animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Minggu, 22 Mei 2016

IMAM PILIHAN AYAH DALAM MIMPIKU





“Lebih tepatnya bukan kerana kehadirannya dalam mimpiku yang membuatku begini. Akan tetapi, hadirnya menjadi imam dalam mimpiku itulah yang membuatku bersemangat untuk semakin kencang berlari mengejar ridhoNya dan mentaatkan diri pada Illahi.”
Mimpi atau kembang tidur. Dalam ilmu psikologi katanya mimpi adalah sebuah pikiran yang terrepres dalam alam bawah sadar manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa mimpi merupakan sebuah tanda atau petunjuk dari Sang Maha Sutradara. Apakah demikian dengan mimpiku dua malam lalu???
Tentang sebuah simpati pada ikhwan shalih yang selalu menjaga dirinya. Dia sederhana, perangainya tegas namun lembut, sangat qonaah kesehariannya, dan yang paling penting serta utama adalah mumpuni agamanya.
Selama ini dalam hidupku Ayah masih memegang rekor menjadi lelaki terbaik dan tersayang dalam hidupku. Seorang lelaki yang selalu kupikirkan perasaannya setiap kali aku memutuskan sesuatu ataupun berbuat sesuatu. Seseorang yang benar-benar telah mengorbankan ribuan tetes keringat nya tanpa upah, demi cita-cita besar ku sehingga aku selalu memikirkan bagaimana perasaannya apabila kelak aku meninggalkannnya demi baktiku pada kekasih halalku. Seseorang yang aku tidak tau bagaimana hari ini bilamana Allah tak mengkaruniai aku lelaki perkasa itu dalam hidupku. Seseorang yang selalu menerimaku apa adanya aku, pilihanku, mengingatkanku saat aku berbelok dari tujuan yang telah kurancang, mendukung cita-citaku, dan he is my hero. Aku mencintainya, sungguh mencintainya.
Sudah hampir 21 tahun usiaku, selama itu pula belum pernah sekalipun Ayah menanyakan perasaan putrinya dan apa yang tengah bergejolak dalam hati putri kecilnya yang kini tengah menginjak dewasa. Sederhana saja, misalnya:
“Nak, apa kau memiliki pacar?”
Itu terlalu frontal. Seperti ini mungkin, “Nak, apakah kau tak pernah tertarik kepada ikhwan di luaran sana? Teman-temanmu mungkin? Kakak tingkatmu atau relasi-relasimu disana?”
Sedikitpun ia tak pernah menanyakan itu. Hanya ini yang selalu Ayah katakan.
“Pokoknya sampai kamu pacaran atau sibuk memikirkan laki-laki maka Ayah tidak akan membiayai kuliah lagi!!!!!”
Jadi, “Pilihannya hanya dua, kuliah atau nikah?”
Sebuah kalimat yang kian membekas dalam alam bawah sadarku. Sehingga setiap kali membicarakan sebuah pernikahan aku hanya bisa merasakan bahagia sembari berkhayal. Namun, logika seringkali membuyarkan hal indah yang diimpikan semua keturunan adam itu. Hal itu adalah ikatan suci yang disebut pernikahan.
Seringkali terjadi pergolakan batin yang luar biasa setiap kali membahas bab yang tak nyaris selalu saja hits. Adalah pernikahan. Dalam nurani sebenarnya akupun sama seperti kamu, kalian, dan mereka. Aku juga mendambakan sebuah pernikahan. Bukan pernikahan dini tapi menikah muda. Bukankah dalam islam sendiri kita dianjurkan untuk menyegerakan menikah? Yaa namun, harus disiapkan psikologisnya, spiritualitasnya, finansialnya, dan siap akan perbedaan. Insya Allah pribadi mungkin sudah siap, bukan tanpa alasan akan tetapi supaya ada yang menjaga dan membimbing. Kan katanya ada surga sebelum surga yang itu hanya kita temukan dalam mahligai pernikahan.
Namun, saat ini aku hidup pada zaman dimana menurut keluargaku menikah muda sebelum lulus kuliah hanya menyianyiakan gelar sarjana, hanya menyianyiakan biaya kuliah yang telah dikeluarkan, dan ujung-ujungnya akan muncul pertanyaan begini, “Buat apa kuliah lama-lama kalau ujung-ujungnya nikah???” Belum lagi jika dibandingkan dengan kakak-kakakku yang lain akulah yang paling beruntung karena bisa mengenyam ilmu di perguruan tinggi. Besar harapan mereka agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kelak bisa menjadi jembatan adik dan keponakan-keponakanku untuk mereka meraih cita-cita. Tanggungjawab akan masa depan mereka ada di pundakku.
Sedang yang datang 2 malam lalu, apakah artinya? Hanya sebatas bunga tidur? Petunjuk? Atau pertanda?
Seorang laki-laki yang tepatnya adalah waliku (Ayah) tiba-tiba menikahkanku dengan seorang ikhwan shalih yang sebenarnya diam-diam kukagumi karena ketaatan agamanya. “Ustad”, begitu aku memanggilnya. Rasa kagum dan simpati yang hadir semenjak ia menjadi guru bahasa arab ekstra kurikuler di kampusku. Seorang yang suaranya begitu merdu ketika dulu pernah menjadi imam sholat berjamaah saat dalam kegiatan bersama. Seorang yang mengucapkan salam padaku padahal aku telah nyerocos duluan padanya. Sehingga membuatku sungkan. Apalagi ketika aku mendengar latar belakang dia. Aku salut padanya. Semangatnya menuntut ilmu pun membuatku sangat antusias setiap mengikuti pelajarannya.
Dalam mimpi itu, tiba-tiba Ayah menikahkan aku dengan dia tanpa persetujuanku dulu. Dia melaksanakan ijab qabul dengan Ayah langsung. Menikah siri mungkin. Ketika ijab pun aku tak disandingkan dengan dia seperti pernikahan pada umumnya. Aku hanya bisa menyaksikan dari jauh. Saat itu pula aku merasa bahwa gejolak dan pertentangan kembali menghujam. “Bagaimana dengan kuliahku dan cita-citaku? Mengapa Ayah menikahkanku?” Di satu sisi tak henti ku panjatkan syukur, “Alhamdulillah mendapatkan suami yang shalih, seperti impianku...” Membayangkan bagaimana reaksi teman-temanku dan juga para dosen yang nanti mengetahui bila aku menikah dengan dia. Sedangkan temanku yang sudah tunangan saja belum menikah. Namun, alangkah indahnya ya seandainya bisa privat bahasa arab dengan seorang yang telah halal untukku. Mungkin aku akan lebih cepat bisa berbahasa arab daripada mereka yang juga sama-sama mengikuti kursus yang diajarkan Mas Ustad.
Sepertinya saat itu aku benar-benar merasa hujan syukur sekaligus hujan dilema, “mengapa ayah menikahkan aku tanpa mengatakan padaku terlebih dulu?”
Hingga akhirnya badanku terasa capek sekali dan rupanya fajar membangunkan lelapku dan mengakhiri mimpi indah itu.
Aku masih terbayang meski mimpi itu telah berlalu. Ayah memilihkan dia untukku???? Aku masih tak percaya. Namun, jikalau itu benar-benar akan menjadi nyata sungguh siapa wanita yang akan menolak dinikahkan dengan ikhwan shalih seperti dia. Meskipun tidak berkacamata seperti ekspektasiku tak apalah, toh syarat utama memilih jodoh bukan dari kacamatanya melainkan dari baiknya dia dari segi agamanya, akhlaqnya, dan taqwanya. Selebihnya itu point plus plus. Hehehe... Semoga yang membaca mengamini doa itu dan senantiasa bisa mendapatkan yang demikian. Aamiin..

By: DeAnhl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar