“Lebih tepatnya bukan
kerana kehadirannya dalam mimpiku yang membuatku begini. Akan tetapi, hadirnya
menjadi imam dalam mimpiku itulah yang membuatku bersemangat untuk semakin
kencang berlari mengejar ridhoNya dan mentaatkan diri pada Illahi.”
Mimpi atau kembang tidur. Dalam ilmu
psikologi katanya mimpi adalah sebuah pikiran yang terrepres dalam alam bawah
sadar manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa mimpi merupakan sebuah tanda atau
petunjuk dari Sang Maha Sutradara. Apakah demikian dengan mimpiku dua malam
lalu???
Tentang sebuah simpati pada ikhwan
shalih yang selalu menjaga dirinya. Dia sederhana, perangainya tegas namun
lembut, sangat qonaah kesehariannya, dan yang paling penting serta utama adalah
mumpuni agamanya.
Selama ini dalam hidupku Ayah masih
memegang rekor menjadi lelaki terbaik dan tersayang dalam hidupku. Seorang
lelaki yang selalu kupikirkan perasaannya setiap kali aku memutuskan sesuatu
ataupun berbuat sesuatu. Seseorang yang benar-benar telah mengorbankan ribuan
tetes keringat nya tanpa upah, demi cita-cita besar ku sehingga aku selalu
memikirkan bagaimana perasaannya apabila kelak aku meninggalkannnya demi
baktiku pada kekasih halalku. Seseorang yang aku tidak tau bagaimana hari ini
bilamana Allah tak mengkaruniai aku lelaki perkasa itu dalam hidupku. Seseorang
yang selalu menerimaku apa adanya aku, pilihanku, mengingatkanku saat aku
berbelok dari tujuan yang telah kurancang, mendukung cita-citaku, dan he is my
hero. Aku mencintainya, sungguh mencintainya.
Sudah hampir 21 tahun usiaku, selama
itu pula belum pernah sekalipun Ayah menanyakan perasaan putrinya dan apa yang
tengah bergejolak dalam hati putri kecilnya yang kini tengah menginjak dewasa. Sederhana
saja, misalnya:
“Nak, apa kau memiliki pacar?”
Itu terlalu frontal. Seperti ini
mungkin, “Nak, apakah kau tak pernah tertarik kepada ikhwan di luaran sana? Teman-temanmu
mungkin? Kakak tingkatmu atau relasi-relasimu disana?”
Sedikitpun ia tak pernah menanyakan
itu. Hanya ini yang selalu Ayah katakan.
“Pokoknya sampai kamu pacaran atau
sibuk memikirkan laki-laki maka Ayah tidak akan membiayai kuliah lagi!!!!!”
Jadi, “Pilihannya hanya dua, kuliah
atau nikah?”
Sebuah kalimat yang kian membekas
dalam alam bawah sadarku. Sehingga setiap kali membicarakan sebuah pernikahan
aku hanya bisa merasakan bahagia sembari berkhayal. Namun, logika seringkali
membuyarkan hal indah yang diimpikan semua keturunan adam itu. Hal itu adalah
ikatan suci yang disebut pernikahan.
Seringkali terjadi pergolakan batin
yang luar biasa setiap kali membahas bab yang tak nyaris selalu saja hits.
Adalah pernikahan. Dalam nurani sebenarnya akupun sama seperti kamu, kalian,
dan mereka. Aku juga mendambakan sebuah pernikahan. Bukan pernikahan dini tapi
menikah muda. Bukankah dalam islam sendiri kita dianjurkan untuk menyegerakan
menikah? Yaa namun, harus disiapkan psikologisnya, spiritualitasnya,
finansialnya, dan siap akan perbedaan. Insya Allah pribadi mungkin sudah siap,
bukan tanpa alasan akan tetapi supaya ada yang menjaga dan membimbing. Kan
katanya ada surga sebelum surga yang itu hanya kita temukan dalam mahligai
pernikahan.
Namun, saat ini aku hidup pada zaman
dimana menurut keluargaku menikah muda sebelum lulus kuliah hanya
menyianyiakan gelar sarjana, hanya menyianyiakan biaya kuliah yang telah
dikeluarkan, dan ujung-ujungnya akan muncul pertanyaan begini, “Buat apa kuliah
lama-lama kalau ujung-ujungnya nikah???” Belum lagi jika dibandingkan dengan
kakak-kakakku yang lain akulah yang paling beruntung karena bisa mengenyam ilmu
di perguruan tinggi. Besar harapan mereka agar aku bisa mendapatkan pekerjaan
yang layak sehingga kelak bisa menjadi jembatan adik dan keponakan-keponakanku
untuk mereka meraih cita-cita. Tanggungjawab akan masa depan mereka ada di
pundakku.
Sedang yang datang 2 malam lalu,
apakah artinya? Hanya sebatas bunga tidur? Petunjuk? Atau pertanda?
Seorang laki-laki yang tepatnya adalah
waliku (Ayah) tiba-tiba menikahkanku dengan seorang ikhwan shalih yang
sebenarnya diam-diam kukagumi karena ketaatan agamanya. “Ustad”, begitu aku
memanggilnya. Rasa kagum dan simpati yang hadir semenjak ia menjadi guru bahasa
arab ekstra kurikuler di kampusku. Seorang yang suaranya begitu merdu ketika
dulu pernah menjadi imam sholat berjamaah saat dalam kegiatan bersama. Seorang
yang mengucapkan salam padaku padahal aku telah nyerocos duluan padanya.
Sehingga membuatku sungkan. Apalagi ketika aku mendengar latar belakang dia. Aku
salut padanya. Semangatnya menuntut ilmu pun membuatku sangat antusias setiap
mengikuti pelajarannya.
Dalam mimpi itu, tiba-tiba Ayah
menikahkan aku dengan dia tanpa persetujuanku dulu. Dia melaksanakan ijab qabul
dengan Ayah langsung. Menikah siri mungkin. Ketika ijab pun aku tak
disandingkan dengan dia seperti pernikahan pada umumnya. Aku hanya bisa
menyaksikan dari jauh. Saat itu pula aku merasa bahwa gejolak dan pertentangan
kembali menghujam. “Bagaimana dengan kuliahku dan cita-citaku? Mengapa Ayah
menikahkanku?” Di satu sisi tak henti ku panjatkan syukur, “Alhamdulillah
mendapatkan suami yang shalih, seperti impianku...” Membayangkan bagaimana
reaksi teman-temanku dan juga para dosen yang nanti mengetahui bila aku menikah
dengan dia. Sedangkan temanku yang sudah tunangan saja belum menikah. Namun,
alangkah indahnya ya seandainya bisa privat bahasa arab dengan seorang yang
telah halal untukku. Mungkin aku akan lebih cepat bisa berbahasa arab daripada
mereka yang juga sama-sama mengikuti kursus yang diajarkan Mas Ustad.
Sepertinya saat itu aku benar-benar
merasa hujan syukur sekaligus hujan dilema, “mengapa ayah menikahkan aku tanpa
mengatakan padaku terlebih dulu?”
Hingga akhirnya badanku terasa capek
sekali dan rupanya fajar membangunkan lelapku dan mengakhiri mimpi indah itu.
Aku masih terbayang meski mimpi itu
telah berlalu. Ayah memilihkan dia untukku???? Aku masih tak percaya. Namun,
jikalau itu benar-benar akan menjadi nyata sungguh siapa wanita yang akan
menolak dinikahkan dengan ikhwan shalih seperti dia. Meskipun tidak berkacamata seperti ekspektasiku tak apalah, toh syarat utama memilih jodoh bukan dari kacamatanya melainkan dari baiknya dia dari segi agamanya, akhlaqnya, dan taqwanya. Selebihnya itu point plus plus. Hehehe... Semoga yang membaca mengamini doa itu dan senantiasa bisa mendapatkan yang demikian. Aamiin..
By:
DeAnhl



Tidak ada komentar:
Posting Komentar