Dialah adikku, malaikat kecil di tengah-tengah
keluarga kami. Yang dulu semasa ia masih umur beberapa bulan di dalam kandungan
ibu banyak yang tak menginginkan kehadirannnya. Termasuk aku. Tetapi, ketika
pertama kali ia dilahirkan entah mengapa aku sangat bahagia. Dia sangat cantik,
lucu, pandai, dan sangat rajin.
Semenjak dia dilahirkan ke dunia aku merasa
bahwa duniaku telah berbeda. Aku tak lagi sendiri. Aku punya saudara sedarah
seayah-seibu. Aku memiliki sahabat kecil. Memang aku tak berkesempatan melihat
dan mendengar tangisan pertamanya karena pada saat ibu kesakitan dengan penuh
kecemasan aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di kelas 8A. Sejak
itu aku memiliki aktivitas yang baru. Belajar merawatnya, memandikannya yang
tulangnya masih sangat rentan, menggendongnya dan menjemurnya di bawah sinar
matahari yang membawa vitamin D setiap pagi, menyuapinya, hingga menidurkannya.
Dia tumbuh menjadi bayi yang begitu lucu dan
menggemaskan bagi siapapun yang melihatnya. Sangat jauh berbeda sekali parasnya
denganku. Dia sangat cantik dan putih kulitnya, sedangkan aku berkulit
kecoklatan. Rambutnya sejak masih kecil selalu berkuncir banyak. Hal yang
membuat ia selalu tampil berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri.
Nama, sengaja aku membuat inisial nama adikku
sama dengan inisial namaku, D P. “Dista Pratista”. Sejak kecil orang-orang
memanggilnya ‘Entis’ tapi, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama ‘Tista’. Sejak ia mulai lincah berbicara, tepatnya.
Setiap kali dia tak ada hidupku terasa begitu
sepi dan hampa, tiada yang usil yang selalu menggangguku. Tiada yang
memanggilku mbak bi mbak bi. Tiada yang mendobrak tidur nyenyakku. Ahh..
dia sangat spesial lebih dari apapun.
Saat aku jauh dan sedang sakit aku juga sangat
rindu akan perhatiannya. Dia yang membelikan aku obat, menyiapkan, memijatku,
mengambilkan makanan sampai menyuapi aku. Seumur hidup aku belum pernah
merasakan diperlakukan begitu istimewa kecuali oleh Bapak dan Ibu namun, dia
seperti malaikat yang benar-benar menampakkan diri.
Namun, ketika dia sakit aku tak dapat
melakukan apapun. Demam tinggi yang menjadi penyakit langganannya seringkali
meresahkan kami. Pernah suatu ketika tengah malam Ibu dan Bapak membawanya ke Puskesmas karena demamnya
yang tinggi dan dia hanya terlihat lemas. Bahkan hampir tiada. Tapi, ahhh cukup
sekali itu saja jangan sampai dia benar-benar meninggalkan aku. Apa jadinya
kehidupan kami tanpa dia, sang pelipur lara...
-Bersambung-
*DeAnhl*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar