bisa mengantarkannya langsung maupun sekedar bertemu sebentar sebagai upacara melepaskannya. Mohon maaf,  saat itu diam-diam aku menitikkan air mata. Ada yang kurasa berat untuk kurelakan. Seperti ada lubang dalam yang kosong saat ia berpamit. Jangan tanya betapa diri amat menyesal karena tak bisa penuhi ajakan malam minggunya untuk bertemu sekaligus berpamit. Sebelum hari ini dimana aku benar-benar tak bisa berjumpa dengannya atau sekedar mendapat kabar rutin darinya.
Hari itu, adalah dua bulanku serasa ada satu bagian penggenap yang hilang, kosong, kadang sedikit hampa. Dimana itu adalah dua bulan entah dari enam atau delapan bulanku menunggu apa yang kuyakini akan kembali. Meski kadang aku tak yakin betulkah hanya aku yang menunggu atau ada hati lain yang lebih dulu dan lebih istiqomah menunggunya. Entahlah sementara ini aku tak pedulikan hal itu. Nanti diakhir alinea postingan ini kau juga tau pembaca!!!
Sejak tepat di-23 kedua perginya, berkali aku mengecek barangkali ada sebuah pesan dari yang kutunggu. Dan rupanya, salam itu datang tepatnya di-23 kedua lebih 1. Dia.... rupanya aku masih dianggap penting hingga pertama kalinya dalam kepulangannya dia menyempatkan diri untuk mengirimiku kabar. Yaa meski aku sempat berkecil hati saat dia bilang sudah pulang sejak malam sebelumnya. Segera kutepis, mungkin saja dia capek dan masih menikmati waktu bersama keluarganya. Mereka lebih penting bukan? Menunggu dan selalu mendoakan keberhasilannya. Akhirnya rinduku terjawab oleh salamnya melalui saksi bisu obrolan kami. Banyak harapan tersirat bahwa dia akan bercerita seperti dulu tentang hari-harinya disana, tentang bisakah ia menjaga kemesraannya dengan Tuhan seperti pesanku dulu, ataukah ada cerita lain selama dua bulan dalam penjara jalan masa depan.
Singkatnya salam dan pertemuan angin pembasuh rindu itu. Di-23 kedua lebih 2 ia bilang akan kembali pergi.
Ada banyak cerita yang ingin kudengar darinya langsung namun, rupanya mungkin waktunya teramat sia-sia untuk menjelaskan semuanya padaku. Ia ingin aku mencari tau sendiri. Soal pesanku untuk supaya dia menjaga hubungan dengan Sang Maha Cintapun dia enggan mengobrak-abrik sejarah singkatnya selama di rantau.
Di-23 kedua lebih 2 ini ia pergi tanpa pamit bahkan ia tak sempat membaca sampah chatku. Ribuan tanya berkecamuk. Hanya bisa memihak pada pijakan prinsip, bahwa mungkin ini cara Tuhan supaya kelak aku tak terkejut bila ternyata Tuhan benar-benar harus menghadiahkan dia untuk yang sepantasnya dia dampingi.
Kini dan lagi-lagi aku sedang belajar menunggu sembari menutupi rindu agar hanya aku dan Tuhanku yang tau. Padahal mungkin ia takkan peduli, buktinya ia tak sempat ucapkan sekedar kata pamit dan salam penutup.
Bodohnya aku, masih sama harapku, agar Tuhan menjaganya. Meski kemungkinan tak untukku kelak.....
-DeAnhl-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar