animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Sabtu, 26 Mei 2018

Ayah dan Mantra Kesabaran



Oleh: Debby Pratiwi
Dear, Ayah...
Suatu hari nanti mungkin aku akan menemukan seorang Pangeran. Tapi, percayalah bahwa engkau akan tetap menjadi Raja dalam hidupku.
Ilustrasi
Ini kisah tentang seorang gadis yang dalam hidupnya selalu menjadi pecinta yang patah hati. Pecinta yang selalu gagal dalam menggapai cintanya atau mungkin belum ditakdirkan dan saat cerita ini ditulis dia masih belum memetik takdir cinta ala kisah dalam dongeng-dongeng yang dibacanya semasa Sekolah Dasar. Sampai pada akhirnya setiap kali berbicara tentang laki-laki ia langsung membuang muka dengan kecut seperti menyimpan kebencian. Satu-satunya laki-laki yang ceritanya tidak pernah basi untuknya adalah saat ia mendengar maupun bercerita tentang laki-laki yang bergelar “Bapak”. Matanya yang sayu sedikit sipit meskipun dalam silsilah keluarganya tidak ada yang berdarah Cina seperti berbinar memercikan air mata yang sebenarnya selalu ia tahan. Gadis itu bernama Fathonah.
Di suatu sore yang masih setengah siang karena panas menyengat matahari musim kemarau yang panjang di desa itu seorang gadis duduk berdekatan dengan Bapaknya di sebuah sofa hijau yang busanya sudah tepos, permukaannya kasar, dan kayu bawahnya bolong dikerok tikus-tikus di rumahnya. Rumah yang masih khas pedesaan. Dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu yang dianyam oleh lelaki yang usianya setengah abad itu –bapak si gadis- bercatkan oli hitam supaya tak mudah lapuk dimakan rayap berbalut cat gamping putih. Di dekat sofa kusam lagi berdebu itu ada meja kecil berukuran 1 m x 0.5 m berwarna merah yang konon 10 tahunan yang lalu dibeli sepaket bersama sofa itu. Ruang tamu itu cukup luas karena maklum saja di rumah itu biasanya digunakan untuk acara berkumpul keluarga besar dan mungkin hanya kebetulan saja. Selain sofa hijau yang mepet ke arah gedek -dinding bambu-  sebelah barat maka, di seberang timurnya dekat gedek pula terdapat lemari kayu tepatnya lemari televisi yang di bawahnya ada ampliver dan VCD yang sudah eror beberapa tahun terakhir yang sengaja tak diservice.
Di ruang itu dengan suasana yang panas yang entah berapa derajat tanpa angin sedikitpun meskipun hampir seluruh dinding di rumah itu memiliki celah udara, anak gadis dan laki-laki yang dulu semasa SD sempat diragukannya sebagai bapaknya karena ia sering dimarahi sedangkan kakak tirinya tidak, mereka berbincang-bincang.
Seperti biasanya laki-laki setengah abad itu setiap sedang berdua dengan Fathonah selalu memberikan nasehat-nasehat budi pekerti yang diturunkan dari leluhur-leluhur maupun nenek buyutnya. Sebagai seorang anak gadis yang sejak duduk di SMA mulai menyadari betapa bapaknya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya setelah ibunya, ia selalu menyimak setiap nasehat yang dituturkan oleh lelaki kesayangannya itu. Terlebih ia mulai merasa menjadi anak kesayangan bapaknya setelah dia menuruti bapaknya untuk bergabung dalam sebuah perkumpulan. Yang aku sendiri tidak bisa menjelaskan tentang perkumpulan itu.
Sudah bisa ditebak setiap kali mereka berbincang mereka saling mengeluhkan kelakuan ibu Fathonah. Ibu yang menurutnya jauh dari kata layak untuk diberi gelar sebagai seorang ibu. Namun, karena ia yang telah mengandung hingga melahirkan Fathonah, mencurahkan segenap kasihnya untuk membesarkan Fathonah maka, dengan pertimbangan itu wanita yang seumur hidupnya tidak bisa adil itu tetap dan akan selamanya bergelar sebagai ibu dari seorang gadis setengah badung bernama Fathonah.
Keluhan itu bukan hanya dirasakan Fathonah dan bapaknya saja akan tetapi, saudara-saudara Fathonah dan tetangga-tetangganya pun merasakan hal itu. Kelakuan ibu Fathonah yang tidak bisa sabar baik pada suami, anak, maupun nenek Fathonah itu membuatnya gemas, lebih-lebih saat Fathonah di rumah agak lama. Sudah pasti anak konyol yang mimpinya setinggi langit itu merasa terbakar telinga hingga ulu hatinya mendengar pisau-pisau tajam yang keluar dari mulut sang Ibu. Sampai di suatu ketika saat Fathonah mengeluhkan hal itu kepada kakaknya, kakaknya pun menggerutu sambil melontarkan kalimat kurang lebih begini, “hemboohhhlah... Kenapa dulu bapak itu mau menikahi Ibu?!!!” Nahhh loooohhh.... Pertanyaan itu kemudian menjadi tanda tanya juga dalam benak Fathonah. Lama sekali, bertahun-tahun seingatku Fathonah memendam pula “pertanyaan” itu dalam lubuk hatinya yang terdalam. Kedua kakak Fathonah yang sudah berumah tangga pun, sering tiba-tiba tidak berkunjung ke rumahnya selama berminggu-minggu karena mutung dengan si ibu akibat bibir bercabe ibunya.
Di antara jeda bapaknya memberikan wejangan-wejangan pada Fathonah kemudian dengan segenap keberanian ia menyampaikan sebuah pertanyaan keramat yang dipendamnya sekian lama ini. Yang tentunya pertanyaan itu kemudian disusul oleh beberapa pertanyaan lain yang tak kalah keramat pula, ini pertanyaan tentang jati diri gadis petakilan itu.
“Bapak, kenapa bapak dulu mau menikah dengan ibu?”
Pertanyaan itu seharusnya diajukan oleh seorang anak saat sedang bersantai bersama di ruang tamu sambil menonton televisi sambil sepasang orang tua itu bercanda mesra seperti yang film-film. Kemudian si bapak akan menjawab begini, “Jadi begini nak, bapak menikah dengan ibumu karena bapak sangat mencintai ibumu. Ibumu ini adalah seorang kembang desa sementara bapak adalah seorang pemuda tertampan sedesa pada masa itu... bla bla bla...” Namun, zleeeeepppppp. Onah begitu panggilan kesayangan bapak pada anak gadisnya. Lamunannya buyar seperti sekerumunan semut yang baru saja disapu oleh sebuah jari manusia. Lari terbirit-birit semut-semut itu. Sedikit hening. Pertanyaan keramat pertama yang diajukan oleh Fathonah itu terlontar setelah ia benar-benar menyiapkan hatinya supaya tak mendorong air matanya tumpah sepertinya ia telah melakukan perjanjian dengan hatinya untuk itu.
Lelaki di samping Onah itupun sedikit tertegun sebentar. Kemudian dengan segenap kesanggupan ia pun menuntun ingatannya beberapa belasan tahun lalu saat kehadiran Onah belum terpikirkan oleh bapaknya dan ibunya. Dalam hatinya berdesir dalam hati, “mungkin sudah saatnya anak ini
mengetahui perjalanan kehidupan pernikahan kita selama ini, Karsih.” Kemudian laki-laki bernama asli di KTP Kartono itupun menarik nafas panjang dan menghembuskannya seperti orang yang sedang malakukan olahraga YOGA.
“Dulu Ibumu terkenal nakal, sebagai pengganggu rumah tangga orang, Nak. Kau tau Santo?”
Fathonah tak banyak berkata-berkata hanya menyampaikan isyarat dengan anggukan. Setau Fathonah, Santo adalah bapak temannya di remaja masjid. Temannya yang biasanya menjadi muadzin di mushola kecil dekat rumah neneknya yang kadang-kadang jika imam tetap di jushola itu tidak ada, jejaka yang sudah pantas menikah itu yang menggantikan. Santo sudah meninggal 5 tahun lalu secara mendadak, kemungkinan angin duduk entah paru-paru. Sewaktu SMP, Santo sering menelephon Ibunya dan mengirimi pulsa ibunya. Tapi, Fathonah yang waktu itu masih SMP kelas VII tidak mengerti maksud si Santo keparat itu kepada ibunya.
Kemudian Kartono menlanjutkan lagi.
“Katanya, kata orang-orang ibumu seperti itu tak lain adalah sebab kebutuhan ekonomi. Ibumu waktu itu janda ditinggal minggat oleh suaminya. Sementara harus mengasuh kakakmu, anak yang ditinggalkan oleh bapaknya yang waktu itu usia masuk SD. Ibumu tinggal di rumah nenekmu serumah dengan bibimu, Wati dan suami serta anak-anak Wati. Ibumu waktu itu juga pernah menjadi buruh rumah tangga di rumah Budhemu yang kaya itu, yang tanahnya luas. Sepupu ibumu. Tapi, Bu Menik yang kaya itu meskipun dengan saudara sendiri tak segan akan mempekerjakannya dengan mentalan –tega- dan upahnya tidak seberapa. Kurang kalau untuk memenuhi biaya hidup Mbak Yu mu dan nenek kakekmu. Dari situlah Santo sering menggoda ibumu saat ibumu kerja di gudang tembakau miliki Bu Menik. Santo sering curi pandang dan Ibumu kata orang-orang sering menanggapi. Tak sampai disitu. Santo sialan itu yang tak ingat anak bini sering menemui ibumu dengan pura-pura cankruk di Pak lekmu, Bambang –suami Bibi Wati-. Santo dan ibumu sudah seperti suami istri. Mendengar itu, bapak tanpa ada perasaan cinta kasihan pada Ibumu. Bapak ingin menolong dan menyelamatkan ibumu dari kelakuan hina itu dengan menikahinya. Bapak berharap dengan begitu bapak dan ibumu akan memulai hidup dari Nol. Mencari penghidupan dengan cara yang baik apalagi saat itu bapak juga membutuhkan sosok teman hidup sepeninggal ibunya mbakmu.”
Fathonah yang mulai emosi tapi ditahan-tahan itu memotong sedikit dengan pertanyaannya.
“Pak, kenapa di buku nikah bapak dan ibu dengan tanggal kelahiranku di akte berselisih 2 bulan saja? Apa dulu ibu hamil di luar nikah?”
 Pertanyaan ini sudah sejak SD dipendamnya gara-gara ia marah dengan bapak dan ibunya yang merasa tidak adil selama ini kepada dia dan kakak-kakaknya. Kemudian saat tak sengaja mencari raportnya ia membuka map besar kumpulan dokumen-dokumen penting sekeluarga ia tak sengaja menemukan buku nikah kedua orang tuanya. Membukanya kemudian dibacanya apa saja yang tertulis dalam buku saksi sebuah upacara sakral dalam kehidupan anak manusia itu. Termasuk mahar yang diberikan bapaknya kepada ibunya yang tertulis senilai Rp. 10.000,-. Di tanggal akad nikahnya tertera tanggal yang persis sekali dengan tanggal lahirnya dan tahunnya sama. Yang berbeda adalah bulannya. Pernikahan orang tuanya terselenggara dua bulan sebelum bulan lahirnya. Gadis badung itu rupanya memiliki daya kritis yang cukup tinggi. Ia merasa ada yang ganjil dan tidak beres dalam jati dirinya yang sesungguhnya. Misteri apakah yang coba disembunyikan oleh kedua orang tuanya jika bukan “dirinya adalah anak hasil dari hubungan terlarang alias hamil duluan atau prasangka terburuknya adalah dia anak hasil perselingkuhan yang kemudian diakui oleh Kartono sang penyelamat”.
Sementara itu Kartono tak pernah membayangkan anak gadisnya yang paling menjengkelkan itu akan menanyakan hal itu. Di lain sisi Fathonah tak pernah menyangka bahwa lelaki kesayangannya itu melakukan dosa yang begitu besar kepada ibunya. Atau jangan-jangan mereka memang sama-sama mau. Kalau begitu dirinya dilahirkan dari sebuah dosa dan godaan setan yang terkutuk. Fathonah masih sedikit sanksi atas kecurigaannya itu. Kartono tak tampak kebingungan menjawab pertanyaan keramat kedua si Onahnya. Atau jawaban ini merupakan fiktif belaka, yaaa aku juga tidak tau.
Kartono pun dengan pandangan nanar dan tampak kosong serta bola matanya yang tampak sedikit memerah dan kelopaknya yang mulai berkerut mulai menjawab seolah ingatannya benar-benar berada pada tahun-tahun awal keberadaan janin si Onah dalam rahim Karsih.
“Iya, Nah. Karena bapak tau kalau ibumu ada hubungan dengan si Santo yaa bapak duluin saja ibumu. Lalu bapak menikahi Ibumu setelah beberapa tahun sebelum itu -keberadaanmu terdekteksi bahkan tak terpikir sama sekali- bapak membantu proses perceraian ibumu dengan bapaknya mbakmu. Bapak yang jadi saksi di pengadilan agama.” Jawaban sangar dari Kartono yang sedikit membuat Fathonah mendelik heran yang diblender bersama jengkel kepada bapaknya.
“Bahkan dulu saat kau sudah lahir dan kita menempati rumah yang dekat sungai itu ibumu masih sering minggat ke rumah nenekmu. Kamu masih ingat dulu kakimu kena ruji sepeda onta yang dicat hijau itu sampai berdarah dan diperban?”
Fathonah mengangguk sambil menimpali, “ini bekasnya masih ada, pak.”
Kartono melanjutkan, “waktu itu ibumu marah-marah dan purik dengan bapak. Entah apa masalahnya bapak lupa. Ternyata ada beberapa orang memberitahu bapak kalau ibumu disana masih sering bertemu dengan Santo.” Kartono sedikit menunduk sepertinya setelah kurang lebih 20 tahun memikul beban berat itu dengan penuh ketabahan dan kesabaran, baru kali itu Kartono berani mengisyaratkan bahwa ia keberatan.
“Bapak, kenapa bapak masih bertahan dengan ibu? Kenapa dulu bapak tidak ceraikan ibu saja. Ibu sudah sedemikian jahat dengan bapak, nenek, dan kakak?” Tanya Fathonah sedikit naik pitam dan serasa sesak dadanya.
“Asal kau tau saja, Nah. Bapak dan ibumu sudah hampir bubar berkali-kali, perkawinan bapak dan ibu sudah diujung tanduk. Bapak biarkan saja dia bertingkah. Setelah bapak pikir-pikir, lha yo lha yo, untuk apa aku ngenes karena masalah begini? Hidup itu, Nah, yang terpenting cukup dan diparingi seger kewarasan, bisa momong anak cucu sampai tua.” Dibarengi dengan senyum yang menyeringai penuh percaya diri bahwa setidaknya Kartono merasa menang dari godaan-godaan hidup yang coba menguji kesabarannya yang secara bertubi-tubi. Tak terlalu penting baginya sedalam apa luka yang ditancapkan oleh Karsih kepadanya yang terpenting anak-anaknya tidak mewarisi sifat menjijikkan ibunya.
Di akhir obrolan bapak dan anak itu Kartono sempat mengutarakn isi hati sekaligus ketakutannya kepada Fathonah.
“Nah, justru bapak itu khawatir sama kamu.”
Kalimat itu membuat Fathonah sedikit melongo. “Lhoh??? Khawatir kenapa to pak?”
“Bapak khawatir kau mewarisi laku –perilaku- ibumu. Ketakutan dan kekhawatiran bapak yang lain adalah kau kelak yang akan memanen apa yang dilakukan ibumu. Padahal kau tak tau apa-apa.”
Tanpa bertanya lagi Fathonah lekas memahami maksud perkataan bapaknya. Kemudian karena hari semakin sore, Kartono bergegas berjingkat dari sofa tepos itu meninggalkan Fathonah. Berbasa-basi bahwa ia akan ke sawah mengambil ­luku –sejenis alat untuk membajak sawah- kemudian lelaki yang kulitnya hitam pekat karena tersengat panas matahari sepanjang pagi hingga petang ini meninggalkan ruang tamu.
Bergidik hatinya antara ketakutan bapaknya yang seperti ditransfer pada dirinya sekaligus sangat kagum pada sosok lelaki yang mulai detik itu resmi tidak dia ragukan lagi sebagai sebenar-benar bapaknya. Lelaki tertulus yang pernah ia temui di dunia. Oleh karena itu, setiap kali ia menilai kebaikan seorang laki-laki di luaran sana tolak ukurnya adalah bapaknya. Pahlawan tebaiknya yang cinta mendalamnya tidak akan mampu diungkapkan dengan seisi dunia. Sementara kepada ibunya Fathonah tetap bersikap biasa, ia sudah mental dengan suara panggilan ibunya yang nyaring seperti orang di tengah hutan segala kemarahan ibunya. Ia teringat wejangan bapaknya untuk menghormati orang tua dan tidak membuat orang tuanya sakit hati. Demi bapaknya, Fathonah berusaha memaafkan kelakuan ibunya yang telah menggoreskan luka abadi di relung jiwa lelaki kesayangannya. Berusaha menerima ibunya sebagaimana ibunya yang selalu memaafkan dia atas kesalahan yang berulang kali ia lakukan serta selalu menerimanya saat ia dirundung ketidakberuntungan. Tapi, setiap berbicara tentang lelaki yang bergelar “Bapak” hatinya seperti terkoyak dan tidak pernah rela ada ayah baik hati di belahan bumi manapun yang tersakiti.
“Disaat seorang ibu selalu mengkhawatirkan anaknya yang akan menempuh perjalanan jauh meraih mimpi maka, saat itulah seorang ayah akan berkata, “Jangan takut, Nak. Kau Bisa, kau anak kuat.” -Debby Pratiwi-

2 komentar: