animasi-bergerak-selamat-datang-0014

Kamis, 22 Oktober 2015

Malaikat Pelipur Lara (1)

Dialah adikku, malaikat kecil di tengah-tengah keluarga kami. Yang dulu semasa ia masih umur beberapa bulan di dalam kandungan ibu banyak yang tak menginginkan kehadirannnya. Termasuk aku. Tetapi, ketika pertama kali ia dilahirkan entah mengapa aku sangat bahagia. Dia sangat cantik, lucu, pandai, dan sangat rajin. 
Semenjak dia dilahirkan ke dunia aku merasa bahwa duniaku telah berbeda. Aku tak lagi sendiri. Aku punya saudara sedarah seayah-seibu. Aku memiliki sahabat kecil. Memang aku tak berkesempatan melihat dan mendengar tangisan pertamanya karena pada saat ibu kesakitan dengan penuh kecemasan aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di kelas 8A. Sejak itu aku memiliki aktivitas yang baru. Belajar merawatnya, memandikannya yang tulangnya masih sangat rentan, menggendongnya dan menjemurnya di bawah sinar matahari yang membawa vitamin D setiap pagi, menyuapinya, hingga menidurkannya.
Dia tumbuh menjadi bayi yang begitu lucu dan menggemaskan bagi siapapun yang melihatnya. Sangat jauh berbeda sekali parasnya denganku. Dia sangat cantik dan putih kulitnya, sedangkan aku berkulit kecoklatan. Rambutnya sejak masih kecil selalu berkuncir banyak. Hal yang membuat ia selalu tampil berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri.
Nama, sengaja aku membuat inisial nama adikku sama dengan inisial namaku, D P. “Dista Pratista”. Sejak kecil orang-orang memanggilnya

‘Entis’ tapi, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama ‘Tista’. Sejak ia mulai lincah berbicara, tepatnya.
Setiap kali dia tak ada hidupku terasa begitu sepi dan hampa, tiada yang usil yang selalu menggangguku. Tiada yang memanggilku mbak bi mbak bi.  Tiada yang mendobrak tidur nyenyakku. Ahh.. dia sangat spesial lebih dari apapun.
Saat aku jauh dan sedang sakit aku juga sangat rindu akan perhatiannya. Dia yang membelikan aku obat, menyiapkan, memijatku, mengambilkan makanan sampai menyuapi aku. Seumur hidup aku belum pernah merasakan diperlakukan begitu istimewa kecuali oleh Bapak dan Ibu namun, dia seperti malaikat yang benar-benar menampakkan diri.
Namun, ketika dia sakit aku tak dapat melakukan apapun. Demam tinggi yang menjadi penyakit langganannya seringkali meresahkan kami. Pernah suatu ketika tengah malam Ibu dan  Bapak membawanya ke Puskesmas karena demamnya yang tinggi dan dia hanya terlihat lemas. Bahkan hampir tiada. Tapi, ahhh cukup sekali itu saja jangan sampai dia benar-benar meninggalkan aku. Apa jadinya kehidupan kami tanpa dia, sang pelipur lara...
-Bersambung-


*DeAnhl*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar