SEBUAH EPISODE DALAM HIDUP
Oleh: Ibed
![]() |
| @debbypratiwi_12 |
...........Ramadhan 1437 H
Di ramadhan tahun lalu aku masih ingat betul ada yang pernah
menjadi candu kehadirannya dan ketiadaannya menjadikanku sakau. Seperti ada
yang hilang dan membuatku cemas seketika itu. Namun, seperti mendapatkan
kejutan spesial juga tatkala namanya muncul dalam deretan chattingan di BBMku.
Seperti ada yang membuncah yang menjadi alasan riang dan merahnya raut muka
hamba yang sedang menahan lapar, haus, dahaga, dan hasrat. Ia merasa berbuka
seketika itu. Yaa, berbuka hatinya lantaran ada yang mengembangkan, dan itu
lagi-lagi adalah perasaan. Layaknya sebuah tumbuhan yang berbunga dan mekar.
Bisa dibayangkan indahnya dan bahagianya yang menanam bibit.
Itu adalah tentang dia. Dia yang pernah kuanggap nyaris mirip
dengan sketsa seseorang impianku. Dia berkacamata, suka membaca, mempunyai
dunia sendiri, suka anime, dan bahkan lebih asyik dan humble dari Pangeran
impianku. Lelaki berdunia asyik, aku menyebutnya.
Sejak awal mengenal dan Tuhan memberi kesempatan untuk dekat
sebentar dengan dia, ada ketakutan luar biasa yang semakin aku takut semakin aku
berani menaruh harapan padanya. Ketakutan itu bernama ‘jatuh cinta’. Karena aku
tau aku dan dia tidak mungkin menjadi ‘kita’. Aku dan dia hanyalah sekedar adik
tingkat dan kakak tingkat. Dan mana mungkin toh, superstar sepertinya mau
dengan gadis udik tanpa bedak sepertiku. Tentu sangat bertolak belakang dengan
dunianya yang penuh hingar bingar, bukan?
Semenjak pernah putus asa akan yang namanya cinta aku memang
lebih selektif dalam menjalin kedekatan dengan siapapun. Aku takut mencintai.
Aku takut berharap. Dan aku sangat takut bila harus patah hati lagi. Terlalu
sakit jatuh cinta sendirian, tanpa ada
balasannya. Terlalu sakit pernah setia namun, ditinggalkan. Terlalu sakit dan
maaf aku belum sanggup bila harus menelan pil pahit yang bernama patah hati.
Namun, rupanya ketakutan itu justru terjadi. Dengan mudah ia
membawa hati ini mengalir. Setiap hari selalu ada kekaguman-kekaguman yang
dibuatnya. Sikapnya tanpa sengaja membuatku jatuh hati. Walau akhirnya bukan
dia lelaki yang kucari dan bukan aku pelabuhan hatinya. Aku hanya tempatnya
bermain dan singgah sebentar. Ini mungkin terlalu lucu untuknya tapi bagiku,
rasa tak sebercanda itu.
Aku tak bisa menyangkal bahwa dia hadir pada saat yang tepat.
Pada saat hati ini memang benar-benar membutuhkan sosok yang bisa menopangnya.
Saat aku memang dirundung badai yang bertubi-tubi. Dia hadir menemaniku
menghadapi badai-badai itu. Ibarat kata dia mengobati luka bekas cambukan.
Pun saat bulan suci tahun lalu. Ada yang menanyai apakah aku
sudah sholat terawih, berbuka, sahur. Ada pula yang menjanjikan akan mengimami
sholatku. Ahhh ini membuatku merinding. Ada yang saat aku perjalanan pulang
tiba-tiba pesannya masuk, “yang lagi perjalanan pulang, selamat berbuka!” Dan
orang itu masih dia, lelaki berdunia asyik...
Ia menyulap dirinya menjadi sosok yang berharga ketika itu. Hingga
di tengah laparnya berpuasa aku berhasil merangkai sebuah puisi agak sedikit
melankolis yang kutujukan untuk dia. Sengaja memang aku menulis untuk dia
sebagai hadiah sekaligus kenang-kenangan. Karena mungkin mulai saat itu akan
berhenti untuk menaruh harapan pada seseorang, termasuk dia. Lelah juga
akhirnya jatuh cinta sendirian tanpa ada harapan yang jelas dan pasti karena
mungkin memang bukanlah aku yang diinginkan. Dan beberapa saat setelah itu dia
menghadiahi aku sebuah alunan nada tanpa syair. Aku memang pernah meminta untuk
dibuatkan nada dan aku yang membuat syairnya untuk kemudian dijadikan sebuah
lagu.
Aku mengirimkan puisi itu bukan begitu saja. Saat dia mudik
ke kampung halamannya yang kebetulan tetangga kabupaten denganku. Aku meminta
dia untuk memutar sebuah channel radio kesayanganku sejak SMK, Gita FM.
Biasanya ada sebuah acara untuk berkirim salam, berpuisi, dan curhat. Nah,
diacara puisi itu aku mengirimkan puisiku untuk dia. Namun, ahh sialnya di
kampungnya tidak ada signal radio Gita FM. Akhirnya aku kirimkan via email
saja. Entah dibaca entah tidak. Aku belajar untuk bersikap bodoh. Setidaknya
aku sudah berjuang.
Semenjak itu kami jarang menjalin komunikasi, apalagi setelah
aku tau ia menaruh hati pada teman sekelasnya yang itu adalah teman baikku. Kalaupun
kami berkomunikasi itu hanya masalah kuliah. Sekedar mengingatkan tugas
akhirnya, tugas di kampus, dan hanya candaan kecil yang sering diabaikan
olehnya.
...............Ramadhan 1438 H
Hal itu tentu sangat berbeda dengan yang saat ini kujalani.
Hari-hari yang nyaris jarang melibatkan hati kalaupun melibatkan hati itu hanya
karena suasana hati yang mudah berganti. Ramadhan serasa menjadi jomblo
sejomblo-jomblonya. Jomblo fii sabilillah, insyaa Allah. Tak ada lagi
yang hadirnya kutunggu maupun menjadi candu. Tak ada yang kuingatkan untuk
menyelesaikan tugas akhirnya. Tidak ada yang memanggilku ‘mama’ karena katanya
kalau mengingatkan tugas akhir seperti emak-emak. Ketika aku mudik nanti tak
ada yang mengucapkan selamat berbuka. Tak ada lagi seseorang yang kupaksa
mendengarkan radio hanya untuk mendengar salam dariku. Tak ada teman chat saat
sahur. Tidak ada... Tidak ada... Dan kini ada perempuan lain yang ia buat
berbunga-bunga saat ramadhan. Ia bangunkan sahur, ia ucapkan selamat berbuka,
ia tanya apakah sudah terawih apa belum, dan mungkin ia janjikan untuk diimami
sholat lagi.
Dan satu lagi... aku dan dia tidak mungkin menyaksikan
gerhana bulan 35 tahun lagi.
Dan inilah roda kehidupan yang selalu berputar. Aku mungkin
adalah salah satu korban dari perputaran roda itu. Ada kalanya di atas
adakalanya aku di bawah.
Hidup adalah sebuah episode tentang ‘datang
dan pergi’, tentang ‘hilang dan menemukan’, tentang ‘meninggalkan dan mengisi’,
dan tentang kamu yang masih menjadi ‘misteri’.
Kamu. Iya, kamu. Yang benar-benar digariskan untuk menemaniku
mencintai. Menemaniku menghabiskan kontrakku di dunia. Kamu. Kamu yang kan
menjadi pelabuhan hati ini dan penemuan dari pencarian panjangku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar