Semua masih tergambar jelas...
Seolah hadirnya meluluhkan penat dan lelah
badan, pikiran, dan hati di hari itu. Hari dimana tuhan memberi aku dua
pilihan. Tanggung jawabku pada pengabdianku atau keluargaku yang saat itu
tengah terbaring menahan sakitnya dengan jarum infus di tangan. Di sini, ‘mereka’
sejak entah beberapa hari lalu seolah memperlakukan aku layaknya buronan.
Hidupku tak tenang. Konsep, konsep, dan konsep itu yang selalu mereka
pertanyakan. Sedang wanita paruh baya yang laksana malaikat bagiku hampir
setiap hari menelphoneku. Suaranya parau, “Nak, Kakakmu masuk rumah sakit..”
Selalu saja dua suara itu menerka-nerka benakku. Salah satunya seolah layaknya
iklan obat batuk mengatakan ini, “Kamu pilih dia atau aku???” Ingin rasanya
berontak dan berlari. Senyumku merintih-rintih menahan perihnya terjebak pada
keadaan menyebalkan itu.
“Aku harus profesional,” sebuah
kalimat penuh yakin memacu semangatku. Dengan harapan semoga ridho Allah
menyertai perjalananku hari itu. Ku akui memang sejujurnya hari itu hari yang
lumayan berat untuk kujalani. Menahan perihnya hati dengan bayang-bayang wajah
kakak yang merintih menahan sakit dan wajah ibu yang jelas pasti tak dapat menahan
derai embun dari pelupuk matanya. Weekend dengan balutan kebersamaan
yang mestinya juga diiringi tawa karena moment kebersamaan ini sangat
langka, hanya satu tahun sekali. Untuk sementara aku harus mengenakan topeng.
Biarlah terserah seperti apa penilaian mereka akan kinerjaku hari itu. Cukup
aku yang merasakan hal itu.
Sudahlah, abaikan dilema itu
sementara!!! Semoga Allah melindungi keluargaku.
Di moment yang sama tepatnya
satu tahun lalu aku melihat seseorang yang berwajah teduh dengan kacamata
melindungi sepasang bola matanya. Lalu akhirnya Allah sempat mengenalkan aku
dengannya melalui social media. Sampai di suatu ketika Allah menjauhkan
aku dengan sosok itu. Sosok yang mungkin seperti pangeran dalam
dongeng-dongengku. Aku masih ingat betul chating yang rupanya menjadi chating
perpisahanku dengan dia. Dia bilang Insya Allah akan bertemu pada moment
kebersamaan satu tahun yang akan datang. Yang rupanya selepas itu Allah
menjauhkan aku dengan orang itu dengan alasan-alasanNya. Menjelang
keberangkatan hari itu -ditahun kedua- aku
mencoba mencari jejaknya barangkali dia datang. Rupanya Allah mengabulkan
harapan kecilku itu.
Dia datang!!!
Perih yang menyelimuti hatiku sedikit
berubah menjadi setitik awan kecil. Awan pengharapan. Selama ini aku selalu
berusaha menyembunyikan mukaku setiap kali berpapasan dengannya di kampus.
Pura-pura tak melihat dan tidak pernah menyapanya. Namun, di sana??? Aku tak
menyangka di sela lelahku dia menghampiriku yang saat itu tengah menyendiri
merangkai daun menjadi mahkota sebagai reward untuk peserta terbaik
sedang teman-temanku sibuk membersihkan diri dan berdandan semenarik mungkin
namun, itu tidak bagiku. Aku terlalu sibuk pada hari itu sehingga setiap ada
menit-menit luang kusempatkan diri sejenak mengingat perih yang kadang
membuatku tetap bersyukur. Dia dengan celana kempol dorengnya dan jaket
fakultas angkatanku menghampiriku bersama dua temanku. Dua temanku berlalu
tanpa sengaja membiarkan aku dan dia duduk berdua di halaman. Seolah mereka
mengerti bahwa aku memang mengaharapkan situasi ini sudah lama. Tetapi, ini
bukanlah caraku mencari kesempatan dalam kesempitan. Sungguh, aku tak
membayangkan ini sebelumnya.
Dia dengan kharisma yang memikat
hatiku membantuku membuat mahkota daun itu. Rupanya dia bisa mengobrol. Ku
pikir dia adalah orang yang beku nan penuh misteri, semistis rautnya. Ternyata
dia adalah orang yang asyik, sangat menyenangkan, dan humble. Lidahku
seolah kelu hendak memulai pembicaraan yang tiba-tiba mengalir saja obrolan
itu. Aku sok bosa basi menanyakan seputar skripsinya dan kuliahnya. Hingga
senja kembali harus menjadi alasanku dan dia untuk berpisah karena kesibukan
masing-masing.
Pulang...
Weekend hampir usai, itu artinya aku dan dia
lagi-lagi akan berjalan sendiri-sendiri pada arah masing-masing. Tak kusangka
sebelumnya usai kebersamaan itu justru sepertinya dari situlah awal mulanya
jalan itu lagi. Jalan yang masih membimbangkan hati yang aku tak bisa
membedakan apakah ini ‘Cinta’ ataukah sekedar ‘Kekaguman’ -yang
akan sirna seiring kita banyak tau tentangnya-. Akupun mencoba memulai membangun komunikasi
dengannya seperti sebelum kita sempat dipisahkan. Aku tak ingin obrolan di
halaman bersejarah itu hanya menjadi sejarah atau sekedar menjadi sebuah cerita.
Tetapi, akupun tak ingin grusa-grusu.
Dering ponselku membuyarkan lamunanku
ketika aku kembali mendengar suara parau malaikat hatiku lagi. Menanyakan
kepulanganku karena beberapa jam sebelum naik bus dalam perjalanan pulang ke
kampus aku berjanji jika senja tak terburu datang aku akan pulang. Baru
beberapa menit aku sampai di kontrakan, ibu kembali membuyarkan lelahku.
Ponselku kembali berdering. Tak lagi kudengar suara parau, tetapi isaklah yang
justru menyumpal di telingaku. Akhirnya dengan tergopoh kukemasi baju-bajuku
dengan raut letih dan kusam yang tak bisa kututupi atau sekedar kubalut dengan
bedak tabur. Ku melaju dengan dua kali pindah mikrolet lalu berpindah ke bus.
Bus antarkota yang hendak ku tumpangi sampai di depan salah satu rumah sakit di
kabupaten tempatku tinggal. Lelahku tak terbendung lagi hingga aku tersadar
ketika kondektur bus menegurku karena aku terlelap di bus sedang telah sampai
di tempat tujuanku.
Di rumah sakit itu, kutemui kakakku
masih terbaring tak berdaya. Tapi, setidaknya hadirku mengurangi kecemasan Ibu
yang sedari kemarin menangis. Seharusnya rumah sakit adalah tempat yang membosankan tetapi, lagi-lagi sosok yang
penuh misteri itu masih bersedia meluangkan waktunya untuk membuatku tersenyum
dan bersyukur atas keadaan yang sedang kuhadapi hari itu. Sebatas komunikasi pertemanan antara adik tingkat dan
kakak tingkat yang telah lama salah satunya merindukan hal itu. Pembicaraan tak
penting yang bermuara menjadi sebuah candu. Candu untuk ingin selalu berbunyi
ponselku yang itu adalah pesan darinya. Dari dia....
By : Dede BeeaNhl


Tidak ada komentar:
Posting Komentar