Jum'at, 13 Maret 2015
Hari
yang tak pernah ku sangka-sangka sebelumnya. Hari yang menjadi catatan
merah muda untukku. Hari yang penuh debaran dan semangat.
Karena dia...
Dia
yang belakangan ini mewarnai secuil kisah hidupku. Yang sketsa
wajahnya mirip seperti gambar-gambar lukisan kecilku. Yang memakai
kaos polos hitam panjang dan celana pendek warna merah, kaos kaki hitam,
sepatu ball warna merah juga. Dengan kacamata yang menghiasi wajahnya
yang bisa dibilang lumayan tampan dan imut.
Ohhh... Aku pikir dia urung datang ke lapangan futsal untuk membantu timku Psikologi
melawan tim Hukum. Rupanya ia datang setelah beberapa jam sebelumnya dia
sempat mengobrol denganku di bbm. Sayangnya, setiap ada moment yang
mempertemukan kita tak ada satu di antara kita yang saling tegur sapa.
Begitupun beberapa hari lalu saat aku buru-buru menghindar karena
berhadapan dengannya ketika melihat pameran Arsitektur. Yaaa,, meskipun
ada lukisan yang membatasi dan kurasa dia tak menyadari bahwa mataku
bertemu dengannya. Ketika ku tanya lewat bbm mengapa ia tak
menyapaku alasannya karena tidak melihatku. Hmmm entahlah, dia
sangat misterius.
Termasuk saat kita dipertemukan di lapangan
futsal sore itu. Ku rasa secara sadar ia pasti melihatku. Aku yang pada
dasarnya rame dan setiap kali menjadi supporter selalu heboh sendiri
sore itu meramaikan lapangan dengan teman-temanku. Aku berteriak sekuat tenaga
untuk timku. Namun, gawang timku kebobolan. Ketika si Black Red itu
masuk ke lapangan untuk menggantikan pemain yang ditarik keluar.
Teriakanku semakin kencang saja begitu dia mulai memainkan bola. Bahkan
aku sempat meneriakkan namanya agar dia lebih semangat. Namun, lagi-lagi
kemenangan belum berpihak pada tim kita. Gawang tim kita sudah
kebobolan 2 gol yang akhirnya dibalas 1 gol oleh tim ku. Tapi, dia
yang rela melepas kacamatanya demi membantu timku harus ditarik keluar
dan digantikan oleh pemain lain. Padahal menurutku permainannya cukup
bagus (dibanding aku). -Yaa Iyalaah orag aku gak bisa main bola, cuma
bisa oper mengoper.-
Tak lama setelah itu gawang timku kembali
kebobolan hingga hasil akhir 3-1. Tak apalah setidaknya hari itu aku
berteriak tak sia-sia. Karena dia yang mengalihkan hariku. Kerasnya
teriakanku pada sore itu sebenarnya untuk dia...
Malam harinya...
Baru
saja terlintas di pikiranku aku ingin memulai obrolan di bbm dengannya
untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk tim futsalku, tapi sudah keduluan dia chat aku yang isinya permintaan maaf karena tak
bisa memenangkan pertandingan. "Sorry kalah". Hahahaha tuh
orang, memang. Akupun membalas dengan nada santai membesarkan hatinya
sekaligus mengundang dia untuk makan malam bersama dengan tim futsal
semuanya. Tetapi, sayang sekali dia tak bisa datang karena ada janji mau
mengisi acara band, padahal aku sudah bilang bahwa yang masak aku dan
teman-temanku. Siapa tau dia bakal kepincut denganku gara-gara mencicipi
masakanku atau sekedar memberikan pujian untuk masakanku. Ternyata ....
Ahh... tak apalah.
Dan taukah engkau,,,
bukan
hanya malam itu dia memulai obrolan dengan aku ketika aku sudah berpikir mau mulai obrolan duluan. Hal yang sama pernah terjadi ketika baru pertama kali aku
berteman di FB dengan dia. Awalnya aku mau mulai obrolan lewat inbox pribadi
rupanya hampir saja aku selesai mengetik salam ada pemberitahuan bahwa
nama akun FBnya mengomentari statusku. Siapa yang gak seneng coba???!!!
Mungkin memang sudah ada cheymistry sejak awal .. :p
Aku suka dunianya yang begitu asyik...
Dia
hampir sama dengan Pangeran Ilusiku. Sama-sama berkacamata, sama-sama
suka anime, sama-sama suka ngegames, religius juga. Prinsip menuntut
ilmunya juga sama. Gak butuh nilai bagus yang penting dapat Ilmu. Dan
ada hal yang membuatnya berbeda dari Pangeran Ilusi.
Dia sangat
asyik dan humble meskipun baru mengenal. Suka musik dan bola. -Mungkin
Pangeran Ilusi juga suka tetapi, ia terlalu idealis untukku.- Dia suka
awan dan bintang. Dan cara dia mengungkapkan kesukaannya itu sangat
kusuka. Seolah dia seperti pujangga. Alasan dia suka awan katanya awan
bisa melukiskan berbagai macam bentuk dan itu merupakan kekayaan seni.
Dia suka bintang tetapi, tak mau bila hanya melihat satu bintang. Karena
katanya bila hanya ada satu bintang maka keindahannya takkan nampak.
Sedang aku suka gerimis... Alasanku masih tetap, karena gerimis lebih
romantis dari hujan. Gerimis juga sebagai penghubung antara langit dan
bumi. Dan aku selalu tenang ketika gerimis datang. Sejuknya, ritmenya,
ia juga tak menakutkan seperti hujan bukan?!
Semenjak itu...
Bukan
semenjak itu lagi, tapi sejak sebelum itu. Aku sering mengintip dia dari
balik pintu kaca kelas. Itupun hanya bila kebetulan aku tau kelasnya
dimana. Entah apa dia tau atau tidak. Mungkin ini lucu baginya. Aku
mulai semangat setiap kali berangkat kuliah tapi, aku juga selalu
bingung dan berusaha menghindar setiap kali bertemu atau berpapasan
dengan dia. Entah kapan dia menyapaku duluan yang jelas aku juga belum
berani menyapanya. Pernah kita janjian untuk bertemu karena dia mau
minta film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" tapi,
selalu saja ada aral melintang yang menghalanginya. Karena dia keburu
pulang dan karena laptopnya rusak. Ahhhh... tak apalah. Jika menurut
Allah baik, semoga di ujung penantianku nanti Allah meng-indah-kan
pertemuan kita.
"Mungkin ini telat bagiku tapi,
mungkin Allah sengaja mengatur sedemikian rupa untukku. Karena waktuku
untuk bisa mengharapkan pertemuan dengannya tinggal satu tahun tak
sampai mungkin... Disitulah kadang mulai pupus anganku. Tapi, aku
percaya pada sebaik-baik rencana Allah."
ditulis di : https://www.facebook.com/notes/620786471389749/ pada Jum'at, 19 Maret 2015 pukul 2:14
Sepenggal curhatan dan isi hati yang terpendam untuk "Matahari Hati"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar