"Assalamu'alaikum Wr. Wb.", begitulah pesan yang biasa kukirim via BBM kepada dia. Sahabatku yang luar biasa di mataku. Salam mengawali rentetan chat mulai dari bosa basi hingga diskusi agama.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah.." Jawaban salam yang telah dua bulan terakhir ini sangat kurindui.
Sahabat, iya dia adalah sahabatku. Sahabat yang kukenal lewat seorang yang kumasukkan dalam daftar hitam masa laluku. Ahh tentulah kalian sudah pasti bisa menyimpulkan. Dia (sahabatku) bernama AIWA, kami biasanya memiliki sepasang nama panggilan. Hanya sepasang nama panggilan bukan sepasang kekasih layaknya di FTV.
Aku lupa ini tahun ke-berapa perkenalan kami. Ku lihat ia yang setiap masa selalu tampak berbeda. Mulai yang awalnya memang agak cuek, sampai benar-benar sadis kata-katanya, hingga menjadi selembut akhir-akhir ini sebelum ia berpamit meninggalkan kotanya, kota tempatku merantau menimba ilmu.
Beberapa bulan lalu di akhir semester empatku aku sempat merasa bahagia karena ada seorang sahabat mayaku yang hanya berjumpa beberapa kali dalam dunia nyataku menyatakan diri ingin mendaftarkan diri menjadi mahasiswa sealmamater denganku. Kagum, kesan pertama saat aku membaca pesannya tentang alasannya memilih jurusan Tarbiyah di kampusku. Heran saja, dia yang sejak SMK menggeluti teknik listrik tiba-tiba tersetrum untuk mendalami ilmu Tarbiyah. Mashaa Allah, rupanya langkah hijrahnya sepertinya sudah matang. "Yang seperti dia sepertinya pantas dijadikan salah satu daftar kriteria calon imam", celetukku sebagai orang merasa dekat dengan dia.
Semenjak kuliah aku memang memiliki banyak teman, laki-laki maupun perempuan. Hanya saja dari sekian banyak temanku hanya beberapa saja yang sekali-kali mengajak diskusi seputar ilmu agama. Aku akui aku memang tak seberapa pandai ilmu agama, bahkan jalan hijrahku baru saja kutemukan beberapa tahun terakhir ini semenjak aku pulang dari Jogja. Aku juga bukan alumni pondok pesantren. Aku hanya alumni pondok di tengah sawah. Tapi, dia yang sejak kapan aku tak bisa memastikan. Tiba-tiba ada yang berbeda dari AIWA. Dimana perbedaan itu yang membuatku merasa bersyukur memiliki seorang sahabat sepertinya. Yang dimana saat teman-teman SMKnya lebih memilih untuk berlomba-lomba menggandeng wanita cantik di luar sana, ia memilih untuk menisbatkan hatinya pada Allah dzat yang Maha Cinta. Setiap akhir pekan ia sering mengirim pesan BC ke BBMku isinya adalah undangan pengajian ustad-ustad terkenal yang kurasa pengetahuan agamanya tidak diragukan lagi, seperti Ust Khalid Basalamah, Ust Syafiq Riza Basalamah, Ust Felix, dan lain-lain. Hanya saja hingga detik ini aku belum memenuhi ajakannya karena setiap minggu aku harus belajar bersama anak-anak jalanan.
Postingan-postingan di facebook dan BBMnya pun tak jauh berbeda dari pengamalan dari kajian-kajian yang diikutinya. Bahkan beberapa kali dia sempat membuka obrolan mengajak diskusi tentang sudut pandangku tentang suatu akidah. Jangan tanya bagaimana bangganya sekaligus bahagianya memiliki sahabat yang selalu mengingatkan kita kepada Sang Pencipta, yang mengajak diskusi seputar ilmu agama.
Hari-hariku semenjak ia kuliah di kampus pun serasa berbeda, sepanjang senja hingga petang berubah menjadi malam ada sedikit harapan terbesit agar Allah menjumpakan kami sekedar dia mampir di toko atau di depan kampus sebentar saja. Kata orang antara adzan dan iqamah merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa dan konon pada waktu itu Allah akan mengabulkan doa hambaNya. Di waktu itu pula aku berdoa supaya sesekali Allah mengirimkan dia di hadapanku. Rupanya benar saja Allah mengabulkan. Di suatu ketika saat aku sedang mengantarkan es teh di sebuah meja tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari belakang dengan ragu-ragu, "Bet... Betty yaa...?" Aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku, "Ehhh kamu, tumben ..." Jawabku dengan sedikit deg-degan.
Sayang sekali pertemuan itu hanya beberapa kali saja. Aku masih ingat betul, baju koko lengan pendek berwarna hijau, celana kain hitamnya yang agak cingkrang dan rambut agak botaknya, lengkap tas ransel berwarna hitam biru. AIWA... Sahabatku, rupanya Allah mengujiku melalui engkau. Maafkan aku, kawan....
Di sebuah malam, tiba-tiba satu chat masuk ke BBMku seperti biasa didahului salam. Di inti pembicaraan dia ijin untuk sharing, bahwa rupanya ia mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan pupuk kimia yang besar di Jawa Timur. Sudah mengikuti beberapa tahap seleksi dan beberapa hari lagi ia akan mengikuti tes terakhir. Dan kuliahnya.... Ia mengaku berat melepaskan kuliahnya namun, bagaimana lagi ... Deggg, mendengar itu aku sontak menitikkan air mataku antara bangga sekaligus sedih akan kehilangan salah satu harta berhargaku bernama sahabat.
2 mingguan setelah tes terakhirnya akupun harap-harap cemas apakah dia diterima atau tidak. Ingin rasanya aku menanyakan perihal itu namun, aku memilih menunggu untuk tau apakah aku dianggap agak penting. Ternyata tanpa aku bertanya lebih dulu dia mengabariku dulu, bahwa dia ketrima. Menetes lagi embun di balik kelopak mataku yang ingin sekali kuhentikan tapi, keluar begitu saja tak terkendali. Aku sedikit takut bila ada seorang yang melihat dan menemui aku sedang menangis karena saat itu posisi aku sedang di toko menunggu ada yang memesan es teh.
23 Oktober ia kan beranjak untuk pertama kalinya setelah lulus ia menjadi anak rantau yang akan lama untuk pulang. Di sebuah malam aku mendapat pesan dari teman sekelas AIWA mengirim foto AIWA dan mengatakan bahwa malam itu AIWA berpamitan bahwa akan meninggalkan kampus beserta teman-temannya karena akan bekerja ke luar kota. AIWA pun sempat mengajak aku untuk bertemu katanya, ingin pamit. Namun, pada hari yang ditawarkan AIWA aku ada kegiatan di luar kota. Hanya berpamit melalui chat BBM saja.
Sering kujatuhkan air mataku semenjak pamitnya, antara rindu dan kehilangan. Karena ternyata AIWA harus dikarantina selama 6 bulan. 2 bulan pertama dia tidak boleh pulang dan tidak boleh membawa alat komunikasi sama sekali. Benar-benar diisolasi.
Dear Sahabatku, AIWA...
Kau tau kawan, seperti ada yang hilang salah satu bagian dari jiwaku. Ialah bahagia, mungkin. Sulit sekali kujelaskan mengapa kehilangan ini begitu menyakitkan hatiku.
Aku tak tau seberapa penting diriku dalam hidupmu. Tapi kau, telah banyak berjasa menjadi sandaran saat harapanku nyaris diputusasakan. Saat dia menghancurkan aku, kau tetap dengan tenang berada di dekatku, seolah melarang hati untuk kalut terlalu dalam.
AIWA, alasanku menunggu di toko berpamit pergi. Seperti inikah tanpa kabar? Aku memang sudah terbiasa jauh tapi, tanpa alat komunikasi itu dunia kita serasa benar-benar terpisah.
Entah apakah tangan itu masih kan tetap sendiri saat kembali ataukah telah menggenggam tangan lain untuk diperkenalkan di hadapanku sebagai wanita yang kau pilih. Karena aku, kita tak mungkin satu. Sebuah mitos mengatakan kita tak akan menjadi pasangan. Bukan ku percaya pada mitos kolot itu, hanya saja disitulah letak restu ibu bapakku."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar