Oleh: Debby Pratiwi
Dear,
Ayah...
Suatu
hari nanti mungkin aku akan menemukan seorang Pangeran. Tapi, percayalah bahwa
engkau akan tetap menjadi Raja dalam hidupku.
![]() |
| Ilustrasi |
Ini kisah tentang seorang gadis yang dalam hidupnya
selalu menjadi pecinta yang patah hati. Pecinta yang selalu gagal dalam
menggapai cintanya atau mungkin belum ditakdirkan dan saat cerita ini ditulis
dia masih belum memetik takdir cinta ala kisah dalam dongeng-dongeng yang
dibacanya semasa Sekolah Dasar. Sampai pada akhirnya setiap kali berbicara
tentang laki-laki ia langsung membuang muka dengan kecut seperti menyimpan
kebencian. Satu-satunya laki-laki yang ceritanya tidak pernah basi untuknya
adalah saat ia mendengar maupun bercerita tentang laki-laki yang bergelar “Bapak”.
Matanya yang sayu sedikit sipit meskipun dalam silsilah keluarganya tidak ada
yang berdarah Cina seperti berbinar memercikan air mata yang sebenarnya selalu
ia tahan. Gadis itu bernama Fathonah.
Di suatu sore yang masih setengah siang karena panas
menyengat matahari musim kemarau yang panjang di desa itu seorang gadis duduk
berdekatan dengan Bapaknya di sebuah sofa hijau yang busanya sudah tepos,
permukaannya kasar, dan kayu bawahnya bolong dikerok tikus-tikus di rumahnya.
Rumah yang masih khas pedesaan. Dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu
yang dianyam oleh lelaki yang usianya setengah abad itu –bapak si gadis-
bercatkan oli hitam supaya tak mudah lapuk dimakan rayap berbalut cat gamping
putih. Di dekat sofa kusam lagi berdebu itu ada meja kecil berukuran 1 m x 0.5
m berwarna merah yang konon 10 tahunan yang lalu dibeli sepaket bersama sofa
itu. Ruang tamu itu cukup luas karena maklum saja di rumah itu biasanya
digunakan untuk acara berkumpul keluarga besar dan mungkin hanya kebetulan
saja. Selain sofa hijau yang mepet ke arah gedek -dinding bambu- sebelah barat maka, di seberang timurnya
dekat gedek pula terdapat lemari kayu tepatnya lemari televisi yang di bawahnya
ada ampliver dan VCD yang sudah eror beberapa tahun terakhir yang sengaja tak
diservice.
Di ruang itu dengan suasana yang panas yang entah
berapa derajat tanpa angin sedikitpun meskipun hampir seluruh dinding di rumah
itu memiliki celah udara, anak gadis dan laki-laki yang dulu semasa SD sempat
diragukannya sebagai bapaknya karena ia sering dimarahi sedangkan kakak tirinya
tidak, mereka berbincang-bincang.
Seperti biasanya laki-laki setengah abad itu setiap
sedang berdua dengan Fathonah selalu memberikan nasehat-nasehat budi pekerti
yang diturunkan dari leluhur-leluhur maupun nenek buyutnya. Sebagai seorang
anak gadis yang sejak duduk di SMA mulai menyadari betapa bapaknya adalah orang
yang paling berjasa dalam hidupnya setelah ibunya, ia selalu menyimak setiap
nasehat yang dituturkan oleh lelaki kesayangannya itu. Terlebih ia mulai merasa
menjadi anak kesayangan bapaknya setelah dia menuruti bapaknya untuk bergabung
dalam sebuah perkumpulan. Yang aku sendiri tidak bisa menjelaskan tentang
perkumpulan itu.
Sudah bisa ditebak setiap kali mereka berbincang
mereka saling mengeluhkan kelakuan ibu Fathonah. Ibu yang menurutnya jauh dari
kata layak untuk diberi gelar sebagai seorang ibu. Namun, karena ia yang
telah mengandung hingga melahirkan Fathonah, mencurahkan segenap kasihnya untuk
membesarkan Fathonah maka, dengan pertimbangan itu wanita yang seumur hidupnya
tidak bisa adil itu tetap dan akan selamanya bergelar sebagai ibu dari seorang
gadis setengah badung bernama Fathonah.
Keluhan itu bukan hanya dirasakan Fathonah dan
bapaknya saja akan tetapi, saudara-saudara Fathonah dan tetangga-tetangganya
pun merasakan hal itu. Kelakuan ibu Fathonah yang tidak bisa sabar baik pada
suami, anak, maupun nenek Fathonah itu membuatnya gemas, lebih-lebih saat
Fathonah di rumah agak lama. Sudah pasti anak konyol yang mimpinya setinggi
langit itu merasa terbakar telinga hingga ulu hatinya mendengar pisau-pisau
tajam yang keluar dari mulut sang Ibu. Sampai di suatu ketika saat Fathonah
mengeluhkan hal itu kepada kakaknya, kakaknya pun menggerutu sambil melontarkan
kalimat kurang lebih begini, “hemboohhhlah... Kenapa dulu bapak itu mau
menikahi Ibu?!!!” Nahhh loooohhh.... Pertanyaan itu kemudian menjadi tanda
tanya juga dalam benak Fathonah. Lama sekali, bertahun-tahun seingatku Fathonah
memendam pula “pertanyaan” itu dalam lubuk hatinya yang terdalam. Kedua kakak
Fathonah yang sudah berumah tangga pun, sering tiba-tiba tidak berkunjung ke
rumahnya selama berminggu-minggu karena mutung dengan si ibu akibat
bibir bercabe ibunya.
Di antara jeda bapaknya memberikan wejangan-wejangan
pada Fathonah kemudian dengan segenap keberanian ia menyampaikan sebuah
pertanyaan keramat yang dipendamnya sekian lama ini. Yang tentunya pertanyaan
itu kemudian disusul oleh beberapa pertanyaan lain yang tak kalah keramat pula,
ini pertanyaan tentang jati diri gadis petakilan itu.
“Bapak, kenapa bapak dulu mau menikah dengan ibu?”
Pertanyaan itu seharusnya diajukan oleh seorang anak
saat sedang bersantai bersama di ruang tamu sambil menonton televisi sambil
sepasang orang tua itu bercanda mesra seperti yang film-film. Kemudian si bapak
akan menjawab begini, “Jadi begini nak, bapak menikah dengan ibumu karena bapak
sangat mencintai ibumu. Ibumu ini adalah seorang kembang desa sementara bapak
adalah seorang pemuda tertampan sedesa pada masa itu... bla bla bla...” Namun,
zleeeeepppppp. Onah begitu panggilan kesayangan bapak pada anak gadisnya.
Lamunannya buyar seperti sekerumunan semut yang baru saja disapu oleh sebuah
jari manusia. Lari terbirit-birit semut-semut itu. Sedikit hening. Pertanyaan
keramat pertama yang diajukan oleh Fathonah itu terlontar setelah ia
benar-benar menyiapkan hatinya supaya tak mendorong air matanya tumpah
sepertinya ia telah melakukan perjanjian dengan hatinya untuk itu.
Lelaki di samping Onah itupun sedikit tertegun
sebentar. Kemudian dengan segenap kesanggupan ia pun menuntun ingatannya
beberapa belasan tahun lalu saat kehadiran Onah belum terpikirkan oleh bapaknya
dan ibunya. Dalam hatinya berdesir dalam hati, “mungkin sudah saatnya anak ini
“Dulu Ibumu terkenal nakal, sebagai pengganggu rumah
tangga orang, Nak. Kau tau Santo?”
Fathonah tak banyak berkata-berkata hanya
menyampaikan isyarat dengan anggukan. Setau Fathonah, Santo adalah bapak
temannya di remaja masjid. Temannya yang biasanya menjadi muadzin di mushola
kecil dekat rumah neneknya yang kadang-kadang jika imam tetap di jushola itu
tidak ada, jejaka yang sudah pantas menikah itu yang menggantikan. Santo sudah
meninggal 5 tahun lalu secara mendadak, kemungkinan angin duduk entah
paru-paru. Sewaktu SMP, Santo sering menelephon Ibunya dan mengirimi pulsa
ibunya. Tapi, Fathonah yang waktu itu masih SMP kelas VII tidak mengerti maksud
si Santo keparat itu kepada ibunya.
Kemudian Kartono menlanjutkan lagi.
“Katanya, kata orang-orang ibumu seperti itu tak
lain adalah sebab kebutuhan ekonomi. Ibumu waktu itu janda ditinggal minggat
oleh suaminya. Sementara harus mengasuh kakakmu, anak yang ditinggalkan oleh
bapaknya yang waktu itu usia masuk SD. Ibumu tinggal di rumah nenekmu serumah
dengan bibimu, Wati dan suami serta anak-anak Wati. Ibumu waktu itu juga pernah
menjadi buruh rumah tangga di rumah Budhemu yang kaya itu, yang tanahnya luas.
Sepupu ibumu. Tapi, Bu Menik yang kaya itu meskipun dengan saudara sendiri tak
segan akan mempekerjakannya dengan mentalan –tega- dan upahnya tidak
seberapa. Kurang kalau untuk memenuhi biaya hidup Mbak Yu mu dan nenek kakekmu.
Dari situlah Santo sering menggoda ibumu saat ibumu kerja di gudang tembakau
miliki Bu Menik. Santo sering curi pandang dan Ibumu kata orang-orang sering
menanggapi. Tak sampai disitu. Santo sialan itu yang tak ingat anak bini
sering menemui ibumu dengan pura-pura cankruk di Pak lekmu, Bambang
–suami Bibi Wati-. Santo dan ibumu sudah seperti suami istri. Mendengar itu,
bapak tanpa ada perasaan cinta kasihan pada Ibumu. Bapak ingin menolong dan
menyelamatkan ibumu dari kelakuan hina itu dengan menikahinya.
Bapak berharap dengan begitu bapak dan ibumu akan memulai hidup dari Nol.
Mencari penghidupan dengan cara yang baik apalagi saat itu bapak juga
membutuhkan sosok teman hidup sepeninggal ibunya mbakmu.”
Fathonah yang mulai emosi tapi ditahan-tahan itu
memotong sedikit dengan pertanyaannya.
“Pak, kenapa di buku nikah bapak dan ibu dengan
tanggal kelahiranku di akte berselisih 2 bulan saja? Apa dulu ibu hamil di luar
nikah?”
Pertanyaan
ini sudah sejak SD dipendamnya gara-gara ia marah dengan bapak dan ibunya yang
merasa tidak adil selama ini kepada dia dan kakak-kakaknya. Kemudian saat tak
sengaja mencari raportnya ia membuka map besar kumpulan dokumen-dokumen penting
sekeluarga ia tak sengaja menemukan buku nikah kedua orang tuanya. Membukanya
kemudian dibacanya apa saja yang tertulis dalam buku saksi sebuah upacara
sakral dalam kehidupan anak manusia itu. Termasuk mahar yang diberikan bapaknya
kepada ibunya yang tertulis senilai Rp. 10.000,-. Di tanggal akad nikahnya
tertera tanggal yang persis sekali dengan tanggal lahirnya dan tahunnya sama.
Yang berbeda adalah bulannya. Pernikahan orang tuanya terselenggara dua bulan
sebelum bulan lahirnya. Gadis badung itu rupanya memiliki daya kritis
yang cukup tinggi. Ia merasa ada yang ganjil dan tidak beres dalam jati dirinya
yang sesungguhnya. Misteri apakah yang coba disembunyikan oleh kedua orang
tuanya jika bukan “dirinya adalah anak hasil dari hubungan terlarang alias
hamil duluan atau prasangka terburuknya adalah dia anak hasil perselingkuhan
yang kemudian diakui oleh Kartono sang penyelamat”.
Sementara itu Kartono tak pernah membayangkan anak
gadisnya yang paling menjengkelkan itu akan menanyakan hal itu. Di lain sisi
Fathonah tak pernah menyangka bahwa lelaki kesayangannya itu melakukan dosa
yang begitu besar kepada ibunya. Atau jangan-jangan mereka memang sama-sama
mau. Kalau begitu dirinya dilahirkan dari sebuah dosa dan godaan setan yang
terkutuk. Fathonah masih sedikit sanksi atas kecurigaannya itu. Kartono tak
tampak kebingungan menjawab pertanyaan keramat kedua si Onahnya. Atau jawaban
ini merupakan fiktif belaka, yaaa aku juga tidak tau.
Kartono pun dengan pandangan nanar dan tampak kosong
serta bola matanya yang tampak sedikit memerah dan kelopaknya yang mulai
berkerut mulai menjawab seolah ingatannya benar-benar berada pada tahun-tahun
awal keberadaan janin si Onah dalam rahim Karsih.
“Iya, Nah. Karena bapak tau kalau ibumu ada hubungan
dengan si Santo yaa bapak duluin saja ibumu. Lalu bapak menikahi Ibumu
setelah beberapa tahun sebelum itu -keberadaanmu terdekteksi bahkan tak
terpikir sama sekali- bapak membantu proses perceraian ibumu dengan bapaknya
mbakmu. Bapak yang jadi saksi di pengadilan agama.” Jawaban sangar dari Kartono
yang sedikit membuat Fathonah mendelik heran yang diblender bersama
jengkel kepada bapaknya.
“Bahkan dulu saat kau sudah lahir dan kita menempati
rumah yang dekat sungai itu ibumu masih sering minggat ke rumah nenekmu.
Kamu masih ingat dulu kakimu kena ruji sepeda onta yang dicat hijau itu
sampai berdarah dan diperban?”
Fathonah mengangguk sambil menimpali, “ini bekasnya
masih ada, pak.”
Kartono melanjutkan, “waktu itu ibumu marah-marah
dan purik dengan bapak. Entah apa masalahnya bapak lupa. Ternyata ada
beberapa orang memberitahu bapak kalau ibumu disana masih sering bertemu dengan
Santo.” Kartono sedikit menunduk sepertinya setelah kurang lebih 20 tahun memikul
beban berat itu dengan penuh ketabahan dan kesabaran, baru kali itu Kartono
berani mengisyaratkan bahwa ia keberatan.
“Bapak, kenapa bapak masih bertahan dengan ibu?
Kenapa dulu bapak tidak ceraikan ibu saja. Ibu sudah sedemikian jahat dengan
bapak, nenek, dan kakak?” Tanya Fathonah sedikit naik pitam dan serasa sesak
dadanya.
“Asal kau tau saja, Nah. Bapak dan ibumu sudah
hampir bubar berkali-kali, perkawinan bapak dan ibu sudah diujung tanduk. Bapak
biarkan saja dia bertingkah. Setelah bapak pikir-pikir, lha yo lha yo,
untuk apa aku ngenes karena masalah begini? Hidup itu, Nah, yang
terpenting cukup dan diparingi seger kewarasan, bisa momong anak cucu
sampai tua.” Dibarengi dengan senyum yang menyeringai penuh percaya diri bahwa
setidaknya Kartono merasa menang dari godaan-godaan hidup yang coba menguji
kesabarannya yang secara bertubi-tubi. Tak terlalu penting baginya sedalam apa luka
yang ditancapkan oleh Karsih kepadanya yang terpenting anak-anaknya tidak
mewarisi sifat menjijikkan ibunya.
Di akhir obrolan bapak dan anak itu Kartono sempat
mengutarakn isi hati sekaligus ketakutannya kepada Fathonah.
“Nah, justru bapak itu khawatir sama kamu.”
Kalimat itu membuat Fathonah sedikit melongo.
“Lhoh??? Khawatir kenapa to pak?”
“Bapak khawatir kau mewarisi laku –perilaku-
ibumu. Ketakutan dan kekhawatiran bapak yang lain adalah kau kelak yang akan
memanen apa yang dilakukan ibumu. Padahal kau tak tau apa-apa.”
Tanpa bertanya lagi Fathonah lekas memahami maksud
perkataan bapaknya. Kemudian karena hari semakin sore, Kartono bergegas
berjingkat dari sofa tepos itu meninggalkan Fathonah. Berbasa-basi bahwa
ia akan ke sawah mengambil luku –sejenis alat untuk membajak sawah-
kemudian lelaki yang kulitnya hitam pekat karena tersengat panas matahari
sepanjang pagi hingga petang ini meninggalkan ruang tamu.
Bergidik hatinya antara ketakutan bapaknya yang
seperti ditransfer pada dirinya sekaligus sangat kagum pada sosok lelaki yang
mulai detik itu resmi tidak dia ragukan lagi sebagai sebenar-benar bapaknya.
Lelaki tertulus yang pernah ia temui di dunia. Oleh karena itu, setiap kali ia
menilai kebaikan seorang laki-laki di luaran sana tolak ukurnya adalah
bapaknya. Pahlawan tebaiknya yang cinta mendalamnya tidak akan mampu
diungkapkan dengan seisi dunia. Sementara kepada ibunya Fathonah tetap bersikap
biasa, ia sudah mental dengan suara panggilan ibunya yang nyaring seperti orang
di tengah hutan segala kemarahan ibunya. Ia teringat wejangan bapaknya untuk
menghormati orang tua dan tidak membuat orang tuanya sakit hati. Demi bapaknya,
Fathonah berusaha memaafkan kelakuan ibunya yang telah menggoreskan luka abadi
di relung jiwa lelaki kesayangannya. Berusaha menerima ibunya sebagaimana
ibunya yang selalu memaafkan dia atas kesalahan yang berulang kali ia lakukan
serta selalu menerimanya saat ia dirundung ketidakberuntungan. Tapi, setiap
berbicara tentang lelaki yang bergelar “Bapak” hatinya seperti terkoyak dan
tidak pernah rela ada ayah baik hati di belahan bumi manapun yang tersakiti.
“Disaat seorang ibu selalu mengkhawatirkan
anaknya yang akan menempuh perjalanan jauh meraih mimpi maka, saat itulah
seorang ayah akan berkata, “Jangan takut, Nak. Kau Bisa, kau anak kuat.” -Debby
Pratiwi-

MasyaaAllah keren yah karya debby #sukakkk
BalasHapusTulisan kacangan nggi. Malu aku, masih belajar
Hapus