animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Senin, 14 Maret 2016

Halaman Bersejarah





Semua masih tergambar jelas...

Seolah hadirnya meluluhkan penat dan lelah badan, pikiran, dan hati di hari itu. Hari dimana tuhan memberi aku dua pilihan. Tanggung jawabku pada pengabdianku atau keluargaku yang saat itu tengah terbaring menahan sakitnya dengan jarum infus di tangan. Di sini, ‘mereka’ sejak entah beberapa hari lalu seolah memperlakukan aku layaknya buronan. Hidupku tak tenang. Konsep, konsep, dan konsep itu yang selalu mereka pertanyakan. Sedang wanita paruh baya yang laksana malaikat bagiku hampir setiap hari menelphoneku. Suaranya parau, “Nak, Kakakmu masuk rumah sakit..” Selalu saja dua suara itu menerka-nerka benakku. Salah satunya seolah layaknya iklan obat batuk mengatakan ini, “Kamu pilih dia atau aku???” Ingin rasanya berontak dan berlari. Senyumku merintih-rintih menahan perihnya terjebak pada keadaan menyebalkan itu.



“Aku harus profesional,” sebuah kalimat penuh yakin memacu semangatku. Dengan harapan semoga ridho Allah menyertai perjalananku hari itu. Ku akui memang sejujurnya hari itu hari yang lumayan berat untuk kujalani. Menahan perihnya hati dengan bayang-bayang wajah kakak yang merintih menahan sakit dan wajah ibu yang jelas pasti tak dapat menahan derai embun dari pelupuk matanya. Weekend dengan balutan kebersamaan yang mestinya juga diiringi tawa karena moment kebersamaan ini sangat langka, hanya satu tahun sekali. Untuk sementara aku harus mengenakan topeng. Biarlah terserah seperti apa penilaian mereka akan kinerjaku hari itu. Cukup aku yang merasakan hal itu.

Sudahlah, abaikan dilema itu sementara!!! Semoga Allah melindungi keluargaku.

Di moment yang sama tepatnya satu tahun lalu aku melihat seseorang yang berwajah teduh dengan kacamata melindungi sepasang bola matanya. Lalu akhirnya Allah sempat mengenalkan aku dengannya melalui social media. Sampai di suatu ketika Allah menjauhkan aku dengan sosok itu. Sosok yang mungkin seperti pangeran dalam dongeng-dongengku. Aku masih ingat betul chating yang rupanya menjadi chating perpisahanku dengan dia. Dia bilang Insya Allah akan bertemu pada moment kebersamaan satu tahun yang akan datang. Yang rupanya selepas itu Allah menjauhkan aku dengan orang itu dengan alasan-alasanNya. Menjelang keberangkatan hari itu -ditahun kedua-  aku mencoba mencari jejaknya barangkali dia datang. Rupanya Allah mengabulkan harapan kecilku itu.

Dia datang!!!

Perih yang menyelimuti hatiku sedikit berubah menjadi setitik awan kecil. Awan pengharapan. Selama ini aku selalu berusaha menyembunyikan mukaku setiap kali berpapasan dengannya di kampus. Pura-pura tak melihat dan tidak pernah menyapanya. Namun, di sana??? Aku tak menyangka di sela lelahku dia menghampiriku yang saat itu tengah menyendiri merangkai daun menjadi mahkota sebagai reward untuk peserta terbaik sedang teman-temanku sibuk membersihkan diri dan berdandan semenarik mungkin namun, itu tidak bagiku. Aku terlalu sibuk pada hari itu sehingga setiap ada menit-menit luang kusempatkan diri sejenak mengingat perih yang kadang membuatku tetap bersyukur. Dia dengan celana kempol dorengnya dan jaket fakultas angkatanku menghampiriku bersama dua temanku. Dua temanku berlalu tanpa sengaja membiarkan aku dan dia duduk berdua di halaman. Seolah mereka mengerti bahwa aku memang mengaharapkan situasi ini sudah lama. Tetapi, ini bukanlah caraku mencari kesempatan dalam kesempitan. Sungguh, aku tak membayangkan ini sebelumnya.

Dia dengan kharisma yang memikat hatiku membantuku membuat mahkota daun itu. Rupanya dia bisa mengobrol. Ku pikir dia adalah orang yang beku nan penuh misteri, semistis rautnya. Ternyata dia adalah orang yang asyik, sangat menyenangkan, dan humble. Lidahku seolah kelu hendak memulai pembicaraan yang tiba-tiba mengalir saja obrolan itu. Aku sok bosa basi menanyakan seputar skripsinya dan kuliahnya. Hingga senja kembali harus menjadi alasanku dan dia untuk berpisah karena kesibukan masing-masing.

Masih sama seperti dulu, kehadirannya selalu saja menjadi sekeping alasanku untuk tersenyum disela kepedihan di balik topeng yang ku perlihatkan pada semua orang saat itu.

Pulang...

Weekend hampir usai, itu artinya aku dan dia lagi-lagi akan berjalan sendiri-sendiri pada arah masing-masing. Tak kusangka sebelumnya usai kebersamaan itu justru sepertinya dari situlah awal mulanya jalan itu lagi. Jalan yang masih membimbangkan hati yang aku tak bisa membedakan apakah ini ‘Cinta’ ataukah sekedar ‘Kekaguman’ -yang akan sirna seiring kita banyak tau tentangnya-.  Akupun mencoba memulai membangun komunikasi dengannya seperti sebelum kita sempat dipisahkan. Aku tak ingin obrolan di halaman bersejarah itu hanya menjadi sejarah atau sekedar menjadi sebuah cerita. Tetapi, akupun tak ingin grusa-grusu.

Dering ponselku membuyarkan lamunanku ketika aku kembali mendengar suara parau malaikat hatiku lagi. Menanyakan kepulanganku karena beberapa jam sebelum naik bus dalam perjalanan pulang ke kampus aku berjanji jika senja tak terburu datang aku akan pulang. Baru beberapa menit aku sampai di kontrakan, ibu kembali membuyarkan lelahku. Ponselku kembali berdering. Tak lagi kudengar suara parau, tetapi isaklah yang justru menyumpal di telingaku. Akhirnya dengan tergopoh kukemasi baju-bajuku dengan raut letih dan kusam yang tak bisa kututupi atau sekedar kubalut dengan bedak tabur. Ku melaju dengan dua kali pindah mikrolet lalu berpindah ke bus. Bus antarkota yang hendak ku tumpangi sampai di depan salah satu rumah sakit di kabupaten tempatku tinggal. Lelahku tak terbendung lagi hingga aku tersadar ketika kondektur bus menegurku karena aku terlelap di bus sedang telah sampai di tempat tujuanku.

Di rumah sakit itu, kutemui kakakku masih terbaring tak berdaya. Tapi, setidaknya hadirku mengurangi kecemasan Ibu yang sedari kemarin menangis. Seharusnya rumah sakit adalah tempat yang  membosankan tetapi, lagi-lagi sosok yang penuh misteri itu masih bersedia meluangkan waktunya untuk membuatku tersenyum dan bersyukur atas keadaan yang sedang kuhadapi hari itu. Sebatas  komunikasi pertemanan antara adik tingkat dan kakak tingkat yang telah lama salah satunya merindukan hal itu. Pembicaraan tak penting yang bermuara menjadi sebuah candu. Candu untuk ingin selalu berbunyi ponselku yang itu adalah pesan darinya. Dari dia....


By : Dede BeeaNhl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar